Monday, 08 August 2022


Musim Hujan, Waspada AI dan ND pada Itik

06 Dec 2021, 17:05 WIBEditor : Gesha

Itik Alabio salah satu jenis itik yang potensial dipelihara | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Musim penghujan menjadi musuh utama peternakan unggas. Selain ayam, unggas dari jenis itik juga wajib ditingkatkan kesehatannya agar tidak mati karena penyakit. Dua penyakit utamanya adalah Avian Influenza (AI) dan Newcastle Disease (ND).

Medik Veteriner Balai Penelitian Peternakan (Balitnak), Ciawi, drh. Triwardhani Cahyaningsih M.Si mengatakan, dalam menghadapi La Nina maupun musim penghujan, itik memiliki ketahanan tubuh yang lebih baik daripada ayam.

Namun jika kebutuhan nutrisi dan daya tahan tubuh itik tidak terpenuhi baik, maka unggas ini bisa terserang penyakit. Karenanya tempat pakan, tempat minum dari unggas harus dikontrol baik oleh peternak. Sanitas kandang harus terjaga untuk menghindari unggas terkena penyakit di musim penghujan.

Penyakit pencernaan yang sering menyerang itik umumnya disebabkan oleh tempat minum yang dipakai sudah berlumut. Lumut inilah yang menjadi media terbaik dalam perkembangan bakteri E.coli. Jika pencernaan sudah terserang penyakit, maka virus lain bisa dengan mudahnya masuk karena imunitasnya menurun.

Namun, peternak juga harus mewaspadai dua penyakit utama  yang ditandai dengan Sakit pencernaan pada itik, antara lainnya ND (Newcastle Dissease) dan AI (flu burung).

Secara umum penyakit ND pada unggas ditandai hewan terlihat lesu, diare, rasa haus yang sangat, bersin-bersin, bulu kusam. Paling parah bisa menyebabkan terjadinya gangguan syaraf (tortilolis). Gejala tortikolis khas dari penyakit ND pada unggas, ditandai dengan sayap terkulai dan leher terpuntir ke belakang.

Virus ND ditularkan oleh unggas yang terinfeksi secara inhalasi (udara) maupun secara oral (tertelan). Unggas terinfeksi ND biasanya mengeluarkan virus melalui feses maupun cairan pernafasan. Penularan penyakit ND dapat terjadi langsung dengan cara kontak antara unggas sakit dengan unggas sehat di sekitarnya. Sementara penularan tidak langsung terjadi melalui pekerja kandang maupun peralatan kandang yang telah terkontaminasi virus ND.

Sedangkan AI, gejala klinis pada itik yang sekarang ditemukan agak berbeda dengan yang muncul pada ayam. Pada itik, gejala klinis yang muncul mirip dengan penyakit ND seperti tortikolis, lumpuh, dan kejang/gemetar. Gejala lainnya terkadang ditemukan kornea mata putih atau keabu-abuan dan diare hijau keputihan. Beberapa gejala seperti itu dituturkan beberapa peternak muncul di malam hari, kemudian esok harinya tiba-tiba itik mati mendadak dalam jumlah banyak.

Beberapa pihak meyakini, Itik bisa tahan serangan AI tanpa menjadi sakit, dan berperan membawa serta menularkan virus AI ke unggas lain. Namun sekarang kondisinya berbeda, di mana ada beberapa populasi itik yang menunjukkan gejala serangan AI dengan tingkat kematian cukup tinggi.

Penyebab tingginya kasus serangan AI pada itik sebenarnya belum diketahui secara pasti. Salah satu kemungkinannya adalah akibat kontak dengan virus AI asal ayam secara berulang kali pada waktu itik mencari makan (diangon) di lingkungan sekitar peternakan ayam komersial atau ayam buras yang tercemar virus AI. Pembuangan bangkai itik dan ayam sakit ke sungai juga mengakibatkan virus AI menyebar dengan cepat. Akhirnya ketika kebanyakan peternak menggiring itik peliharaannya ke sungai, virus AI akan menular ke itik lain yang sehat.

Hingga sekarang memang masih jarang peternak itik yang sadar vaksin ND dan AI untuk hewan unggas ini. Disinilah peran serta Dinas Peternakan di daerah untuk serius melakukan sosialisasi vaksin ND dan AI untuk sentra peternakan itik. Khusus program vaksinasi AI sebaiknya disusun berdasarkan sejarah kasus di daerah setempat dan berdasarkan data monitoring titer antibodi.

Reporter : Nattasya
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018