Wednesday, 21 October 2026


Said Didu Ungkap Indonesia Sudah Swasembada Pangan, Ini Alasannya

13 May 2026, 16:25 WIBEditor : Herman

Beras di gudang Bulog

TABLOIDSINARTANI.COM, Surabaya --- Pengamat kebijakan publik sekaligus mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Said Didu, menegaskan bahwa Indonesia saat ini tengah berada dalam jalur swasembada pangan yang nyata.

Menurutnya, berbagai pembenahan sektor pangan yang dilakukan pemerintah mulai menunjukkan hasil konkret dan dirasakan langsung oleh petani di lapangan.

Hal itu disampaikan Said Didu dalam Dialog Swasembada Pangan bersama Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman di Romokalisari, Rabu (13/5).

“Jangan meragukan bahwa kita sudah swasembada pangan. Faktanya, kita sedang menuju kondisi yang kuat dan nyata. Petani sekarang happy karena hasil dan perhatian pemerintah mulai dirasakan,” ujar Said Didu.

Menurutnya, kemandirian pangan hanya dapat dicapai melalui dua langkah utama, yakni memberantas mafia pangan dan meningkatkan harkat serta martabat sektor pertanian. Ia menilai, kedua hal tersebut kini mulai dijalankan secara serius oleh pemerintah melalui kebijakan Kementerian Pertanian.

“Saya hormat betul. Kemandirian pangan intinya ada dua, yaitu hentikan mafia pangan dan naikkan harkat serta martabat pertanian. Dan itu sedang berlangsung sekarang dilakukan oleh Mentan Amran,” katanya.

Said Didu juga menyoroti polemik swasembada pangan yang selama ini kerap terjebak dalam perdebatan istilah dan diksi semata. Padahal, menurut dia, hal terpenting adalah kondisi riil yang dirasakan masyarakat.

“Intinya sederhana, beras tersedia dan harga tetap terjangkau. Jangan habiskan energi pada perdebatan istilah, tetapi lihat substansi dan kondisi nyata di lapangan,” ungkapnya.

Ia menilai salah satu persoalan klasik sektor pangan nasional selama bertahun-tahun adalah ketidaksinkronan data antar lembaga. Kondisi tersebut, kata dia, kerap membuka celah permainan mafia pangan. Karena itu, langkah pemerintah menghadirkan sistem komando satu data dinilai menjadi terobosan penting dalam memperbaiki tata kelola pangan nasional.

“Dulu data sering berbeda-beda antar lembaga dan itu membuka ruang permainan mafia pangan. Sekarang mulai diluruskan melalui komando data satu. Ini langkah penting untuk menutup celah para pemain,” ujarnya.

Tak hanya itu, Said Didu juga mengapresiasi keberanian pemerintah dalam membenahi rantai distribusi pangan nasional. Menurutnya, upaya pemberantasan mafia pangan menjadi fondasi utama menuju kemandirian pangan yang berkelanjutan.

Ia menambahkan, pendekatan pemerintah saat ini dinilai berbeda karena lebih fokus mendorong petani meningkatkan produksi melalui jaminan pendapatan serta penyediaan sarana produksi yang memadai.

“Saya baru kali ini melihat pendekatan yang benar-benar merangsang petani untuk berproduksi. Petani dijamin pendapatannya dan disiapkan sarana produksinya,” katanya.

Sebagai contoh, ia menilai biaya benih untuk satu hektare sawah relatif kecil dibanding potensi hasil panen yang diperoleh petani. Karena itu, percepatan produksi pangan tidak selalu harus dilakukan dengan meningkatkan produktivitas, melainkan juga melalui percepatan musim tanam.

“Saya melihat program pompanisasi sekarang berjalan sangat baik untuk mempercepat tanam di berbagai daerah,” ujarnya.

Di tengah situasi geopolitik global dan tekanan ekonomi dunia yang semakin tidak menentu, Said Didu menilai ketahanan pangan menjadi faktor penentu stabilitas sebuah negara. Karena itu, keberhasilan menjaga pasokan pangan nasional harus dipandang sebagai capaian strategis.

“Kalau pangan aman, negara aman. Indonesia sejahtera dan petani tertawa,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Said Didu juga menyampaikan apresiasi kepada Presiden Prabowo Subianto dan Mentan Amran yang dinilai serius menjadikan sektor pangan sebagai prioritas nasional.

“Saya melihat ada niat baik yang kuat untuk negeri ini, terutama di sektor pangan dan penyelamatan aset negara. Ini kebijakan nyata dan langka,” ujarnya.

Menutup pernyataannya, Said Didu kembali menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu ragu terhadap arah kebijakan pangan nasional selama stok pangan tersedia, distribusi berjalan baik, dan petani memperoleh manfaat ekonomi secara langsung.

“Sekali lagi, jangan meragukan swasembada pangan Indonesia. Faktanya sedang berjalan dan dirasakan langsung oleh petani,” tutupnya.

Reporter : Eko
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018