
Seminar Nasional Penyuluhan dan Peternakan di Polbangtan Malang
TABLOIDSINARTANI.COM, Malang --- Kementerian Pertanian (Kementan) menegaskan pentingnya kesiapan sumber daya manusia (SDM) peternakan untuk memenuhi meningkatnya kebutuhan protein hewani dalam Program Makan Bergizi Gratis.
Mahasiswa Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Malang disebut memiliki posisi strategis untuk menjawab tantangan tersebut.
Hal itu disampaikan Sekretaris Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Nuryani Zainuddin, dalam Seminar Nasional Penyuluhan dan Peternakan yang digelar beberapa waktu lalu.
Ia mengungkapkan bahwa meski produksi ayam dan telur saat ini dalam kondisi surplus, kebutuhan konsumsi nasional diprediksi melonjak tajam.
“Ke depan kebutuhan ayam untuk program Makan Bergizi Gratis bisa mencapai sekitar 774 ribu ton per tahun, dengan asumsi pemberian telur tiga kali seminggu,” jelas Nuryani.

Ia menambahkan, pemerintah tengah mendorong desentralisasi industri peternakan agar produksi lebih merata di seluruh wilayah dan sekaligus menekan disparitas harga.
Namun, tantangan terbesar justru berada pada kesiapan SDM yang harus mampu mengikuti perubahan dan tuntutan industri.
“Mahasiswa Polbangtan harus siap memimpin subsektor peternakan. Mereka perlu dipersiapkan menjadi inovator teknologi, pelopor praktik berkelanjutan, wirausahawan muda, sekaligus agen perubahan pembangunan peternakan di Indonesia,” tegasnya.
Sejalan dengan itu, Direktur Polbangtan Malang, Setya Budhi Udrayana, menekankan bahwa pendidikan vokasi harus membentuk mahasiswa yang memiliki kemampuan komprehensif, baik teori, praktik, maupun kepekaan terhadap perubahan industri.

“Semua wawasan hari ini diharapkan dapat memperluas cara pandang mereka. Mahasiswa harus siap mengambil peran nyata di lapangan untuk pengembangan peternakan nasional,” katanya.
Penguatan kapasitas mahasiswa dari sisi teknologi juga menjadi sorotan. Dekan Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya, Muhammad Halim Natsir, menilai bahwa industri peternakan masa depan sangat mengandalkan teknologi baru, termasuk integrasi kecerdasan buatan dalam penelitian dan pengembangan bahan pakan.
“Teknologi seperti ini akan menjadi kebutuhan utama industri ke depan,” ungkap Halim.
Subsektor peternakan sendiri memiliki peran vital dalam penyediaan protein hewani sekaligus penggerak ekonomi nasional. Karena itu, peningkatan kualitas SDM menjadi agenda prioritas pemerintah.
Dalam kerangka tersebut, mahasiswa Polbangtan dipandang sebagai generasi vokasi yang akan mempercepat modernisasi dan pemerataan industri peternakan Indonesia.