Selasa, 22 Oktober 2019


Rimau Gerga Lebong makin Diminati Konsumen

02 Jan 2019, 11:08 WIBEditor : Gesha

Jeruk RGL dari Bengkulu semakin diminati konsumen di dalam negeri | Sumber Foto:HUMAS HORTIKULTURA

Buah ini disukai oleh konsumen adalah perpaduan rasa asam manisnya.

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Bengkulu ---- Komoditas hortikultua andalan dari Bengkulu adalah jeruk keprok jenis Rimau Gerga Lebong (RGL). Dengan keunggulan yang berbeda dari keprok lainnya, RGL semakin diminati oleh konsumen.

Menurut sejarahnya, Jeruk keprok Rimau Gerga Lebong (RGL) berasal dari Israel, lewat Thailand. Jeruk ini ditanam di tanah Brastagi, Kabupaten Karo Sumatera Utara dan kemudian dibawa dan ditanam oleh Gerga, petani asal Lebong Bengkulu. 

Jeruk RGL merupakan salah satu komoditas potensial desa Rimbo Pengadang, kecamatan Rimbo Pengadang, kabupaten Lebong karena mampu meningkatkan penghasilan masyarakat.

Warna khas buah ini kuning dan rasanya yang manis segar. Kandungan airnya tinggi dan mencapai 300 gram per buah menjadikan jeruk ini sangat potensial untuk dikembangkan. 

Kepala Bidang Hortikultura Dinas Pertanian Provinsi Bengkulu, Oni Aryani menyampaikan bahwa pengembangan jeruk RGL tersebar di beberapa Kabupaten di Bengkulu seperti Lebong, Kepahiang dan Rejang Lebong. 

"Karena keunggulan yang dimiliki buah ini menyebabkan semakin banyak masyarakat yang mengembangkan jeruk jenis keprok yang telah resmi dilepas oleh Menteri Pertanian pada bulan Mei tahun 2012 yang lalu ini", jelasnya.

Saat ini pengembangan jeruk RGL meluas hingga kabupaten Kaur, Bengkulu Utara dan Bengkulu Tengah.

BPS menyebutkan, pada 2017 tercatat produksi jeruk di provinsi Bengkulu mencapai 4.683 ton. 

"Jeruk ini dapat dipanen sepanjang tahun. Jika dipelihara dengan baik, dalam satu pohon mampu menghasilkan buah sebanyak 100-150 kg/tahunnya. Selain dijual ke pasar tradisional, juga telah mulai masuk ke outlet-otlet buah dan pasar modern", ujar wanita yang biasa dipanggil Oni ini.

Corporate Head Operasional PT. Laris Manis Utama, Ahmad Rifai saat berkunjung ke kantor Direktorat Jenderal Hortikultura menjelaskan bahwa saat ini perusahaannya memulai memasarkan jeruk ini ke berbagai outlet dan swalayan modern seperti Frestive Kemang Raya, Fruit Gajah Mada, Duta Buah dan toko modern lainnya di Jakarta.

"Kami mulai memperkenalkan jeruk lokal yang memiliki keunggulan yang mirip dengan Kino Pakistan dan RGL ini salah satunya. Respon pasar lumayan bagus", jelasnya.

Dirinya meyakinkan hal yang menyebabkan buah ini disukai oleh konsumen adalah perpaduan rasa asam manisnya.

"Juicy-nya dapet dan ukuran buah lumayan besar. Namun terdapat beberapa hal yang harus diperbaiki diantaranya adalah mutu buahnya terutama warna kulit buahnya yang kuningnya terkadang tidak merata", tambah Rifai.

Karena itu, Rifai berharap pemerintah dapat membantu petani jeruk RGL agar mampu menghasilkan buah jeruk bermutu sesuai yang diinginkan pasar.

Informasi ini disambut baik oleh Direktur Buah dan Florikultura, Sarwo Edhy.

Di ruang kerjanya Sarwo menjelaskan bahwa Kementan saat ini fokus dalam pengembangan buah-buahan dan komoditas jeruk masih menjadi fokus utama yang menjadi perhatian. 

"RGL yang berasal dari Bengkulu ini merupakan salah satu jeruk unggulan nasional yang berwarna orange selain Siem Madu Karo, Siem Gunung Omeh, Keprok Batu 55, Kepork SoE, Siompu, Borneo Prima dan DN Sabilulungan. Jeruk-jeruk seperti ini akan fokus kita kembangkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan sebagai subtitusi impor", jelasnya.

Sampai saat ini Kementan telah mengembangkan kawasan jeruk seluas 18.000 Hektar yang tersebar di berbagai sentra produksi dan Provinsi Bengkulu salah satunya.

"Sampai 2018 telah dikembangkan kawasan jeruk seluas 746 Hektar yang tersebar di Kabupaten Lebong, Kepahiang, Bengkulu Utara, Bengkulu Selatan, Kota Bengkulu dan Bengkulu Tengah, dan pada tahun ini akan kita perluas 195 Hektar lagi", tambahnya.

Dirinya menjelaskan bahwa komoditas unggulan Bengkulu ini dapat tumbuh baik di dataran medium antara 400-900 mdpl.

Dengan ketinggian seperti ini maka buah ini berpotensi untuk dikembangkan di daerah lain seperti di Lampung, Garut dan Malang

Selain memfasilitasi pengembangan kawasan, Kementan juga akan fokus dalam melakukan pendampingan komoditas buah strategis ini.

Ditjen Hortikultura bersama dengan Badan Litbang akan bersama-sama melakukan pendampingan terhadap petani dalam melakukan budidaya jeruk.

"Teknologi yang dihasilkan oleh Balitjestro dapat kita jadikan sebagai bahan untuk melakukan sosialisasi dan pendampingan ke daerah. Diharapkan kedepan sentra-sentra jeruk akan mampu menghasilkan jeruk bermutu dan mampu bersaing dengan jeruk impor," tutup Sarwo dengan nada optimis.



Reporter : Dina Rosita
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018