Rabu, 14 Januari 2026


Ada Apa di BBPKH Cinagara?

08 Jan 2026, 11:07 WIBEditor : Yulianto

Kepala BBPKH Cinagara, Inneke Kusumawaty

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor---Bagi dunia peternakan, khususnya yang berkaitan dengan kesehatan hewan, Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan (BBPKH) Cinagara, Bogor menjadi satu-satunya tempat pelatihan kesehatan hewan di Indonesia. Sayangnya, sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) di bawah Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) yang perannya sangat besar bagi dunia peternakan, lembaga ini belum banyak yang mengenal.

BBPKH Cinagara berdiri sejak tahun 1982. Awalnya bernama Balai Latihan Pegawai Pertanian. Pada tahun 2000, namanya berkembang menjadi Balai Diklat Agribisnis, kemudian pada tahun 2002 menjadi Balai Diklat Agribisnis Peternakan dan Kesehatan Hewan. Selanjutnya, pada tahun 2004 berubah menjadi Balai Besar Agribisnis PKH, dan sejak tahun 2007 hingga sekarang resmi bernama Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan (BBPKH) Cinagara.

Ada apa di BBPKH Cinagara? Saat wawancara dengan SINTATV, Kepala BBPKH Cinagara, Dr. Inneke Kusumawaty, S.TP., M.P. mengungkapkan, karena berada di bawah BPPSDMP, arah dan fokus utama BBPKH adalah meningkatkan kapasitas sumber daya manusia.

Tidak hanya SDM pertanian yang saat ini sedang digencarkan melalui Program Brigade Pangan sebagai penggerak swasembada pangan tetapi juga SDM untuk mendukung swasembada pangan asal hewan, seperti daging, telur, dan susu. Berikut wawancara lengkapnya.

Apa saja kegiatan dan Inovasi di BBPKH Cinagara?

Selain peningkatan kapasitas SDM, BBPKH Cinagara juga memiliki unit ternak, antara lain sapi perah, sapi potong, kambing domba, dan unggas. Kami juga memiliki hijauan pakan ternak, serta sedang mengembangkan hijauan baru, yaitu rumput Chicory. Artinya, BBPKH akan terus berinovasi mengikuti kebutuhan masyarakat.

Permasalahan di lapangan memang menjadi tantangan sekaligus peluang bagi kami untuk terus berkreasi dan berinovasi. Sebagai lembaga pelatihan, kami tidak hanya fokus pada SDM, tetapi juga pada penguatan lembaga. Sumber daya alam dan sumber daya manusia yang kami miliki harus dimaksimalkan.

SDM di BBPKH Cinagara sangat luar biasa. Kami memiliki 15 orang Widyaiswara (WI) dengan keahlian yang sangat spesifik, terdiri dari dokter hewan, sarjana, dan magister peternakan. Dengan dukungan berbagai pemangku kepentingan, kami yakin dapat membangun ekosistem pelatihan yang kuat.

Kami bekerja sama dengan pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, serta unit eselon I, khususnya Direktorat Peternakan dan Kesehatan Hewan, yang saat ini gencar menjalankan program menuju swasembada pangan asal hewan.

Momentum ini sangat tepat bagi BBPKH Cinagara untuk berkontribusi secara konkret dalam pembangunan SDM dan penguatan ekosistem di daerah, khususnya melalui Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) di daerah yang perannya mirip dengan BPP di sektor pertanian.

Di Puskeswan terdapat dokter hewan dan tenaga kesehatan hewan yang mendapatkan penguatan melalui pelatihan, bimbingan teknis (bimtek), dan kegiatan lainnya dari BBPKH. Jadi, peran BBPKH adalah memperbarui kompetensi SDM lapangan sesuai kebutuhan terkini, mengingat ragam penyakit hewan yang semakin kompleks, termasuk mitigasi risiko dan lalu lintas ternak.

Kami juga mendorong sertifikasi kompetensi untuk menjamin keamanan pangan dari hulu ke hilir (farm to table), sehingga pangan asal hewan aman sejak di kandang, proses pengolahan, hingga tersaji di meja makan. Inilah tantangan besar kami dalam menyiapkan SDM yang mampu mengawal pangan ASUH (Aman, Sehat, Utuh, dan Halal).

Apa Saja Pelatihan di BBPKH Cinagara ?

Pelatihan di BBPKH Cinagara sangat beragam. Diantaranya, pelatihan peternakan, JULEHA (Juru Sembelih Halal), Care Master, Butcher (juru potong daging), yang banyak diminati sektor swasta, Tenaga kesehatan hewan, Asisten dokter hewan,  Pemeriksa Kebuntingan Hewan, Pengendali penyakit hewan menular, Inseminator, paramedik veteriner dan masih banyak pelatihan lainnya.

Sebelumnya diungkapkan, BBPKH akan mendorong peran Puskeswan di daerah. Bagaimana kerja sama dengan Pemerintah Daerah, khususnya Dinas Peternakan ?

Kami menjalin kerja sama yang sangat luas dengan dinas-dinas daerah, termasuk dengan UPT di Direktorat PKH. Kerja sama ini merupakan bagian dari satu kesatuan dalam Kementerian Pertanian untuk mendukung swasembada pangan asal hewan. Selain pelatihan umum, kami juga melaksanakan pelatihan teknis kesehatan hewan.

Kerja sama dengan pemerintah daerah dilakukan melalui Perjanjian Kerja Sama (PKS), baik dengan skema swakelola, di mana pembiayaan berasal dari daerah dan dikelola oleh BBPKH maupun swadaya, di mana peserta mengikuti pelatihan secara mandiri. Contohnya, pelatihan inseminator yang memiliki peminat sangat tinggi.

Pelatihan inseminator memerlukan rekomendasi dari dinas, karena peran inseminator sangat strategis dalam peningkatan populasi ternak. Selain memenuhi persyaratan kualifikasi, pelatihan ini dilaksanakan selama 21 hari sesuai SKKNI, dan diharapkan dapat dilanjutkan dengan sertifikasi profesi.

Menjadi satu-satunya Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan di Indonesia, apa Program BBPKH Cinagara Tahun 2026 ? 

BBPKH Cinagara memang satu-satunya Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan di Indonesia. Kebutuhan SDM di bidang ini sangat besar. Di sini, kami tidak hanya berbicara soal produksi, tetapi juga kesehatan dan kesejahteraan hewan. Sebab, hewan yang sehat akan memiliki produktivitas yang lebih tinggi, masa produksi yang lebih panjang, dan biaya produksi yang lebih efisien.

Untuk tahun 2026, kami mendorong optimalisasi seluruh unit ternak di BBPKH menjadi inkubator bisnis yang sesungguhnya. Setiap unit sapi perah, unggas, hijauan, dan produk olahan akan dikelola secara profesional, termasuk pembukuan dan operasional, layaknya sebuah usaha nyata.

Hal ini bertujuan agar BBPKH dapat memberikan gambaran riil kepada peternak. Saya contohkan, dalam usaha ayam petelur kita harus menghitung berapa jumlah minimal ayam, kebutuhan pakan, biaya operasional, hingga analisis keuntungan dan kerugian. Dengan demikian, peternak tidak hanya terlihat untung, tetapi sebenarnya merugi.

Selain itu, seluruh unit ternak di BBPKH sedang diusulkan untuk memiliki Nomor Kontrol Veteriner (NKV), seperti NKV sapi perah, ayam petelur, RPU (Rumah Potong Unggas), serta unit pengolahan. BBPKH harus menjadi etalase pelatihan, tempat peserta dapat langsung melihat penerapan standar yang sesungguhnya.

Kami juga sedang menyiapkan program eduwisata, mengingat setiap minggu terdapat banyak kunjungan siswa sekolah. Program ini direncanakan akan dilaunching tahun depan, dan saat ini masih dalam tahap penataan. Terakhir, saya menegaskan, kesehatan dan kesejahteraan hewan sangat penting. Dengan memperhatikannya, biaya produksi dapat ditekan dan produktivitas ternak akan meningkat.

Reporter : Herman
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018