Tuesday, 28 June 2022


Menggerakkan Bisnis Bebek Agar Tak Jago Kandang

18 Feb 2022, 19:39 WIBEditor : Gesha

Ilustrasi bebek | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Itik berbeda dengan bebek tapi sering saling tertukar nama dan juga banyak macamnya. Orang Barat sana menyebut keduanya "duck". Bentuknya bisa sangat cantik atau bisa sebaliknya. Itik yang cantik memesona, anggun, badannya bahenol, bulunya berwarna-warni indah dan bisa terbang jauh, di Amerika namanya "Loon". Dulu diburu sekarang dilindungi.

Sedangkan itik pribumi Indonesia asal Kalimantan bernama Itik Alabio (tapi ada juga yang menyebutnya Bebek Alabio), badannya panjang, pantatnya besar, bulunya coklat kusam dan kakinya pendek, jalannya tegak megal-megol, tidak bisa terbang jauh tetapi pintar berbaris, berjalan cepat dan berenang. 

Jangan kuatir, tampang bukan masalah, yang merangsang adalah telur dan dagingnya. Yang penting hewan ternak harus sehat, dipelihara dan diperlakukan dengan baik, walau statusnya tetap sebagai bahan makanan. Masalahnya, kata pelaku bisnis bebek kita masih jago kandang? Mengapa?

Pertama, pemeliharaan bebek yang umumnya dikenal di Indonesia adalah yang diangon berpindah tempat atau nomaden. Cara ini hampir tidak berubah selama berabad-abad. Pasti dimaksudkan agar bebek mencari makan sendiri di sawah untuk menghemat biaya pakan karena biayanya mencapai 70 persen dari total biaya.  Cara ini masih dilakukan oleh sebagian besar petani bebek di negeri kita, padahal sudah lama ditinggalkan oleh peternak di negara lain seperti Taiwan, Cina, Vietnam dan Thailand. Mereka sudah memeliharanya di kandang.

Kedua, dibandingkan dengan peternakan ayam, peternakan bebek masih sedikit dan skala kecil. Pada tahun 2020 populasi ayam petelur tercatat 281 juta ekor lebih dan pedaging sekitar 2,9 milyar ekor, sedangkan bebek hanya di kisaran 58 juta ekor. Biaya pemeliharaan bebek di kandang memang tinggi, karena bebek sangat rakus, selain itu memerlukan lokasi pemeliharaan khusus karena alasan lingkungan, polusi suara dan bau, serta sifat biologis bebek yang sensitif mudah stres. Unggas pada umumnya mudah stres sehingga warna baju pekerjanya saja harus diatur, tidak kontras dan sering berubah, harus yang kelabu mendekati hitam.

Ketiga, pengusaha bebek mengakui bahwa bibit, pakan dan input untuk pemeliharaan bebek belum bisa diperoleh dengan mudah seperti halnya untuk ayam. Kita perlu teknologi dan dukungan sarana. Padahal pemeliharaan bebek di lahan kering tanpa air sudah dilakukan di Taiwan sejak tahun 1980-an.

Apabila pasar dibuka bebas, bisnis bebek dalam negeri akan sangat terancam karena usaha bebek di negara-negara lain sudah lebih efisien, berkualitas baik dan harganya sangat kompetitif.

Intinya, fasilitas pendukung dan teknologi usaha bebek dalam negeri perlu dipacu agar bisnis bebek bisa sejajar dengan industri bebek di negara lain. Peluang pasar terbuka lebar, permintaan dari mancanagara tinggi tetapi kualitas yang diminta juga tinggi, tidak boleh ada cacat sedikit pun.

Bebek pun tak lupa mengajari kita. Ini pesannya Be like a duck, paddling and working very hard inside the water, but what everyone sees is a smiling and calm face.”

Reporter : Memed
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018