Wednesday, 15 July 2026


Untuk Milenial, Ini Strategi Terjun Bisnis Pertanian

31 Oct 2025, 13:26 WIBEditor : Yulianto

Jejaring Agripreneur, From Field To Feed: Mengubungkan Petani dan Pasar Lewat Jejaring Komunikasi yang berlangsung di Polbangtan Bogor, Kamis (29/10).

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor---Generasi muda kini mulai tertarik terjun ke dunia pertanian. Apalagi dalam memasarkan produk kian mudah dengan berkembangnya digitalisasi. Untuk petani muda, perlu strategi ketika berbisnis pertanian, khususnya memasarkan dengan cara online.

Dosen Program Manajemen Agribisnis Sekolah Vokasi IPB University, Doni Sahat Tua Manalu mengingatkan, dalam memasarkan produk melalui digital marketing, perlu adanya strategi untuk bisa menggaet konsumen, kemudian memberikan nilai pada produk dengan membuat brand pada produk, serta taktik. “Dengan demikian, komunikasi digital akan menggeser paradigma petani sebagai produsen menjadi petani sebagai brand,” tambahnya.

Doni melihat fenomena saat ini, petani konvesional, sudah melek digotal, tapi belum memanfaatkan digitalisasi. Bahkan, petani sering ragu pada harga pasar dan sistem pembelian online. “Hal ini bisa jadi karena petani jarang dikomunikasikan dengan nilai dan cerita dari value produksnya,” katanya saat Jejaring Agripreneur, From Field To Feed: Mengubungkan Petani dan Pasar Lewat Jejaring Komunikasi yang berlangsung di Polbangtan Bogor, Kamis (29/10).

Kondisi ini berbeda dengan petani milenial. Mereka sudah mampu memasarkan produknya melalui platform digital tanpa batasan ruang dan waktu. Apalagi konsumen modern lebih tertarik pada kisah dan keberlanjutan produk. ”Dengan memanfaatkan marketplace menjadi solusi bagi petani milenial untuk mengurangi rantai distribusi,” ujarnya.

Sebenarnya penerapan jejaring agribisnis sudah cukup banyak. Namun Doni berpesan, dalam komunikasi digital merketing, pelaku usaha harus transparan dan konsisten. Selain itu memberikan nilai dengan menunjukkan keunikan dan keunggulan produk yang dapat dirasakan konusmen. ”Jadikan digitali marketing sebagai investasi penting,” tegasnya.

Data BPS menyebutkan 83 persen petani milenial aktif di media sosial. Sayangnya, kurang dari 30 persen terhubung ke pasar digital. Sementara data Kementerian Perdagangan oada tahun 2024, nilai transaksi e-commerce agribisnis tumbuh di ayas 45 persen per tahun. Bahkan hampir 72 persen, pelaku agribisnis percaya komunikasi digital meningkatkan transparansi harga dan akses pasar. 

Sementara itu, Gde Deny Kharisma, owner PT Bukitmas Agritech Internasional berpesan kepada generasi muda yang ingn terjun ke dunia pertanian perlu strategi. Namun ia juga mengingatkan agar fokus  dan konsisten. “Jadi kita harus fokus dan konsisten dengan produksi yang akan kita jual,” ujarnya.

Kemudian, dalam manajemen harua ada leadership, menerapkan teknologi dan inovasi. Networking menurut Gde, juga menjadi aspek yang sangat krusial. Keberhasilan dalam proses agribisnis hingga pemasaran sangat bergantung dari kemampuan membangun jaringan dan merebut pasar.

Namun Gde juga mengingatkan, bagi generasi milienal yang akan memasarkan melalui digital marketing, sebaiknya melakukan mitigasi resiko agar nantinya tidak terganggu cashflow usahanya. “Memang marketplace membantu promosikan produk kita, tapi juga harus bijak dalam memanfaatkannya,” ujarnya.

Pesan lain dari Gde adalah dalam berbisnis juga harus terstruktur. Sebab yang nantinya menggerakan bisnis atau usaha adalah sistem, sedangkan pengelola hanya sebagai pihak yang melakukan manajemen.

Selain itu, perhatikan juga dalam pengelolaan keuangan harus disiplin. Meski mendapatkan keuntungan yang kecil harus dikelola dengan baik. “Kalau kita tidak disiplin, maka akan stress sendiri. Kalau dapat untung besar, jangan kemudian langsung foya-foya. Uang harus dikelola dengan baik,” tuturnya.

Hal lainnya, jika melakukan kemitraan, maka harus sama-sama untung. “Kita untung, pelaku usaha lainnya juga untung. Asal jangan sama-sama ngerjain,” ujarnya berseloroh. Jadi ketika akan terjun bisnis, termasuk bidang pertanian, harus melalui proses.

Gde sendiri sempat mengalami jatuh bangun dalam membangun usaha. Lulus kuliah dari ITB, diirnya bekerja di Bank Mandiri selama 4 tahun, kemudian keluar bBekerja di sebuah start up yang bergerak di pembiayaan online untuk UMKM dari tahun 2016-2017. Pada tahun 2017 ia memulai wirausaha dengan berjualan online sambil membuka agen JNE. Tahun 2021, Gde membangun usaha perbenihan dengan brand Tjap Bukit Mas.

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018