Tuesday, 16 June 2026


Eva Lasti A. Madarona, sang Pionir Edible Flower Indonesia

15 Apr 2020, 15:30 WIBEditor : Yulianto

Eva sang pionir edible flower Indonesia

TABLOIDSINARTANI.COM, Bandung---“Kita dapat belajar dan melakukan apapun yang menjadi passion (ketertarikan yang kuat) kita, asalkan kita mau melakukannya dengan tekun. Satu-satunya kendala yang harus kita lawan adalah 'malas'.”

Begitulah prinsip  Eva Lasti Apriyani Madarona, S.Hum,  kelahiran Jakarta 1983. Biasa dipanggil Eva dan pernah menempuh pendidikan di Universitas Indonesia jurusan Sastra Arab ini, justru kini terjun di dunia pertanian. Awalnya sekitar tahun tahun 2013, ia menekuni budidaya sayuran dengan cara hidroponik. 

Eva belajar hidroponik secara otodidak dari berbagai literatur yang didapatkan melalui berbagai sumber. Diantaranya dari komunitas facebook, seminar, dan melihat langsung ke kebun besar hidroponik.

  

Usaha yang ditekuni itu melangkah secara perlahan, tapi pasti. Kini ia  menyediakan berbagai sarana hidroponik seperti sistem bertanam NFT (nutrient film technique), nutrisi, benih, media tanam dan lain-lain, sampai kepada paket pelatihan. Bahkan Eva juga menjadi konsultan dan pelatih (trainer) untuk proyek-proyek bantuan NGO (non-government organization) dan pemerintah mengenai hidroponik.

Namun sejak tahun 2017, Eva mulai mengembangkan kegiatannya yakni memproduksi edible flowers di kebun hidroponiknya di Bandung. Edible flowers  adalah istilah untuk jenis tanaman bunga yang aman untuk dikonsumsi, baik sebagai layaknya sayuran atau herbal.

Di Indonesia sendiri, penggunaan bunga hias untuk bahan makanan baru mulai ramai sejak tahun 2016. Namun di beberapa negara Asia, Eropa dan di Timur Tengah, bunga telah menjadi bagian dari kuliner. 

Di Indonesia ada beberapa bunga jenis bunga, seperti pohon turi (Sesbania grandiflora L.), bunga pohon pepaya (Carica papaya L.), bunga telang (Clitoria ternatea), bunga mawar (Rosa gallica officinalis), bunga kenikir (Cosmos caudatus) dan bunga kertas (Zinnia elegans) sudah sejak lama dijadikan bahan makanan atau  minuman.

Namun umumnya konsumen memakai bunga-bunga ini sebagai garnish atau penghias makanan. Tekstur, rasa, dan aromanya yang unik menjadikan bunga kini makin populer sebagai bahan kreatif dan inovatif dalam dunia kuliner.

Tidak Semua Bunga Edible

Sebagai pioneer budidaya edible flower di Indonesia, Eva mengingatkan tidak semua bunga dapat atau layak dikonsumsi. Ada persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi, mulai dari jenis tanaman, bebas pestisida sampai cara budidaya.

Menurut Eva, budidaya edible flower  tidak membutuhkan banyak ruang, sehingga banyak diminati hobbies. Bahkan ikut membantu program pemerintah dalam pengembangan urban farming. “Saya optimis dengan usaha ini, karena semakin banyak kalangan yang menaruh minat terhadap edible flowers,”  kata Eva yang kini memiliki 8 orang pekerja,

Eva menyarankan, berdasarkan pengalaman selama ini, waktu terbaik untuk memetik bunga-bunga segar untuk dimakan itu adalah di pagi hari. Biasanya pekerja di “Eve Edible Flowers” memanen bunga mulai pukul 5:30-7:00 pagi.

Bunga yang telah dipetik, segera disortasi, dikemas dan langsung diberangkatkan pagi itu juga ke suplier-suplier yang akan memasok  bunga itu dalam keadaan segar ke hotel atau restoran. Bunga-bunga tersebut dapat dimakan utuh seluruh bagiannya, tapi ada sebaiknya hanya bagian kelopaknya saja,” katanya.

Namun demikian, Eva mengakui, masih mengandalkan benih impor yang memang khusus untuk  edible flower.   Jenis bunga yang dibudidayakan antara lain pansy (Viola x wittrockiana), viola (viola odorata), dianthus (Dianthus caryophyllus), cosmos (Cosmos sulphureus), marygold (Calendula officinalis), geranium (Pelargonium cucullatum), elderflowers (Sambucus canadensis), torenia (Torenia fournieri) dan lain-lain.

Eva mengungkapkan, beberapa tahun terakhir, hotel, restoran dan catering ternama di Indonesia sudah menambah edible flower atau microgreen (sayuran muda)  dalam hidangan mereka. Edible flower dan microgreen adalah bagian dari komponen hidangan.

Setiap edible flower dan microgreen memiliki warna dan rasa yang berbeda dan unik. Kehadirannya akan membuat sajian menjadi lebih menarik dan  terlihat beda dari yang lain. “Namun, sejak merebaknya wabah Covid-19, penjualan bunga langsung hilang 95 persen,” ujarnya.

Karena pasar terbesar edible flower adalah dari Horeka (hotel, restauran dan catering), maka penjualannya juga terkena dampak langsung dari wabah Covid-19.  Saat ini Eva berharap dapat memanfaatkan sebaik mungkin bunga-bunga tersebut untuk diolah menjadi makanan yang cukup memiliki daya jual dan mudah dibuat seperti edible flowers cookies.

Hal ini semata-mata supaya bisa tetap membayar gaji semua pekerjanya, karena Eva masih berharap untuk bisa terus mempekerjakan mereka semua. “Saya berharap semoga musibah Covid-19 ini cepat berlalu, sehingga perekonomian bisa kembali pulih. Tidak bisa dipungkiri banyak sekali sektor ekonomi yang terkena imbasnya, terutama mereka yang bermain di kebutuhan sekunder seperti ini,” tuturnya.

 

Reporter : Gayatri K.R
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018