
Wamentan Sudaryono mengungkap peran krusial 38 ribu penyuluh pertanian di balik sukses swasembada beras 2025.
TABLOIDSINARTANI.COM, Grobogan -- Wamentan Sudaryono mengungkap peran krusial 38 ribu penyuluh pertanian di balik sukses swasembada beras 2025. Dari sawah hingga kebijakan, mereka jadi motor penggerak lonjakan produksi nasional.
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono membongkar peran besar 38 ribu lebih penyuluh pertanian dalam mengantarkan Indonesia mencapai swasembada beras pada akhir 2025.
Hal itu disampaikannya saat memberikan pembinaan kepada Penyuluh Pertanian Lapang (PPL) dan Brigade Pangan di Kantor Camat Godong, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Selasa (3/3/2026).
Sebanyak 750 peserta hadir dalam kegiatan tersebut.
“Berkat kerja sama semua pihak, Indonesia telah swasembada pangan dan tidak lagi impor beras!” tegas Sudaryono di hadapan para penyuluh.
Sudaryono pun menegaskan, keberhasilan swasembada beras bukanlah capaian instan.
Di baliknya ada kerja kolektif ribuan penyuluh yang mendampingi petani setiap hari di lapangan.
“Keberhasilan pangan Indonesia sangat bergantung pada performa penyuluh. Mereka adalah garda terdepan pertanian kita,” tegasnya.
Menurutnya, keberhasilan tersebut berdampak luas, bahkan hingga ke pasar global.
Ia menyebut harga beras dunia turun hingga setengahnya setelah Indonesia tidak lagi menjadi importir terbesar.
“Penyuluh berpengaruh besar dalam membawa kesejahteraan petani Indonesia, sekaligus mempunyai andil dalam memotong harga beras dunia,” ujarnya.
Sejak 1 Januari 2026, sebanyak 38.318 penyuluh pertanian resmi ditarik dari pemerintah daerah ke Kementerian Pertanian sesuai Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2025.
Kebijakan ini disebut sebagai langkah strategis untuk mempercepat pencapaian swasembada pangan.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menjelaskan penarikan penyuluh ke pusat bertujuan memperkuat konsolidasi program dan menyatukan komando di bawah Kementerian Pertanian.
“Jumlah penyuluh yang dipindahkan ke Kementerian Pertanian sejumlah 38.318 orang. Penyuluh di Jawa Tengah mencapai 3.302 orang yang tersebar di 35 kabupaten/kota,” jelasnya.
Idha menegaskan, penyuluh pertanian merupakan ujung tombak berbagai program strategis.
Mulai dari luas tambah tanam, optimasi lahan rawa dan non-rawa, pengembangan padi lahan kering, hingga akses petani terhadap Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Selain itu, penyuluh juga berperan dalam pendampingan penggunaan benih unggul, pemupukan efisien, serta penumbuhan Brigade Pangan sebagai bagian dari regenerasi pertanian yang adaptif terhadap teknologi.
“Penyuluh harus menjadi agen perubahan dan percepatan program-program utama Kementerian Pertanian,” paparnya.
Wakil Bupati Grobogan, Sugeng Prasetyo, menyambut baik kebijakan satu komando tersebut.
Ia menilai langkah ini akan mempercepat adopsi teknologi pertanian di tingkat petani.
“Kami berharap PPL memiliki arah kerja yang lebih jelas, terfokus, dan selaras dengan kebijakan nasional seperti swasembada pangan, modernisasi pertanian, serta ketahanan dan kemandirian pangan,” katanya.
Menurutnya, pembinaan karier, pelatihan, dan pengembangan kompetensi penyuluh dapat dilakukan secara lebih terstruktur dan seragam secara nasional sehingga meningkatkan profesionalisme tenaga penyuluh.
Sementara itu, Penanggung Jawab Brigade Pangan Kabupaten Grobogan yang juga Direktur Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan Yoma), R. Hermawan, menyebut kegiatan ini bertujuan memperkuat pemahaman penyuluh terhadap tugas di lapangan.
“Khususnya dalam menyukseskan program-program strategis Kementerian Pertanian, terutama Brigade Pangan,” ujarnya.