Sunday, 07 June 2020


Ajak Generasi Muda Cintai Pertanian, Strategi Komunikasi Penting!

09 Dec 2019, 13:17 WIBEditor : Yulianto

Generasi muda menjadi penerus pembangunan pertanian | Sumber Foto:Julian

Untuk mengajak petani lebih maju, yang perlu dilakukan adalah membangun ruang komunikasi

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta--- Tantangan pembangunan pertanian di Indoensia cukup besar. Dari mulai lahan pertanian yang makin sempit, perubahan iklim hingga persoalan data pertanian.

Namun dari banyaknya tantangan di dunia pertanian, masalah regenerasi petani pun menjadi persoalan sendiri. Tenaga kerja pertanian umumnya sudah berusia lanjut, tapi di sisi lain generasi muda enggan terjun ke dunia pertanian.

Untuk mengajak generasi muda mencintai pertanian, Dosen Komunikasi Pembangunan IPB University, Anissa Utami Seminar menyarankan, pemerintah perlu membuat strategi komunikasi, baik yang nyata maupun terselubung agar bisa mengubah pola pikir masyarakat terhadap pertanian. “Kita perlu mere-branding pertanian agar generasi muda mencintai pertanian,” ujarnya.

Sementara untuk mengajak petani lebih maju, menurut Anissa, yang perlu dilakukan adalah membangun ruang komunikasi. Di ruang komunikasi itu, tidak ada lagi perbedaan jabatan, pangkat dan pendidikan.

“Semua mempunyai kesempatan untuk berbicara dan mengungkapkan pendapat. Jadi di ruang komunikatif itu jadikan petani tidak malu mengungkapkan masalahnya,” katanya seraya menambahkan, karena tujuan ruang komunikasi itu adalah area ekspresi masalah petani dan mencari solsi terhadap masalah yang berkembang.

Apalagi berdasarkan hasil penelitian dari Aceh hingga NTT, ungkap Anissa, ternyata tiap wilayah mempunyai kebutuhan informasi yang berbeda-beda. Misalnya di Sumatara Utara terkait dengan pekerja wanita di lahan perkebunan sawit, sedangkan di Jawa cenderung persoalan pertanian organik. “Jadi kebutuhan berbeda tiap wilayahnya,” ujarnya.

Catatan penting lagi yang perlu mendapat perhatian menurut Anissa, ternyata sumber informasi pertama yang kredibel bagi petani berasal dari petani yang berpengalaman. Sumber informasi selanjutnya adalah pakar/akademis yang berpihak ke petani. “Justru yang disayangkan petani justru tidak begitu percaya dengan penyuluh pertanian, karena dianggap sebatas menjadi agen penjualan pupuk dan pestisida,” ungkapnya.

Mengenai inovasi dan teknologi, Anissa mengatakan, hasil penelitian petani menganggap teknologi itu mahal. Akibatnya, meski petani mengetahui teknologi tersebut bermanfaat, tapi karena tidak ada akses, akhirnya teknologi tersebut ditinggalkan. “Petani kecil yang tidak tergabung dengan kelompok tani dan gapoktan pun tidak pernah menerima bantuan pemerintah,” tambahnya.

Reporter : Indriastari/Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018