
Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (FPKB) DPR RI menggelar diskusi publik bertajuk “Danantara Kucurkan Rp20 Triliun untuk Peternak Lokal: Kebangkitan Industri Unggas Indonesia” di Gedung Nusantara I
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (FPKB) DPR RI menggelar diskusi publik bertajuk “Danantara Kucurkan Rp20 Triliun untuk Peternak Lokal: Kebangkitan Industri Unggas Indonesia” di Gedung Nusantara I beberapa waktu lalu.
Forum tersebut membahas secara mendalam rencana investasi besar dari Danantara untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sekretaris FPKB DPR RI, Dr. Anggia Ermarini, menegaskan pentingnya pengawasan ketat agar dana tersebut benar-benar berpihak kepada peternak kecil. Ia mengingatkan agar skema investasi tidak justru memberi ruang dominasi bagi pemain besar.
“ saya sangat perhatian apakah skema Rp20 triliun Danantara memperkuat peternak rakyat atau sebaliknya. Kita tangkap wacana ini untuk mitigasi, agar tidak salah arah,” ujarnya.
Dari Badan Gizi Nasional (BGN), Kolonel Cba. Muhammad Rizal Salewangang, selaku Direktur Kerja Sama dan Kemitraan, menjelaskan peran strategis Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam menciptakan permintaan tetap (fixed demand) bagi industri unggas melalui program MBG.

“Ini adalah kebangkitan unggas Indonesia. Semuanya demi kemajuan bangsa. Makan bergizi adalah hak anak Indonesia,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa MBG merupakan intervensi penting untuk menciptakan generasi cerdas menuju Indonesia Emas 2045.
Sementara itu, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda, memastikan bahwa Kementan menyambut baik rencana investasi dari Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara.
Menurutnya, dana Rp20 triliun tersebut ditujukan untuk membangun ekosistem peternakan ayam pedaging dan petelur yang terintegrasi di berbagai daerah.

“Skema ini masih dinamis dan terus dibahas agar manfaatnya maksimal bagi peternak rakyat dan selaras dengan program Makan Bergizi Gratis,” jelas Agung.
Agung menegaskan bahwa dana tersebut tidak akan diberikan langsung kepada peternak rakyat, tetapi disalurkan melalui skema kredit kepada BUMN untuk pembangunan sarana dan prasarana pendukung.
Saat ini terdapat 15.634 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) secara nasional, sementara produksi ayam dan telur berada pada posisi surplus, termasuk untuk memenuhi kebutuhan MBG tiga kali seminggu.
Praktisi perunggasan yang juga mantan Menteri Desa PDTT, Eko Putro Sanjoyo, menilai unggas tetap menjadi sumber protein termurah dan paling dominan, yaitu memenuhi sekitar 65 persen kebutuhan nasional.
“Rp20 triliun akan lebih efektif jika digunakan untuk membangun RPA modern dan cold storage yang dikelola koperasi atau BUMDes,” ujarnya.