
Polbangtan Gowa menjalani asesmen BAN-PT selama dua hari untuk mengevaluasi mutu pendidikan, memperkuat tata kelola, dan mencetak SDM pertanian unggul.
TABLOIDSINARTANI.COM, Gowa – Polbangtan Gowa menjalani asesmen BAN-PT selama dua hari untuk mengevaluasi mutu pendidikan, memperkuat tata kelola, dan mencetak SDM pertanian unggul.
Kualitas pendidikan pertanian tak cukup hanya diukur dari kemampuan menghasilkan lulusan.
Tata kelola kampus, mutu pembelajaran hingga kesiapan mencetak tenaga profesional juga menjadi sorotan.
Inilah yang tengah dihadapi Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Gowa saat menjalani asesmen lapangan dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT).
Evaluasi yang berlangsung selama dua hari, 4-5 November 2026, tersebut menjadi momentum penting bagi Polbangtan Gowa untuk membenahi sekaligus mengukur kualitas penyelenggaraan pendidikan tinggi vokasi pertanian.
Bukan sekadar pemeriksaan administrasi, asesmen ini juga menjadi kesempatan untuk melihat sejauh mana kampus di bawah Kementerian Pertanian tersebut mampu menjalankan pendidikan yang transparan, profesional, dan akuntabel.
Dua asesor BAN-PT, yakni Mulyono S. Baskoro dari IPB Bogor dan Vera Amelia dari Universitas Palangka Raya, terlibat dalam proses asesmen yang dilaksanakan secara daring.
Kehadiran tim asesor menjadi bagian penting dalam mengevaluasi kesesuaian penyelenggaraan pendidikan dengan standar mutu dan ketentuan pendidikan tinggi.
Aspek yang menjadi perhatian mencakup pelayanan akademik dan nonakademik, tata kelola kelembagaan, hingga keberlanjutan sistem penjaminan mutu.
Bagi Polbangtan Gowa, evaluasi tersebut memiliki arti lebih luas.
Perguruan tinggi vokasi pertanian dituntut tidak hanya menghasilkan lulusan yang mengantongi ijazah, tetapi juga tenaga kerja yang benar-benar menguasai kompetensi, teknologi, dan kebutuhan sektor pertanian modern.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan, peningkatan kualitas pendidikan vokasi merupakan salah satu kunci menyiapkan sumber daya manusia pertanian yang unggul.
Ia meminta asesmen tidak berhenti sebagai kegiatan untuk memenuhi persyaratan akreditasi.
Sebaliknya, hasil evaluasi harus dimanfaatkan untuk mendorong perubahan nyata dalam sistem pendidikan pertanian.
"Kita membutuhkan lulusan pertanian yang kompeten, profesional, menguasai teknologi, serta siap berkontribusi dalam mewujudkan pertanian modern dan berkelanjutan," tegas Amran.
Menurutnya, Polbangtan Gowa harus mampu melakukan transformasi pendidikan yang lebih adaptif, inovatif, transparan, dan berorientasi pada hasil.
Pesan serupa disampaikan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti.
Ia menilai asesmen lapangan harus menjadi bagian dari upaya membangun budaya mutu di lingkungan pendidikan tinggi pertanian.
Artinya, peningkatan kualitas kampus tidak boleh hanya dilakukan ketika menghadapi proses akreditasi.
Perbaikan harus menjadi pekerjaan berkelanjutan, mulai dari kualitas pembelajaran hingga kompetensi lulusan.
Idha juga mendorong Polbangtan Gowa terus berinovasi agar mampu menghasilkan sumber daya manusia pertanian yang unggul, berdaya saing, dan siap menghadapi tantangan pertanian modern.
Sementara itu, Kepala Pusat Pendidikan Pertanian, Muhammad Amin, menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap proses akademik dan tata kelola institusi.
Menurutnya, asesmen lapangan dapat membantu kampus mengidentifikasi potensi, mengukur capaian, sekaligus menemukan bagian yang masih membutuhkan pembenahan.
Ia mengingatkan agar penjaminan mutu tidak sekadar menjadi urusan dokumen dan administrasi.
Seluruh satuan pendidikan di lingkungan Kementerian Pertanian didorong menjadikan budaya mutu sebagai bagian dari aktivitas kerja sehari-hari.
Direktur Polbangtan Gowa, Ismaya Nita Rianti Parawangsa, menyambut pelaksanaan asesmen tersebut dengan menyampaikan apresiasi kepada tim asesor BAN-PT.
Ia berharap seluruh rangkaian evaluasi berjalan lancar dan memberikan hasil terbaik bagi pengembangan institusi.
Dengan mengucapkan basmalah, Ismaya secara resmi membuka kegiatan asesmen lapangan.
Melalui evaluasi ini, Polbangtan Gowa menegaskan komitmennya memperkuat sistem penjaminan mutu internal, meningkatkan pelayanan pendidikan, serta membangun tata kelola perguruan tinggi yang lebih transparan dan akuntabel.
Tantangan berikutnya adalah memastikan evaluasi tersebut benar-benar menghasilkan perbaikan.
Sebab, kualitas pendidikan pertanian pada akhirnya akan terlihat dari kemampuan kampus melahirkan lulusan profesional, menguasai teknologi, dan mampu menjawab kebutuhan dunia kerja.
Di tengah tuntutan modernisasi pertanian, kualitas sumber daya manusia menjadi salah satu penentu keberhasilan pembangunan sektor pangan nasional.
Karena itu, pembenahan pendidikan vokasi pertanian bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan.