
Ismail bersama petani menggarap lahan BPP
TABLOIDSINARTANI.COM, Bone--Turun langsung membantu petani untuk meningkatkan hasil pertanian menjadi bagian hidup Ismail. Sebagai Kepala Balai Penyuluhan Pertanian/Koordinator PPL Kecamatan Salomekko, Sulawesi Selatan, memang itu sudah menjadi bagian dari tugas sebagai penyuluh.
Namun ada rasa bahagia tersendiri bagi Ismail ketika berada di dekat petani. Apalagi kemudian mereka dapat meningkatkan produktivitas tanamannya. “Saya turun langsung untuk membina petani agar hasil panennya berlipat dan penanamannya pun sesuai dengan standar yang ada,” katanya pada Tabloid Sinartani.
Ismail mengakui banyak suka duka menjadi penyuluh. Sukanya, adalah rasa bahagia bisa menyampaikan informasi dan materi penyuluhan yang bermanfaat bagi petani. Bahkan bisa saling kenal dan mengetahui karakter dan adat istiadat pada wilayah binaan dan menikmati kebersamaan dengan petani setiap saat.
“Yang tak kalah bahagianya adalah ketika melihat hasil produksi pertanian petani meningkat dari musim sebelumya. Kalau sudah begini, biasanya petani memberikan oleh-oleh hasil pertanian untuk dibawah pulang,” tuturnya.
Sementara dukanya menjadi penyuluh adalah jam kerja yang harus mengikuti kesepakatan petani, tidak kenal waktu mulai pagi sampai malam harus melayani petani. Apalagi mengubah pola pikir petani juga tak mudah.
“Mengubah pengetahuan, keterampilan dan sikap petani butuh waktu lama, karena terkadang ada kebiasaan petani yang juga tidak mudah ditinggalkan. Ini menjadi duka yang harus dijalani secara ikhlas,” ujarnya.
Ismail menceritakan, dirinya mulai menjadi penyuluh tahun 2007 yaitu ketiak lulus menjadi Tenaga Harian Lepas Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian ( THL-TBPP) di Kabupaten Sinjai Sulawesi. “Saya bertugas selatan selama 2 tahun yakni 2007 sampai 2008,” katanya.
Tahun 2009-2012 Ismail dipindahkan dan bertugas di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. Tahun 2013 dirinya dipindah lagi ke Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan dan ditempatkan di Kecamatan Tonra. “Tahun 2017 saya diangkat jadi CPNS melalui pengangkatan dari THL-TBPP menjadi CPNS,” katanya.
Namun pada Tahun 2019, Ismail dipindahtugaskan ke Kecamatan Salomekko Kab. Bone sebagai Pimpinan Pertanian Kecamatan (PPK) sekaligus sebagai Penyuluh Pertanian. Tahun 2020 diangkat menjadi Koordinator Penyuluh Pertanian di Kecamatan Salomekko, Kab. Bone.
“Jadi sampai sekarang saya harus menjalankan amanah yang diberikan sebagai PPK, Koodinator Penyuluh dan sekaligus sebagai Penyuluh Pertanian juga. Jumlah kelompok tani yang harus kami bina yaitu sebanyak 168 kelompok,” tuturnya.
Contoh di Lahan BPP

Sebagai tempat percontohan petani, Ismail membudiayakan lahan di BPP dengan berbagai produk hortikultura. Diantaranya cabai seluas seluas 0,40 ha, pare sekitar 0,10 ha, timun 0,10 Ha. “Masih ada sekitar 1 ha lahan BPP yang rencana akan kami kembangkan lagi cabe keriting, cabe rawit, semangka, melon dan sayuran lainnya,” katanya.
Untuk cabai, Ismail membudidayakan tanam cabai varietas Pilar F1. Hingga kini sudah panen lima kali dengan jumlah produksi sebanyak 5.400 kg. Untuk pemasarannya, selama ini ke Kalimantan dan sebagian kecil dipasar lokal.
Namun Ismail mengaku, harga yang ada dipasaran tidak menentu. Kadang bisa mencapai Rp 24 ribu/kg, tapi juga bisa hanya Rp 10 ribu/kg. “Harga tidak stabil untuk saat ini,” ujarnya.
Selain masalah harga, Ismail juga melihat, kendala petani saat ini adalah prasarana dan sarana yang sangat minim. Misalnya, hand tractor untuk mengolah tanah, petani harus menyewa, kebutuhan air juga masih sangat terbatas. Kendala teknis lainnya yaitu banyaknya serangan hama dan penyakit yang susah dikendalikan seperti lalat buah dan layu fusarium.
“Harapan kami dan petani adalah agar kiranya bisa membantu berupa pengadaan alsintan hand traktor roda 2 dan tractor roda 4, pengadaan sumur bor, pengadaan mulsa, serta menyiapkan pasar dengan harga yang stabil,” ungkapnya.