Senin, 22 Juli 2019


Pelaku Usaha Dukung Sentra Peternakan Sapi Potong Tiap Daerah

15 Mei 2019, 09:14 WIBEditor : Gesha

Melihat tingkat konsumsi yang tinggi di kota besar, Gapuspindo mengusulkan agar sentra peternakan sapi potong justru didekatkan pada daerah penyangga. | Sumber Foto:ISTIMEWA

Melihat tingkat konsumsi yang tinggi di kota besar, Gapuspindo mengusulkan agar sentra peternakan sapi potong justru didekatkan pada daerah penyangga.

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Setiap menjelang Lebaran dan hari raya besar, sumber protein terbesar di Indonesia, daging sapi selalu menanjak. Padahal, jika sentra peternakan dibangun di sekitar daerah kota besar, permasalahan harga yang melonjak tidak perlu terjadi.

Seperti yang diungkapkan Direktur Eksekutif Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong Indonesia (Gapuspindo) Joni P. Liano kepada tabloidsinartani.com. 

"Pengoperasian tol laut untuk mengangkut ternak memang kami akui terus membaik. Namun belum menjadi solusi terbaik dengan harga di tingkat konsumen," tuturnya.

Untuk diketahui, sebanyak 2.000 sapi dari Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB) diangkut setiap bulannya ke Jakarta. Pengangkutan itu melalui program tol laut milik pemerintah.

Melihat tingkat konsumsi yang tinggi di kota besar, Gapuspindo mengusulkan agar sentra peternakan sapi potong justru didekatkan pada daerah penyangga. 

"Yang sudah berjalan sekarang memang pasokan daging sapi potong dari Bogor seperti Rumpin untuk memasok Jabodetabek. Tapi itu pun masih belum bisa memenuhi kebutuhan seluruhnya. Paling hanya 40 persennya," tukas Liano.

Dari data Badan Pusat Statistik, kebutuhan daging sapi per tahunnya di Jabodetabek sekitar 40 ribu ton. Dan itu khusus hanya untuk memenuhi kebutuhan Lebaran saja. 

"Kebutuhan pakan untuk di daerah penyangga memang menjadi kendala utama. Mengingat sebagian besar peternak sapi masih hanya mengandalkan rumput sebagai pakan. Tetapi teknologi pakan ruminansia sudah berkembang baik di Indonesia sehingga kebutuhan pakan bagi sapi potong masih bisa terpenuhi meski di kota penyangga," tuturnya.

Program Sapi Indukan Wajib Bunting (SIWAB) diakui Liano sangat baik mendorong sentra peternakan di daerah penyangga. 

Untuk diketahui, selama dua tahun Upsus Siwab berjalan sudah melahirkan 2,74 juta ekor. Dari jumlah tersebut 500.000 diantaranya adalah sapi perah sementara 2,2 juta ekor sisanya adalah sapi potong.

Berdasarkan data Kementerian Pertanian, pertumbuhan populasi Upsus Siwab (2014-2017) mengalami kenaikan sebesar 3,86% per tahun, dibanding dengan sebelum program GBIB (Geretak Birahi dan Inseminasi Buatan) dan Upsus Siwab (2012 – 2014) dengan rata-rata pertumbuhan per tahunnya sebesar 1,03%.

Selain percepatan peningkatan populasi sapi dan mengubah pola pikir peternak dampak Upsus Siwab juga mampu menurunkan pemotongan betina produktif.

Pemotongan sapi dan kerbau betina produktif secara nasional pada periode Januari  sampai November 2018 sebanyak 8.514 ekor. Jumlah pemotongan tersebut menurun 57,12 persen dibandingkan dengan pemotongan sapi dan kerbau betina produktif pada periode yang sama pada 2017.

"Melihat hitung-hitungan produksi sapi dari hasil SIWAB, di tahun 2020 nanti baru bisa panen. Tapi itu juga bergantung pada lonjakan konsumsi," tukasnya.

Jangan Terjebak Impor

Pemenuhan kebutuhan daging sapi dengan metode impor diakui Liano hanya jangka pendek. Namun jangan sampai membuat terlena. 

“Jangan upaya jangka pendek terus karena takut inflasi dan lain-lain. Toh juga harga daging tidak turun karena yang diminta konsumen daging segar. Daging kerbau masuk supaya harga di bawah Rp100.000 per kg, tetapi sekarang stabil di Rp107.000 per kg. Jadi, pemerintah harusnya mengkaji ulang dalam melihat upaya stabilisasi harga,” katanya.

Tak hanya itu, pemerintah juga harus memperhitungkan antara biaya produksi peternak lokal dan biaya produksi daging sapi impor. Pasalnya, bila ada kesenjangan yang jauh, Liano mengkhawatirkan Indonesia akan terjebak pusaran impor daging sapi.

Di kalangan importir sendiri, diakui Liano tengah mencari negara lain sebagai sumber impor daging selain dari Australia.

"Dari tahun kemarin, Australia  mengurangi jumlah ekspor sapi hidup dalam satu sesi pengapalan. Kita sudah hitung-hitung. Ada negara produsen yang potensial seperti Meksiko, Brasil, dan Afrika Selatan," tuturnya.

DIakui Liano, ongkos angkut dari ketiga negara tersebut lebih mahal daripada Australia namun jika dihitung harga per ekor sapi bakalan yang diekspor akan jaub lebih murah.

Tahun lalu, total impor sapi hidup setara daging sapi Indonesia mencapai 119.620 ton. Untuk kebutuhan satu tahun di 2019, pemerintah telah mengeluarkan izin atas impor 500.000 ekor sapi bakalan yang berlaku selama 1 tahun. Sepanjang Januari—April 2019, realisasi impor mencapai 120.000 ekor.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018