
Sekretaris Jenderal CPOPC, Izzana Salleh, bersama sejumlah Senior Official dan perwakilan negara anggota CPOPC di konferensi ke-4 minyak nabati dunia, SVOC, di Shanghai, Republik Rakyat Tiongkok.
TABLOIDSINARTANI.COM, Shanghai--- Inovasi dan ketahanan rantai pasok minyak nabati menjadi sorotan pada Sustainable Vegetable Oils Conference (SVOC) ke-4 di Shanghai. Bahkan Sekretaris Jenderal CPOPC, Izzana Salleh mengingatkan, pentingnya kerja sama praktis antarnegara produsen dan konsumen dalam menghadapi perkembangan tuntutan keberlanjutan dan ekspektasi pasar.
“Perubahan harga relatif dapat menggeser keputusan pembelian antarjenis minyak nabati, sementara ketidakpastian regulasi dapat memengaruhi arus perdagangan dan kepercayaan investasi,” katanya saat memberikan sambutan pembukaan.
Menurutnya, ketahanan rantai pasok memerlukan informasi pasar yang andal, hubungan dagang yang terdiversifikasi, logistik yang efisien, dan kerangka kebijakan yang dapat diprediksi. Ketahanan rantai pasok juga memerlukan keterlibatan yang lebih erat antara produsen dan pembeli, sehingga komitmen pasokan, ekspektasi keberlanjutan, dan insentif komersial dapat lebih selaras.
SVOC ke-4 diselenggarakan Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) bekerja sama dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia dan Kedutaan Besar Malaysia, di Beijing, Republik Rakyat Tiongkok. Konferensi sebelumnya digelar di Indonesia, India, dan Belanda. Konferensi ini terselenggara atas dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Plantations et Huileries du Congo (PHC), dan Oil Palm Industry Corporation (OPIC).
Para peserta yang hadir membahas bagaimana negara produsen dan konsumen dapat merespons tuntutan yang semakin besar terhadap efisiensi, transparansi, dan keberlanjutan, sekaligus tetap menjaga produktivitas dan daya saing. Diskusi juga menjajaki peluang kerja sama yang lebih erat di bidang inovasi, perdagangan hijau, dan pembangunan rendah karbon.
Data menyebutkan pada tahun 2026, produksi minyak nabati global diperkirakan mencapai sekitar 234 juta ton, dengan minyak sawit berkontribusi sekitar 85 juta ton, atau lebih dari sepertiga produksi global. Meskipun minyak sawit, kedelai, rapeseed, dan bunga matahari memiliki sistem produksi dan karakteristik pasar yang berbeda.
Dalam konferensi ini pembahasan mengerucut bagaimana komoditas-komoditas tersebut saling terkait melalui perdagangan global, pembentukan harga, substitusi, serta perkembangan permintaan pangan dan industri.
Para perwakilan produsen juga menyoroti tantangan bersama yang mereka hadapi, mulai dari penggunaan lahan, ketahanan iklim, standar keberlanjutan, hingga akses pasar. Kesamaan kepentingan ini membuat pertukaran pengetahuan, penguatan dialog, dan kerja sama praktis menjadi kian mendesak guna membangun rantai nilai minyak nabati yang lebih berkelanjutan dan tangguh.
Tiongkok memegang peran penting dalam pasar minyak nabati global, baik sebagai konsumen utama maupun sebagai mitra strategis di bidang perdagangan, teknologi, dan inovasi. Pada 2025, konsumsi minyak nabati Tiongkok diperkirakan mencapai 35,8 juta ton, dan 5,07 juta ton di antaranya merupakan minyak sawit.
Angka-angka ini menegaskan pentingnya kerja sama yang lebih erat antaranegara produsen dan konsumen untuk memperkuat rantai pasok minyak nabati yang berkelanjutan, berdaya saing, dan tangguh.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia, Airlangga Hartarto, menekankan peningkatan produktivitas petani kecil tanpa perluasan areal perkebunan.
Sementara YB Datuk Seri Dr. Noraini Ahmad, Menteri Perladangan dan Komoditas Malaysia, menyerukan penerapan standar keberlanjutan yang mendukung, bukannya yang menghambat, akses produsen ke pasar global, serta penguatan kerja sama dengan Tiongkok di bidang teknologi, riset, dan pengembangan pasar.
José Francisco Ordóñez, Wakil Menteri Budidaya Kopi Honduras, menyoroti pentingnya pembuktian keberlanjutan melalui sistem ketertelusuran yang kredibel serta penguatan kerja sama antara Tiongkok, CPOPC, dan negara-negara Amerika Latin.
CPOPC akan terus memperkuat SVOC sebagai platform strategis yang menghubungkan negara produsen dan konsumen, industri, lembaga riset, dan mitra keberlanjutan, dengan fokus yang lebih besar untuk mewujudkan dialog menjadi kerja sama nyata.
Penyelenggaraan SVOC berikutnya akan mendorong kolaborasi yang lebih luas menuju rantai nilai minyak nabati yang lebih berkelanjutan dan tangguh, sekaligus memperkuat aliansi minyak sawit global yang berlandaskan bukti, sains, dan dialog konstruktif.