
Samsuri, petani Tebu Putukrejo sudah merasakan manfaat bongkar ratoon
TABLOIDSINARTANI.COM, Malang -- Semangat swasembada menggema, petani Putukrejo kompak all out sukseskan program bongkar ratoon tebu demi peningkatan produksi 2026.
Semangat swasembada pangan kembali menggema di Desa Putukrejo, Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang.
Puluhan petani yang tergabung dalam Kelompok Tani (Poktan) dan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) kompak menyatukan langkah untuk menyukseskan program bongkar ratoon tebu yang tengah digencarkan pemerintah.
Pertemuan yang digelar di Balai Desa Putukrejo, Senin (4/5/2026), menjadi momentum penting untuk memperkuat soliditas antarpetani sekaligus merumuskan strategi percepatan pelaksanaan program tersebut.
Diketahui, sekitar 70 persen lahan pertanian di desa ini didominasi oleh perkebunan tebu, menjadikan program bongkar ratoon sebagai prioritas utama.
Sekretaris Desa Putukrejo, Athok, dalam sambutannya menegaskan pentingnya kekompakan seluruh elemen pertanian.
Ia menyebut soliditas bukan sekadar slogan, melainkan prasyarat mutlak dalam setiap gerak pembangunan pertanian.
“Soliditas harus terbangun di semua lini, baik di dalam poktan, antar poktan, hingga sinergi dengan gapoktan dan pemerintah desa. Ini kunci keberhasilan program,” ujarnya.
Antusiasme juga datang dari kalangan petani milenial. Agus Wiono, Ketua Poktan Taruna Bakti sekaligus alumni program Youth Entrepreneurship and Employment Support Services (YESS), menyampaikan optimisme tinggi terhadap capaian tahun ini.
“Poktan kami mengusulkan 16 hektare untuk bongkar ratoon tebu tahun ini, meningkat dua kali lipat dari tahun lalu. Sementara total potensi lahan tebu kami berdasarkan ERDKK 2026 mencapai 99 hektare. Kami juga terus bergerak menambah CPCL di sisa waktu yang ada,” kata Agus.
Diskusi berlangsung dinamis. Setiap perwakilan poktan diberikan ruang untuk menyampaikan pendapat, mulai dari potensi, kendala hingga solusi di lapangan.
Kesetaraan dalam forum menjadi kekuatan tersendiri dalam merumuskan langkah bersama.
Petani senior, Samsuri, turut membagikan pengalamannya.
Ia mengaku merasakan langsung manfaat program bongkar ratoon pada tahun sebelumnya.
“Tahun lalu saya ikut program ini dan hasilnya sangat membantu. Tahun ini saya ikut mengajak petani lain, sudah terkumpul sekitar 10 hektare,” ungkapnya.
Hal serupa disampaikan Suriyadi, petani asal Dusun Alasteledek. Ia berharap program tahun 2026 dapat berjalan lebih optimal dibanding tahun sebelumnya.
“Saya dapat manfaat dari program 2025, termasuk tambahan HOK. Harapannya tahun ini lebih sukses dan lebih maju,” ujarnya.
Menutup kegiatan, Koordinator Penyuluh Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Kalipare menekankan pentingnya transformasi kelembagaan petani.
Ia mendorong poktan dan gapoktan tidak hanya menjadi wadah sosial, tetapi juga berkembang menjadi lembaga ekonomi yang kuat dan adaptif.
“Kelompok tani harus naik kelas, bukan sekadar penonton. Jika ada program pemerintah yang sesuai potensi, harus dioptimalkan. Ini butuh perencanaan matang dan tujuan besar,” tegasnya.
Dengan semangat kebersamaan yang kian menguat, petani Putukrejo optimistis program bongkar ratoon tebu 2026 dapat berjalan maksimal dan berkontribusi nyata terhadap swasembada gula nasional.