Tuesday, 18 August 2026


BPPSDMP Kawal PM-AAS dari Penyuluh hingga Pendidikan Vokasi, Wujudkan Panen Padi Maksimal

05 Aug 2026, 14:47 WIBEditor : Gesha

PM-AAS hadir membawa cara bertani yang lebih modern. Namun, keberhasilannya tetap bergantung pada penyuluh dan SDM pertanian yang siap mendampingi petani.

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta – PM-AAS hadir membawa cara bertani yang lebih modern. Namun, keberhasilannya tetap bergantung pada penyuluh dan SDM pertanian yang siap mendampingi petani.

Transformasi pertanian Indonesia kini tidak lagi hanya mengandalkan peningkatan penggunaan alat dan mesin pertanian (alsintan), benih unggul, atau teknologi digital di lahan sawah. 

Pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong perubahan yang lebih mendasar melalui penerapan Pertanian Modern Advanced Agricultural System (PM-AAS), sebuah pendekatan budidaya yang memadukan teknologi modern dengan penguatan sumber daya manusia (SDM) pertanian.

Di balik implementasi PM-AAS, terdapat peran strategis Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) yang bertugas memastikan setiap inovasi yang dikembangkan benar-benar dipahami dan diterapkan oleh petani. 

Melalui penyuluh pertanian, pelatihan yang terstruktur, hingga pendidikan vokasi, BPPSDMP membangun fondasi agar modernisasi pertanian tidak berhenti sebagai konsep, tetapi mampu menghasilkan peningkatan produktivitas secara nyata di lapangan.

Kepala Bagian Perencanaan dan Evaluasi BPPSDMP, Saptorini, mengatakan keberhasilan PM-AAS tidak cukup hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi. 

Menurutnya, faktor penentu justru terletak pada kesiapan SDM yang mendampingi petani dalam setiap tahapan budidaya.

"Keberhasilan PM-AAS memang tidak terlepas dari peran penyuluh pertanian di lapangan. Mulai dari persiapan, pelaksanaan hingga monitoring dan pengawalan kegiatan budidaya harus didampingi penyuluh," ujar Saptorini dalam Webinar: Pertanian Modern Advance Agriculture System (PM-AAS) yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani bersama PT. Pupuk Indonesia di Jakarta, Rabu (5/8).

Ia menegaskan, transformasi budidaya padi melalui PM-AAS bertujuan meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional. 

Karena itu, BPPSDMP memastikan seluruh proses implementasi berjalan secara sistematis melalui penguatan kompetensi SDM yang menjadi ujung tombak pendampingan petani.

Tiga Pilar Penggerak

Sebagai lembaga yang bertanggung jawab dalam pengembangan SDM pertanian, BPPSDMP menjalankan strategi melalui tiga pilar utama, yakni penyuluhan, pelatihan, dan pendidikan vokasi, ketiga pilar tersebut dirancang saling melengkapi. 

Penyuluhan berfungsi mempercepat diseminasi inovasi kepada petani, pelatihan meningkatkan keterampilan teknis dalam menerapkan teknologi modern, sedangkan pendidikan vokasi menyiapkan generasi muda yang akan menjadi pelaku utama pertanian masa depan.

Dengan pendekatan tersebut, implementasi PM-AAS tidak hanya diarahkan untuk mengejar peningkatan produksi dalam jangka pendek, tetapi juga membangun ekosistem pertanian modern yang berkelanjutan.

Berdasarkan materi yang dipaparkan BPPSDMP, strategi tersebut menjadi fondasi dalam mewujudkan sistem pertanian yang lebih efisien, produktif, adaptif terhadap perubahan iklim, sekaligus mampu menarik minat generasi muda untuk kembali melihat sektor pertanian sebagai bidang usaha yang menjanjikan.

Penyuluh Garda Terdepan

Dalam implementasi PM-AAS, penyuluh pertanian memegang peranan yang sangat penting. 

Mereka menjadi penghubung antara inovasi yang dikembangkan pemerintah dengan praktik budidaya yang dilakukan petani.

Peran tersebut dimulai sejak tahap persiapan dimana penyuluh bertugas melakukan identifikasi calon petani dan calon lokasi (CPCL), memastikan kesiapan lahan, mengecek ketersediaan sumber air, serta memastikan seluruh sarana produksi telah tersedia sebelum musim tanam dimulai.

Tahapan awal ini menjadi sangat penting karena keberhasilan budidaya tidak hanya ditentukan oleh teknologi yang digunakan, tetapi juga kesiapan lahan dan petani yang akan menerapkannya.

Untuk memastikan seluruh penyuluh memiliki pemahaman yang sama, BPPSDMP lebih dahulu menyelenggarakan Training of Trainers (ToT) melalui Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) di seluruh provinsi lokasi PM-AAS.

Pelatihan tersebut menjadi bekal bagi penyuluh agar mampu menyampaikan materi budidaya PM-AAS secara seragam sesuai petunjuk teknis yang telah disusun pemerintah.

"Kami sudah melaksanakan ToT kepada penyuluh. Selanjutnya penyuluh bertugas melatih sekaligus mendampingi petani dalam menerapkan PM-AAS sesuai standar budidaya," kata Saptorini.

Pendampingan yang dilakukan penyuluh tidak berhenti ketika proses tanam selesai dilakukan. 

Justru pada fase pertumbuhan tanaman, intensitas pendampingan semakin ditingkatkan.

Penyuluh terus memantau perkembangan tanaman, mengidentifikasi gejala serangan organisme pengganggu tanaman (OPT), memberikan rekomendasi pengendalian, hingga mengantisipasi berbagai risiko yang dapat menyebabkan gagal panen.

Selain itu, mereka juga memastikan seluruh bantuan alsintan maupun sarana produksi yang telah diterima kelompok tani dimanfaatkan secara optimal.

Pemanfaatan alsintan yang tepat diyakini mampu meningkatkan efisiensi budidaya sekaligus menekan biaya produksi petani.

Di sisi lain, penyuluh juga berkewajiban menyampaikan laporan perkembangan implementasi PM-AAS secara berkala sebagai bahan evaluasi pemerintah.

Menurut Saptorini, evaluasi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari setiap pelaksanaan program sehingga berbagai kendala yang ditemukan di lapangan dapat segera diperbaiki.

Sebagai bentuk keseriusan dalam mempercepat penerapan PM-AAS, pemerintah juga menetapkan target pendampingan yang jelas bagi setiap penyuluh.

Di Pulau Jawa, satu orang penyuluh mendapat tanggung jawab mendampingi implementasi PM-AAS di lahan seluas 100 hektare. 

Sementara di luar Jawa, target pendampingan mencapai 50 hektare per penyuluh.

Pendampingan dilakukan menggunakan pendekatan hamparan sehingga penerapan teknologi dapat berlangsung secara seragam dalam satu kawasan.

Melalui pendekatan tersebut, proses pembelajaran antarpetani juga diharapkan berlangsung lebih cepat karena mereka dapat melihat langsung hasil penerapan PM-AAS di lahan yang berdekatan.

Data BPPSDMP menunjukkan saat ini terdapat sekitar 37.538 penyuluh pertanian yang menjadi ujung tombak penyebarluasan teknologi PM-AAS di seluruh Indonesia.

Keberadaan ribuan penyuluh tersebut menjadi modal penting dalam mendukung target implementasi PM-AAS yang secara bertahap diarahkan menjangkau 1 juta hektare lahan sawah.

Pelatihan Percepat Adopsi Teknologi

Selain mengandalkan penyuluhan, BPPSDMP juga memperkuat implementasi PM-AAS melalui berbagai program pelatihan.

Materi yang diberikan tidak hanya berupa teori, tetapi juga praktik langsung di lapangan agar peserta mampu memahami penerapan teknologi secara menyeluruh.

Materi pelatihan meliputi metode tanam modern, pengelolaan air, pemupukan berimbang, pengendalian hama terpadu, penggunaan rice transplanter, drone pertanian, combine harvester, hingga mekanisasi budidaya.

Seluruh modul pelatihan tersebut telah disusun mengacu pada petunjuk pelaksanaan dari Balai Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP), sehingga standar budidaya yang diterapkan di berbagai daerah tetap seragam.

Setelah mengikuti pelatihan, penyuluh kemudian bertugas meneruskan pengetahuan tersebut kepada petani melalui sekolah lapang maupun kegiatan pendampingan di wilayah binaannya.

Dengan sistem berjenjang tersebut, proses transfer teknologi diharapkan berlangsung lebih cepat sekaligus meminimalkan kesalahan dalam penerapan budidaya.

Pendidikan Vokasi, Talenta Pertanian Modern

BPPSDMP juga memandang bahwa keberhasilan PM-AAS harus dibarengi dengan regenerasi petani.

Melalui Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) dan PEPI, pemerintah menyiapkan generasi muda yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan pertanian modern.

Mahasiswa tidak hanya mempelajari teori budidaya, tetapi juga dibekali kemampuan mengoperasikan alsintan modern, drone pertanian, Internet of Things (IoT), digital farming, hingga manajemen usaha tani berbasis teknologi.

Menariknya, proses pembelajaran lebih banyak dilakukan melalui praktik lapangan sehingga mahasiswa telah terbiasa menggunakan teknologi yang sama dengan implementasi PM-AAS.

Pendekatan tersebut diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang siap menjadi penyuluh, operator alsintan, konsultan pertanian, maupun wirausahawan muda yang mampu mempercepat transformasi sektor pertanian.

Dengan semakin banyaknya SDM muda yang menguasai teknologi, modernisasi pertanian diharapkan dapat terus berlanjut dalam jangka panjang.

Pendampingan Lapangan

Dalam pelaksanaannya, BPPSDMP juga membangun sistem pendampingan yang terintegrasi mulai dari pemetaan lokasi, penyusunan jadwal tanam, kesiapan sarana produksi, hingga monitoring dan evaluasi.

Pendampingan dilakukan bersama berbagai pihak, termasuk BRMP, BPSIP, Brigade Pangan, pemerintah daerah, dan kelembagaan petani.

Kolaborasi tersebut bertujuan memastikan seluruh tahapan budidaya berjalan sesuai standar sehingga hasil yang diperoleh petani dapat optimal.

Selain melakukan pendampingan teknis, penyuluh juga didorong aktif mengikuti rapat koordinasi di tingkat provinsi maupun kabupaten untuk mengevaluasi perkembangan implementasi PM-AAS sekaligus mencari solusi atas berbagai persoalan yang muncul di lapangan.

Saptorini menegaskan seluruh peran BPPSDMP tersebut bermuara pada tujuan besar pemerintah, yakni meningkatkan produktivitas pertanian, memperkuat kesejahteraan petani, serta mendukung swasembada pangan nasional.

Melalui PM-AAS, pemerintah berharap produktivitas padi meningkat, efisiensi budidaya semakin baik, penggunaan teknologi modern semakin luas, serta regenerasi petani berjalan lebih cepat.

"Peran BPPSDMP adalah memastikan implementasi PM-AAS berjalan lebih terarah, berkelanjutan, dan berdampak. Penyuluh menjadi agen perubahan yang terus memotivasi, mendampingi, dan mengawal petani dalam menerapkan PM-AAS agar produktivitas meningkat, pendapatan petani bertambah, dan swasembada pangan dapat diwujudkan secara berkelanjutan," ujar Saptorini.

Ia menambahkan, keberhasilan program ini membutuhkan kolaborasi seluruh pihak, mulai dari penyuluh, lembaga pelatihan, perguruan tinggi vokasi, Brigade Pangan, pemerintah daerah, hingga petani sebagai pelaku utama di lapangan.

Dengan dukungan lebih dari 37 ribu penyuluh pertanian, sistem pelatihan yang berjenjang, pendidikan vokasi yang menyiapkan talenta muda, serta target implementasi PM-AAS hingga 1 juta hektare, BPPSDMP optimistis transformasi pertanian Indonesia akan berjalan lebih cepat.

Pada akhirnya, PM-AAS membuktikan bahwa modernisasi pertanian bukan sekadar menghadirkan drone, sensor digital, atau alsintan canggih di lahan sawah. 

Yang lebih penting adalah membangun manusia yang mampu mengoperasikan, mendampingi, dan mengembangkan teknologi tersebut. 

Melalui penguatan penyuluhan, pelatihan, dan pendidikan vokasi, BPPSDMP memastikan bahwa inovasi pertanian tidak berhenti di atas kertas, tetapi benar-benar menghasilkan panen yang lebih tinggi, pendapatan petani yang meningkat, serta memperkuat fondasi menuju swasembada pangan Indonesia secara berkelanjutan.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018