Wednesday, 21 October 2026


Porang, Sukses Budidaya Galau di Pasar

05 Jul 2021, 16:23 WIBEditor : Yulianto

Poran, komoditas yang kini naik daun

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta--Pengembangan tanaman porang mulai membuahkan hasil yang cukup menggembirakan. Proses budidaya yang baik tahun ini berhasil menaikkan tingkat produktivitas hingga dua kali lipat dibanding tahun lalu.

Diperkirakan pertengahan tahun hingga Desember nanti proses panen akan terjadi dan akan masuk pada tahap pemasaran. “Banyak petani porang di beberapa daerah mulai panen Juli ini, namun masih bingung akan disalurkan kemana,” kata Thomas Raja Sentosa, Founder Raja Porang Indonesia saat Webinar Kemana Hasil Porang? Sabtu, (3/7).

Fenomena ini terjadi karena sukses budidaya yang terjadi belum diikuti dengan manajemen pasar yang terukur. Bukan hanya kendala pasar yang belum terukur, namun harga umbi porang juga mengalami penurunan.

“Pada tahun 2020 lalu harga stabil dikisaran Rp 8.000/kg, namun sekarang hanya di angka Rp 7.500/kg saja,” kata pria yang sering dipanggil raja porang ini. Kondisi ini menurut Thomas, cukup membuat galau petani yang sangat antusias menanam tanaman ini.

Sementara itu, Dirjen Tanaman Pangan Kementrian Pertanian, Suwandi mengatakan, ada banyak hal yang harus dilakukan bersama untuk mengatasi situasi seperti ini. Misalnya, petani harus mulai berfikir untuk mengintip pasar porang secara jeli terlebih dahulu, sebelum melakukan budidaya. Baik pasar lokal maupun pasar ekspor.

Untuk pasar lokal, pemerintah mendorong adanya kemitraan antara petani dengan perusahaan di daerah atau UMKM lokal untuk bisa mengolah umbi porang menjadi bentuk chip yang sudah di oven, tepung konjac maupun bentuk olahan jadi seperti shiratake, atau bihun.

Di sisi lain pemerintah juga akan menjembatani antara petani dengan industri besar pengolahan makanan dalam negeri untuk mulai mendirikan pabrik olahan yang ber bahan baku umbi porang ini. Adapun untuk pasar ekspor Kementrian Pertanian ikut membantu informasi menyebarkan daftar eksportir porang yang aktif yang bisa menyerap hasil panen.

“Ada puluhan eksportir dalam negeri yang datanya sudah kita validasi,” kata. Disamping itu, lanjut Suwandi, daftar importir luar negeri juga sudah pemerintah siapkan dan bisa dihubungi kelompok tani.

Data mencatat, pasar lokal hanya menyerap 10 persen dari hasil panen. Sedangkan sisanya 90 persen diekspor kebeberapa negara tujuan utama seperti Jepang, Korea, Tiongkok dan Vietnam.

Namun demikian, ke depan, Suwandi berharap, perlu perubahan skema konsumsi lokal, sehingga penyerapan lokalnya bisa naik. Untuk itu, UMKM harus mampu mengolah umbi menjadi makanan olahan seperti nasi, mie, bubur bahkan eskrim dari porang.

Dengan demikian akan terjadi peningkatan nilai tambah, baik bagi petani dan pengusaha juga akan menyerap tenaga kerja di sektor pengolahannya. Untuk itu Suwandi meminta agar mulua mengkampanyekan, umbi porang dan produk turunannya sebagai alternatif pangan lokal yang menyehatkan.

“Kita perlu meningkatkan permintaan dalam negeri, sehingga nanti ada keseimbangan antara supply dan demand. Nanti model pengembangan tanaman ini adalah tanam, olah, produksi menjadi makanan lalu kita konsumsi sisanya baru untuk ekspor,” tuturnya.

Reporter : Iqbal
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018