Monday, 02 November 2026


PENGUATAN PELINDUNGAN TANAMAN DAN PERBENIHAN DALAM BUDIDAYA HORTI DI LAHAN KERING

29 Oct 2026, 08:45 WIBEditor : Yulianto

Webinar HDDAP

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta ---Lahan kering di Indonesia ibarata raksasa yang tengah tertidur. Dengan potensi besar yang besar, lahan marginal tersebut bisa menjadi penbggerak ekonomi desa. Salah satunya untuk pengembangan budidaya hortikultura.

Data Kementerian Pertanian, potensi lahan kering Indonesia sangat besar yakni mencapai 144,31 juta ha. Dari luasan lahan tersebut,  ada sekitar 91,53 juta ha (63,4 persen) potensial untuk pertanian. Sementara versi lain dari Badan Pusat Statistika (BPS) 2019 sekitar 63,4 juta ha (33,7 persen daratan Indonesia) sudah kategori lahan kering.

Dari 91,53 juta ha potensial itu, lahan yang cocok untuk budidaya hortikultura sayuran dataran tinggi sekitar 1,09 juta ha (1,19 persen) dan buah-buahan 53,59 juta ha (58,55 persen). Sayanganya budidaya tanaman hortikultura di lahan kering tersebut belum optimal.

Melalui Proyek Horticulture Development in Dryland Areas Project (HDDAP), Kementerian Pertanian bersama Asian Development Bank (ADB) dan International Fund for Agricultural Development (IFAD) pun melirik lahan kering sebagai lokasi pengembangan budidaya hortikultura. Proyek tersebut direncanakan akan berlangsung pada 2024–2029.

Proyek tersebut mencakup 13 kabupaten di tujuh provinsi, dengan sasaran pengembangan 10.000 ha lahan atau 1.000 klaster hortikultura yang melibatkan 25.000 petani. Pelaksanaan HDDAP mencakup beragam komoditas hortikultura, mulai dari buah-buahan, sayuran, hingga tanaman obat.

Di Sumatera Utara, lokasinya di Pakpak Bharat, Dairi, dan Karo dengan komoditas cabai, bawang merah, kentang, wortel, jeruk, dan salak. Di Ende, Nusa Tenggara Timur, komoditas yang dikembangkan alpukat dan jahe. Sementara itu, Buleleng, Bali, komoditas durian, manggis, bawang merah, dan sayuran daun. Di Sulawesi Selatan, berlokasi di Enrekang dan Gowa dengan komoditas bawang merah, kentang, serta cabai.

Sementara di Pulau Jawa berada di Jawa Timur, kegiatan berlangsung di Sumenep, Lumajang, dan Gresik dengan komoditas pisang, bawang merah, cabai, dan kunyit. Adapun di Jawa Tengah, HDDAP menyasar Batang dan Wonosobo melalui pengembangan alpukat, pisang, kentang, serta salak. Di Jawa Barat berads di Sumedang dengan komoditas mangga dan cabai.

Project Director HDDAP sekaligus Direktur Hilirisasi Hasil Hortikultura, Freddy Lumban Gaol menegaskan, komitmen penuh pemerintah untuk mewujudkan agribisnis yang konkret dan berdampak nyata bagi petani. Bahkan berharap Proyek HDDAP ini dapat membangun agribisnis yang benar-benar terwujud secara nyata.

“Dari hulu hingga hilir kita sediakan, di mana hilirisasi kita jadikan sebagai center atau pusatnya. Ada tiga kata kunci utama yang harus kita pegang bersama, yaitu nilai tambah, berdaya saing, dan naik kelas,” kata Freddy. Karena itu, ia menilai, pentingnya mengasah insting agribisnis bagi seluruh pengelola Kelembagaan Ekonomi Petani (KEP) dan pendamping di lapangan agar mampu melihat peluang pasar modern secara tajam dan responsif.

Perbenihan dan Pelindungan Tanaman

Untuk mewujudkan mimpi besar membangun KEP yang mampu menjalankan agribisnis, perlu adanya dukungan di bagian hulu yakni dalam budidaya, khususnya dukungan perbenihan dan pelindungan tanaman. Banyak faktor yang mesti mendapat perhatian dalam buddiaya hortikutlura di lahan kering.

Direktur Perbenihan Hortikultura Kementerian Pertanian, Muhammad Agung Sunusi mengatakan, HDDAP menjadi langkah konkret untuk membangun sistem perbenihan yang lebih kuat dalam tiga tahun ke depan. Potensi sumber daya genetik lokal akan menjadi perhatian, didukung investasi penelitian dan pengembangan (R&D), infrastruktur, serta penguatan kelembagaan perbenihan.

“Melalui proyek HDDAP ini, dalam tiga tahun ke depan Kita akan fokus secara optimal di 12 kabupaten/kota, dengan sumber daya genetik lokal menjadi perhatian utama,” ujarnya saat webinar Penguatan Perlindungan dan Perbenihan dalam Ekosistem Hulu-Hilir Hortikultura di HDDAP yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani, Kamis (29/10).

Menurut Agung, pengembangan benih harus dari hulu hingga hilir. Penguatan dimulai dari Balai Benih Hortikultura (BBH), pengawasan oleh Pengawas Benih Tanaman (PBT), kemudian melibatkan penangkar hingga kelembagaan ekonomi petani (KEP) sebelum benih sampai ke tangan petani.

“Jadi, kita tidak hanya bicara produksi benih. Balai benih harus diperkuat, penangkar harus berkembang, dan kelembagaan petani juga harus terlibat. Dengan begitu, benih yang dihasilkan benar-benar bisa sampai kepada petani,” tegasnya.

Sementara itu Direktur Pelindungan Hortikultura, Direktorat Jenderal Hortikultura, Leli Nuryati mengatakan, dalam desain HDDAP, perlindungan tanaman merupakan salah satu unsur komponen 1, yakni peningkatan input, lahan, infrastruktur, dan layanan air. Komponen ini juga mencakup perbenihan dan pembibitan, kesuburan tanah, infrastruktur air dan lahan, serta budidaya dan alat mesin pertanian.

Untuk mendukung perlindungan hortikultura, Direktorat Perlindungan Hortikultura menyiapkan penguatan kapasitas petugas pengamat organisme pengganggu tumbuhan (POPT), fasilitasi sarana perlindungan, penerapan pengendalian OPT ramah lingkungan, serta pengembangan unit produksi mikrobiologi tanah.

Menurutnya, penerapan PHT (Pengendalian Hama Terpadu) menjadi landasan teknis dalam menjaga kesehatan tanaman pada kawasan HDDAP. Pendekatan ini mengutamakan pengamatan berkala, identifikasi organisme pengganggu, dan penentuan tindakan berdasarkan kondisi serangan di lapangan.

Leli menilai, peningkatan kapasitas petugas menjadi salah satu prioritas agar penerapan PHT dapat berjalan efektif. Petugas didorong meningkatkan kemampuan dalam menyampaikan rekomendasi pengendalian OPT dan pengelolaan dampak perubahan iklim.  Karena itu, keberhasilan pelindungan hortikultura dalam HDDAP sangat bergantung peran POPT sebagai pendamping teknis petani.

Dengan dukungan perbenihan dan pengendalian OPT, petani hortikultura di lahan kering bisa naik kelas. 

Bagi Sahabat SINAR TANI yang telah mengikuti webinar, bisa mengunduh e-sertifikat dan mendapatan materinya di link bawah ini

Materi : Klik Disini
Esertifikat : Klik Disini
Esertifikat Berdasarkan Nomor : Klik Disini

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018