Saturday, 29 January 2022


M. Dahyar Adiguna, Setia Menemani Petani Rawa dan Pekebun Karet

10 Jan 2022, 11:49 WIBEditor : Gesha

Penyuluh Dahyar ketika mendampingi petani | Sumber Foto:BPTPH Sumsel

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Kesetiaan penyuluh di daerah, tidak perlu diragukan lagi. Seluruh potensi daerah bisa tergarap dengan baik berkat kesetiaan dan loyalitas penyuluh. Seperti Penyuluh dari Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur (OKU Timur), Sumatera Selatan yang setia mendampingi mulai dari petani rawa hingga pekebun karet agar bisa meningkatkan kesejahteraan hidup mereka.

Penyuluh itu bernama M. Dahyar Adiguna. Sebagai Koordinator BPP Buay Pemuka Bangsa Raja, Kabupaten OKU Timur, Sumsel, pria kelahiran 37 mengawali karir sebagai penyuluh pada tahun 2009 dalam program pengadaan THL–TBPP. Melalui program pengangkatan CPNS jalur THL, tahun 2017 Dahyar menjadi Penyuluh Pertanian Lapangan berstatus PNS.

Kecamatan Buay Pemuka Bangsa Raja mempunyai 7 desa dan 3 desa terbelah sungai besar yang mengalir sepanjang tahun yaitu Sungai Komering. Lahan pasang surut atau gambut ini sebagian besar berada di seberang sungai tersebut. Luas lahan sawah di Kecamatan Buay Pemuka Bangsa Raja, Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur (OKU Timur), Sumatera Selatan mencapai 4.111,5 ha. Dari luasan itu 1.854 ha merupakan lahan pasang surut atau lahan gambut di areal rawa, sisanya merupakan sawah irigasi teknis serta tadah hujan.

“Jika potensi lahan rawa ini dapat dimaksimalkan, maka pastinya tidak hanya kesejahteraan petani yang meningkat dan ketersediaan cadangan pangan tetap aman,” ungkapnya. Dahyar mengakui, budidaya di lahan rawa selama masa pemeliharaan tanaman, terutama diawal musim tanam banyak sekali kendala yang dihadapi. Misalnya, jika musim hujan yang ditunggu tidak kunjung datang, maka petani terpaksa harus bergotong royong membawa mesin pompa air ke seberang sungai agar bisa memanfaatkan air sungai Komering untuk mengairi sawah.

Bukan hanya itu, untuk pengairan bisa memakan waktu 3-4 hari, bahkan tak jarang petani terpaksa harus menginap di persawahan. “Bisa dibayangkan hanya untuk mengairi sawah, petani harus menyeberangkan pompa air dan menginap paling sedikit tiga malam di areal persawahan,” tuturnya.

Menurutnya, lokasi lahan pertanian yang berada di seberang sungai Komering, menjadikan perahu sebagai satu-satunya akses yang dapat membawa sarana dan prasarana pertanian seperti hand traktor, sarana produksi hingga hasil panen. Untuk distribusi hasil panen, petani membawa hasil panen dengan menggunakan ojek gabah. Padahal ongkos ojek gabah dari lahan sangat mahal, bisa tiga kali lipat dari ongkos ojek gabah umumnya di lahan yang sudah terdapat akses jalannya. Dahyar mengungkapkan, tidak semua lahan rawa dapat diolah seperti lahan sawah irigasi.

Di beberapa lokasi pengolahan hanya dilakukan dengan pembuatan parit secara manual yang fungsinya mengalirkan air dan mengurangi genangan. Sedangkan pada lokasi yang masih tergenang air di musim kemarau, tetap dilakukan pembajakan dengan hand traktor yang dibawa menggunakan perahu penyebrangan. Pada lokasi penanaman yang benar-benar tanpa pembajakan, lanjutnya, petani menanam padi dengan sistem gejik atau tabela (tanam benih langsung). Namun untuk lahan yang bisa dibajak menanam padi dengan sistem pindah tanam.

“Petani di wilayah ini pada umumnya menyemai padi di lahan sawah irigasi, kemudian saat pindah tanam mereka membawanya dengan perahu ke lokasi pertanaman,” kata Dahyar. Menurutnya, produktivitas padi di lahan rawa hampir mendekati lahan irigasi. Terlihat dari hasil ubinan musim panen tahun 2019 mencapai 6.25 ton/ha gabah kering panen (GKP). Namun petani hanya bisa menanam satu kali dalam setahun.

Selain mendampingi petani rawa, Dahyar juga mendampingi pekebun karet dalam pembinaan pengolahan dan pemasaran bahan olahan karet rakyat (Bokar) di Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar (UPPB) Sumber Jaya. Seperti diketahui, untuk mendapat peluang pasar dari produsen /pelaku usaha produk karet, diperlukan perbaikan mutu bahan olahan karet (Bokar).

Karenanya, guna meningkatkan mutu Bokar, perlu dilakukan pengawasan terhadap mutu di kelompok tani/ Gapoktan maupun UPPB.  UPPB Sumber Jaya ini menjadi tempat pelelangan resmi yang dapat mengontrol langsung harga dengan menjamin mutu karet.  Kedepan Dahyar akan mengupayakan pelelangan yang berbasis digital. ”Kita akan memperbesar kapasitas tampung dan menambah mitra perusahaan sehingga proses jual beli hasil petani karet disini memiliki daya jual yang bagus,” ungkapnya.

Pelatihan Alsintan

Sebagai Koordinator BPP Buay Pemuka Bangsa Raja, Kabupaten OKU Timur, Sumsel, M. Dahyar Adiguna telah telah melakukan beberapa program inovasi pertanian. Baik secara teknis maupun sosial yang hasilnya dirasa tepat sasaran dan dapat dirasakan langsung oleh petani di wilayah binaan. “Salah satunya semakin berkembangnya teknologi bidang pertanian, khususnya bidang alat mesin pertanian,” kata Dahyar.

Bahkan agar petani tidak tertinggal kemajuan teknologi, dirinya berinisiatif untuk mengenalkan dan memberikan pelatihan pada petani di desa binaan. Misalnya dengan menghadirkan beberapa produsen alsintan pasca panen. Loyalitas dari Dahyar inilah yang membawanya menjadi bagian Penyuluh Pertanian Berprestasi 2021 dalam Apresiasi Sumberdaya Manusia Pertanian 2021 dari Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian yang disematkan langsung Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, Desember 2021 lalu.

Namun penghargaan ini menjadi cambuk bagi dirinya untuk bisa terus berprestasi dan mendampingi petani di daerah binaannya. Sekaligus tetap belajar tekun untuk menyelesaikan permasalahan dan pendampingan petani.

Reporter : NATTASYA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018