
Melalui upaya Peningkatan Kapasitas GESI (Gender Equity & Social Inclusion), Polbangtan Bogor membuka peluang baru bagi generasi milenial untuk Kesetaraan Gender dan Inklusi Sosial dalam pembangunan berkelanjutan
TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor -- Melalui upaya Peningkatan Kapasitas GESI (Gender Equity & Social Inclusion), Polbangtan Bogor membuka peluang baru bagi generasi milenial untuk Kesetaraan Gender dan Inklusi Sosial dalam pembangunan berkelanjutan
Peningkatan Kapasitas GESI (Gender Equity & Social Inclusion) di Jawa Barat menargetkan GESI pada setiap kecamatan wajib tercapai dengan proporsi 50 persen-50 persen.
Contohnya di Kabupaten Cianjur,proporsi GESI di baru mencapai 58 persen pria dan 42 persen wanita. Untuk mencapai target, fasilitator pemuda perlu meningkatkan partisipasi wanita sebesar 8 persen dalam program Youth Entrepreneur and Employment Support Services (YESS).
Selain Cianjur, Kabupaten lain yang didukung oleh YESS PPIU Jawa Barat, yaitu Kabupaten Cianjur, Sukabumi, Tasikmalaya, Subang, dan Bogor juga harus meningkatkan prosentasenya. Karena itu, Tim PPIU Jawa Barat berperan dalam memastikan pencapaian target GESI.
Sosialisasi mengenai GESI oleh Tim PPIU Jawa Barat dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk Konsultan TVET, Supporting Staff, DIT dari setiap kabupaten, Financial Advisor, Mobilizer, dan Fasilitator Muda.
Dalam acara tersebut, Asiah, yang merupakan bagian dari Tim DIT Cianjur, menyampaikan pesan Kepala Dinas yang mengingkan GESI menjadi salah satu indikator kinerja Fasilitator Pemuda, sebagai langkah penting untuk mencapai target unsur GESI.
"Bahkan, untuk memudahkan pemahaman, pastikan GESI di setiap Kecamatan selalu didampingi dan hasil pelatihan unsur GESI dapat terus diintervensi melalui berbagai kegiatan lainnya, sehingga mencapai target GESI pada setiap kegiatan," pesannya.
Yohannes Sugandi, selaku Konsultan TVET YESS PPIU Jawa Barat, mengungkapkan bahwa dari tahun 2021 hingga 2023, proporsi unsur GESI mencapai 70 persen untuk pria dan 30 persen untuk wanita.
"Karena itu, pencapaian GESI saat ini baru mencapai 30 persen. Untuk mencapai target GESI, diperlukan upaya keras. Mobilizer dan Fasilitator Pemuda memiliki tugas penting dalam mengejar dan mengidentifikasi unsur GESI di wilayah mereka masing-masing," ujar Sugandi.
Sugandi juga menyoroti masalah GESI yang seringkali melibatkan ketidaksetaraan gender antara pria dan wanita. Dengan keterlibatan GESI, mereka dapat berkontribusi dalam pembangunan pertanian.
"Unsur GESI bisa ditingkatkan melalui pelatihan lanjutan, dukungan keuangan, dan berbagai pelatihan lain yang memberikan manfaat kepada GESI itu sendiri," tambah Sugandi.
Terdapat 19.917 orang yang telah mengalami intervensi, dan 4.365 di antaranya telah mengikuti pelatihan lebih dari 2 kali. Hal ini memengaruhi data peserta pelatihan dalam program YESS. Oleh karena itu, perlu perhatian khusus dari semua pihak agar setiap penerima manfaat hanya dapat mengikuti pelatihan yang sama sekali.
Sugandi menjelaskan, jumlah peserta pemagangan sejak 2021 hingga 2023 telah mengalami banyak perubahan. Pemagangan tahun 2023 diharapkan dapat membantu pengembangan usaha, dan tempat-tempat pemagangan yang telah disiapkan dapat direplikasi, baik dari segi teknologi maupun cara berusaha.
"Oleh karena itu, fasilitator pemuda diharapkan dapat mengidentifikasi tempat-tempat pemagangan yang dapat dijadikan contoh untuk kegiatan usaha," jelasnya.
Namun, Peserta pemagangan dari unsur GESI masih sedikit, menciptakan ketimpangan antara peserta laki-laki dan perempuan. "Pada tahun 2023, terdapat 242 orang penerima manfaat dari Program YESS di PPIU Jawa Barat yang telah menyiapkan proposal usaha berkualitas, realistis, dan data yang valid. Hal ini tidak lepas dari peran penting fasilitator pemuda dalam membimbing calon penerima manfaat dalam menyusun proposal mereka," tambahnya.
Tentu saja, kiprah fasilitator muda sangat diapresiasi oleh Menteri Pertanian. Kementerian Pertanian memiliki komitmen kuat untuk mendukung generasi milenial yang ingin terlibat dalam pertanian dan berwirausaha di sektor ini. Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, secara konsisten menyampaikan pesan bahwa pertanian adalah bisnis yang menjanjikan, dan berbagai program telah dijalankan untuk mengubah persepsi generasi muda terhadap pertanian.
Menteri Syahrul juga mendorong Generasi Z untuk mengikuti perkembangan zaman, menjadi petani modern, atau mendirikan start-up di sektor pertanian.
Dedi Nursyamsi, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian, menegaskan pentingnya generasi milenial yang memiliki loyalitas dan integritas tinggi dalam memajukan sektor pertanian Indonesia.
Dedi menekankan bahwa pertanian harus dikelola oleh generasi milenial yang menggunakan kreativitas dan inovasi, sehingga pertanian di masa depan tidak hanya memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga bersifat ekspor. Saat ini, telah ada banyak petani milenial yang juga berperan sebagai pengusaha di bidang pertanian.