Sunday, 24 October 2021


Kentang dan Gaya Hidup

25 Sep 2021, 13:55 WIBEditor : Yulianto

Kentang menjadi sumber kabohodrat penggantin nasi | Sumber Foto:Sok. Sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Kentang sebagai sumber karbohidrat yang kaya gizi sudah dikonsumsi sebagai makanan pokok oleh sebagian kelompok masyarakat ekonomi menengah ke atas di negeri ini.  Konsumsi umbi istimewa ini menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat kota dan kaum milenial, dan biasanya disantap dengan steak, ayam panggang atau masakan sejenis seperti di Eropa dan Amerika. Kentang disajikan dalam bentuk kentang panggang, kentang goreng atau kentang gilling yang disebut mashed potato.

Memed Gunawan

Menurut data BPS produksi kentang nasional sampai saat ini masih kecil, sekitar 1,16 juta ton. Ketersediaan kentang di dalam negeri secara rata-rata adalah 5 kg per kapita per tahun (2019), dan konsumsinya 2,5 kg per kapita per tahun (2020). Jadi prospeknya sebagai bahan makanan pokok berbeda dengan jagung, singkong dan sagu yang konsumsinya sudah meluas di berbagai kalangan masyarakat.

Bagi sebagian besar masyarakat, kentang merupakan sayur yang dimasak menjadi perkedel, sup, sambal goreng, campuran semur, gado-gado, atau masakan lainnya yang kemudian dimakan dengan nasi. Jenis kentang industri diproses oleh industri pengolahan menjadi kentang beku siap masak atau menjadi keripik, donat, dan bolu untuk makanan nyamikan atau snack.

Menurut Prof. Dr. Ir. Suharsono, pakar dan pemulia kentang dari IPB University, produktivitas kentang di Amerika bisa mencapai 50 ton per hektare, sementara di Asia secara rata-rata 20 ton per hektare dan di Indonesia 19,3 ton per hektare. Biaya produksi kentang memang tinggi. Untuk bibit saja, yang biasanya mencapai 2 ton per hektare memerlukan dana sekitar Rp 30-40 juta. Ini merupakan 40 persen dari total biaya produksi. Walaupun keuntungannya juga tinggi, tetapi dibayangi resiko yang tinggi pula sehingga tanaman kentang memerlukan pemeliharaan ekstra.

Sebagai pengganti nasi, kentang itu sehat dan enak, apalagi biasanya diolahnya tidak lepas dari daging, keju dan mentega sebagaimana sajian dan menu di negara asalnya. Jauh dari pertemanan dengan sambal, ikan asin, ikan teri atau kerupuk.  Masuk akal jika sasaran utama promosi kentang sebagai makanan pokok adalah masyarakat kelompok ekonomi menengah ke atas. 

Kentang industri berkualitas tinggi, benih dan olahannya masih banyak diimpor. Untuk diketahui, menurut Muhammad Khudori, pengusaha kentang cukup ternama, kentang industri produksi petani 90 persen sudah dibeli melalui kontrak, sehingga di pasaran tidak banyak beredar. Kentang kualitas tinggi dan sebagian dengan kualitas khusus, seperti rendah kalori atau rendah GI (Glycaemic Index) khusus untuk penderita diabetes hampir semuanya produk impor.

Melihat semua ini, diversifikasi pangan pokok dari nasi ke kentang memang sasarannya pada masyarakat kalangan ekonomi menengah-atas. Harga kentang masih tinggi, kentang sayur saja yang paling murah, harganya di supermarket mencapai dua kali harga beras premium, atau 3 kali beras kualitas sedang. Harga tinggi dan produktivitas tinggi ini tentu saja peluang bagi petani untuk memproduksi kentang. Soal apakah petaninya mengonsumsi kentang sebagai makanan pokok? Bisa saja mereka seperti petani padi Basmati di Pakistan yang tetap memilih paratha dan roti yang terbuat dari gandum yang relatif murah, karena beras Basmati mereka jual dengan harga tinggi.

 

 

Reporter : Memed Gunawan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018