Jika pada tanaman padi dikenal dengan sistem tanam jajar legowo (jarwo), di tebu ada teknologi juring ganda yang prinsipnya adalah penataan tanaman dalam barisan sedemikian rupa sehingga populasi tanaman meningkat, dan memberikan tata ruang dan lingkungan tumbuh yang memungkinkan tanaman untuk tumbuh dan berkembang secara optimal. Peningkatan populasi tanaman dapat mencapai 40-45 persen dibandingkan dengan teknik tanam konvensional yang dilakukan sebelumnya (juring tunggal).
Dengan meningkatnya populasi tanaman dan lingkungan tumbuh yang lebih baik diharapkan dapat meningkatnya produktivitas tebu yang lebih tinggi. Hasil penelitian di Kebun Percobaan Muktiharjo Pati, Jawa Tengah membuktikan, sistem juring ganda mampu meningkatkan produktivitas tebu antara 30-60 persen. Jika produktivitas tebu sebelumnya hanya mampu menghasilkan 70-90 ton/ha, kini setelah menerapkan teknologi juring ganda produksinya bisa mencapai 135-150 ton/ha.
Secara teknis sistem juring ganda tidak berbeda dengan juring tunggal, yang membedakan adalah adanya perbedaan jarak tanam dan modifikasi letak alur/barisan tanaman. Pada sistem juring ganda alur/barisan tebu atau jarak pusat ke pusat (PKP) dalam barisan lebih rapat (50 cm), jarak PKP antar barisan lebih lebar (185 cm). Sedangkan pada sistem juring tunggal jarak PKP (100-135 cm).
Keunggulan Sistem Tanam Juring Ganda
Prinsip teknologi juring ganda adalah meningkatkan populasi tanaman dengan cara mengatur jarak tanam tebu dengan pola beberapa barisan. Salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman adalah jarak tanam. Jarak tanam yang rapat mengakibatkan persaingan antar individu tanaman untuk mendapatkan sinar matahari, air, dan faktor tumbuh lainnya.
Banyak keuntungan didapatkan dengan menerapkan teknologi juring ganda. Adanya ruang yang cukup lebar memberikan tanaman memanen radiasi matahari lebih efisien dan maksimal, karena jarak tanam yang lebar 50 x 135 cm dengan jarak dari pucuk tebu ke pucuk tebu 185 cm. Sinar matahari adalah sumber energi utama bagi tanaman dalam melangsungkan proses fotosintesis, sehingga peluang memproduksi asimilat lebih tinggi. Hal tersebut berdampak terhadap peningkatan pertumbuhan dan perkembangan tanaman.
Dengan sistem juring ganda, sirkulasi udara cukup baik akan membantu dalam penyediaan oksigen yang dibutuhkan oleh tanaman maupun mikrobia tanah. Ruang yang cukup terbuka menyebabkan sinar matahari yang masuk dalam area pertanaman cukup banyak demikian pula sirkulasi udara yang cukup baik menyebabkan kelembaban terjaga pada kondisi ideal bagi tanaman, serta dapat menekan atau mengurangi insiden serangan penyakit yang disebabkan oleh fungi atau jamur.
Sistem juring ganda memposisikan semua tanaman menjadi tanaman pinggir, sehingga peluang mendapat asupan hara cukup merata. Selain itu dalam pemeliharaan tanaman lebih mudah, penyulaman jauh lebih sedikit karena dalam sistem juring ganda ini bibit ditanam dengan sistem over lap (50%) atau untuk lawang. Penyiangan dan pengendalian gulma lebih mudah dilakukan, selain itu jika ada hama penyakit dapat dengan mudah ditanggulangi.
Keuntungan lain yang diperoleh dengan tanam juring ganda adalah adanya peluang memanfaatkan sela di antara PKP untuk tanaman lain dengan pendekatan sistem pertanaman ganda. Namun demikian dalam memilih tanaman sela harus mempertimbangkan berbagai hal, antara lain tanaman umur muda, struktur kanopi lebih rendah dibanding tanaman tebu, diusahakan bukan tanaman yang rakus hara tetapi tanaman yang dapat mensuplai hara (tanaman legum), dan bukan tanaman inang bagi hama dan penyakit tanaman tebu (misal : jagung merupakan inang penyakit pokkahbung).
Implementasi Sistem Tanam Juring Ganda
Upaya untuk meningkatkan produktivitas tebu dengan sistem tanam juring ganda tidak dapat tercapai apabila tidak disertai dengan komponen teknologi lainnya. Implementasi juring ganda harus sinergis dengan beberapa komponen inovasi, antara lain : a) penyiapan lahan; b) penyiapan bahan tanaman; dan c) pemeliharaan tanaman.
Selengkapnya komponen teknologi yang harus diterapkan untuk mencapai sinergitas dengan sistem tanam juring ganda tertera pada tabel 1.
Tabel 1. Komponen teknologi pada penerapan sistem juring ganda
|
Inovasi/kegiatan |
Sistem juring ganda melalui bongkar raton/tanam baru |
|
Persiapan lahan |
√ |
|
Penyiapan bahan tanaman |
√ |
|
Penanaman |
√ |
|
Penyulaman |
√ |
|
Pengaturan jumlah anakan |
√ |
|
Pengendalian gulma (2-3 kali) |
√ |
|
Pemupukan (2 kali) |
√ |
|
Pembumbunan (3 kali) |
√ |
|
Pengairan (sesuai kebutuhan) |
√ |
|
Pengendalian OPT (sesuai kebutuhan) |
√ |
|
Klenthek (3 kali) |
√ |
|
Panen dan pascapanen |
√ |
Penyiapan lahan untuk penanaman tebu harus dilakukan dengan baik meliputi pekerjaan pembajakan pertama, pembajakan kedua, penggaruan, dan pembuatan kairan. Pembajakan pertama bertujuan untuk membalik tanah serta memotong sisa-sisa kayu dan vegetasi lain yang masih tertinggal. Pembajakan kedua dilaksanakan tiga minggu setelah pembajakan pertama. Arah bajakan memotong tegak lurus hasil pembajakan pertama dengan kedalaman olah 25 cm. Penggaruan bertujuan untuk menghancurkan bongkahan-bongkahan tanah dan meratakan permukaan tanah. Penggaruan dilakukan menyilang dengan arah bajakan. Pembuatan kairan adalah pembuatan lubang untuk bibit yang akan ditanam. Kairan dibuat memanjang dengan jarak dari pusat ke pusat (PKP) 1,35-1,5 m, kedalaman 30-40 cm, dan arah operasi membuat kemiringan maksimal 2%.
Bahan tanaman yang digunakan adalah benih unggul berupa bagal/bud set/bud chip atau G2 kultur jaringan yang sudah siap ditanam di kebun tebu giling (KTG), bagal yang digunakan adalah bagal 2 mata/pemilihan varietas disesuaikan dengan lokasi, tipe iklim, dan jenis tanah serta mendapat rekomendasi dari Pabrik Gula (PG) setempat. Sebelum ditanam bibit perlu diberi perlakuan sebagai berikut :
Bibit yang telah siap tanam ditanam merata pada kairan. Penanaman bibit dilakukan dengan menyusun bibit secara over lapping atau double row atau end to end (nguntu walang) dengan posisi mata di samping. Kebutuhan bibit tebu per ha antara 60-80 kwintal atau sekitar 10 mata tumbuh per meter kairan. Hal ini dimaksudkan agar bila salah satu tunas mati maka tunas di sebelahnya dapat menggantikan. Bibit yang telah ditanam kemudian ditutup dengan tanah setebal bibit itu sendiri. Akan tetapi bila pada saat tanam curah hujan terlalu tinggi, maka bibit ditanam sebaiknya ditanam dengan cara baya ngambang atau bibit sedikit terlihat. Sedangkan standar kualitas bibit dari varietas unggul yang harus dipenuhi adalah :
Penyulaman harus dilakukan bila dalam barisan tanaman tebu terdapat lebih dari 50 cm areal juring yang kosong (tidak ada tanaman yang tumbuh). Penyulaman dilakukan pada umur 4-5 minggu menjelang musim hujan menggunakan bibit tanaman yang sama varietas dan umurnya sama dengan tanaman yang akan disulam.
Pengaturan Jumlah Anakan
Jumlah anakan sebaiknya dibatasi hingga sepuluh (10) batang per rumpun agar tidak terlalu rapat, kompetisi antar tanaman dapat ditekan sehingga kualitas dan produktivitas tebu meningkat dengan rendemen gula yang lebih baik.
Jumlah kebutuhan air sejalan dengan umur tanaman tebu sangat bervariasi tergantung pada fase pertumbuhan dan lingkungan tumbuhnya (agroekologi). Secara garis besar fase pertumbuhan tebu dibagi menjadi 4, yaitu : (1) perkecambahan (0-5 mg), (2) pertunasan (5 mg-3,5 bulan), (3) pertumbuhan cepat (3,5-9 bulan), dan (4) pemasakan batang (≥9 bulan). Pucuk kebutuhan air pada tanaman tebu terjadi pada fase pertumbuhan cepat, yaitu mencapai 0,75-0,85 cm air/hari.
Pengendalian OPT pada tanaman tebu di antaranya pengendalian gulma, hal ini dilakukan secara mekanis 2-3 kali dan atau menyesuaikan kebutuhan kondisi gulma di lapangan dengan interval 4 minggu, atau secara kimia dengan menggunakan herbisida dengan catatan jika gulma masih belum terkendala dengan manual. Sejak awal tanaman tumbuh sampai dengan umur 4 bulan diusahakan bebas gulma, jika sampai umur 4 bulan masih terdapat gulma dihindari pengendalian secara kimiawi.
Adapun hama yang menyerang tanaman tebu adalah : penggerek pucuk, uret, dan penggerek batang. Sedangkan penyakit yang menyerang tanaman tebu adalah : mosaik, busuk akar, blendok, dan pokkahbung.
Pengaturan panen dimaksudkan agar tebu dapat dipungut secara efisien dan dapat diolah dalam keadaan optimum. Melalui pengaturan panen, penyediaan tebu di pabrik akan dapat berkesinambungan dan dalam jumlah yang sesuai dengan kapasitas pabrik sehingga pengolahan menjadi efisien. Waktu panen disesuaikan dengan hasil analisis pendahuluan (tingkat kematangan) tebu atau varietastebu pada umur panen optimal.
Penebangan tebu dilakukan dengan sistem tebu hijau, yaitu penebangan yang dilakukan tanpa ada perlakuan sebelumnya. Pemotongan batang sedapat mungkin rapat dengan muka tanah bahkan akan lebih baik jika dipotong 5-10 cm di bawah permukaan tanah. Batang tebu harus bersih dari daun dan pucuk, hindari panen dengan cara membakar batang tebu.
Pengangkutan ke tempat penggilingan/PG harus dilakukan sesegera mungkin sehingga batang tebu dapat sampai diproses pengolahan tidak lebih dari 36 jam agar rendemen tidak turun.
(Ditulis kembali oleh : Harnati Rafiastuti, SP/Penyuluh BBP2TP Bogor/ Sumber Bacaan : Dari Berbagai Sumber).
Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066
Editor : Julianto