Saturday, 23 January 2021


Kamilah Hidroponik, Kenalkan Hidroponik di Pedesaan

13 Jan 2021, 14:24 WIBEditor : Gesha

Kamilah Hidroponik menjadi penggerak hidroponik di perdesaan | Sumber Foto:DELLY

TABLOIDSINARTANI.COM, Sumenep --- Budidaya sistem hidroponik yang lekat dengan image pertanian perkotaan nyatanya juga merambah pedesaan. Selain faktor kepraktisan, hadirnya teknologi budidaya ini di pedesaan menjadi media edukasi bagi warga sekitar. 

Pandemi Covid-19 memaksa Ahmad Riyadi meninggalkan pekerjaannya di Arab Saudi dan kembali ke tanah air. Mengisi kekosongan, ia dan istrinya pun tertarik belajar hidroponik dari youtube channel. Dari situlah usaha sayuran hidroponik “Kamilah Hidroponik” bermula.

Tepatnya Mei 2020, bermula dari satu instalasi hidroponik yang ia buat sendiri, Ahmad Riyadi dan istrinya memenuhi rasa penasaran mereka akan teknologi budidaya modern ini. Bukan karena tak punya cukup lahan untuk bertani, melainkan rasa ingin tahu yang mendalam bagaimana aneka tanaman sayur bisa tumbuh subur pada media air.

“Kami sama sekali tidak ada basic pendidikan pertanian, belajar tentang hidroponik pun dari nol. Kami menyimak tutorial di Youtube dan belajar dari teman di komunitas hidroponik HID’s” ujar istri Ahmad Riyadi, Anis Ainul yang menjadi penggerak Kamilah Hidroponik.  Siapa yang menduga, hobi mereka kini berkembang menjadi sebuah usaha.

Bila hidroponik lekat dengan image pertanian perkotaan yang identik dengan keterbatasan lahan, maka sebaliknya Kamilah Hidroponik justru hadir ditengah-tengah pertanian konvensional di pedesaan. Beberapa instalasi hidroponik berjejer rapi diatas tanah kurang lebih seluas 1000 meter persegi di Desa Ging-Ging, Kecamatan Bluto, menyajikan aneka sayuran daun dan buah yang segar.

Beberapa jenis sayuran seperti selada, samhong, kailan, pakchoy, bayam brazil, sawi pagoda yang tidak ditemukan di pasar lokal dan hampir belum pernah dikonsumsi oleh warga setempat bisa dibeli disini. Tanaman mint, tomat dan cabe rawitpun tak luput dari tangan dingin bapak dua anak ini. Tak berhenti disitu, usaha Kamilah Hidroponik kini merambah pada penjualan instalasi hidroponik dan budidaya jamur tiram.

Ketika ditanya modal, kompak suami istri ini menjawab habis modal mencapai Rp 20 juta. Namun kini usahanya tidak sia-sia, sekali panen ia mendapatkan omset sekitar 2-3 juta per bulannya.

Produk sayur segar dari Kamilah Hidroponik  dipasarkan secara online. Bahkan sudah bermitra dengan beberapa café. Permintaan dari luar kotapun dilayani dengan memanfaatkan jasa ekspedisi. Tak jarang pesanan sayur diantarkan sendiri ke konsumen sebagai bentuk pelayanan prima.

Bebas Pestisida Kimiawi

Saat ditanyakan kiat menjaga tanaman tumbuh subur dan mulus, Ahmad Riyadi menjelaskan bahwa kualitas tanaman hidroponik sangat ditentukan oleh formulasi nutrisi serta pengendalian hama dan penyakit. “Musim penghujan seperti ini, biasanya rawan serangan ulat. Melalui kecukupan nutrisi tanaman dapat hidup sehat sehingga ketahanan terhadap serangan hama dan penyakit lebih baik. Untuk mengantisipasi serangan HPT, saya menggunakan pestisida nabati dari bawang putih,” ujarnya.

Kamilah Hidroponik menggunakan pestisida nabati bawang putih. Siapkan 5 siung bawang putih, kupas, haluskan dan campurkan dengan 1 liter air. Lakukan fermentasi selama 1x24 jam dan saring. Aplikasi dilakukan tanpa pengenceran dengan interval 1-2 kali seminggu. Penyemprotan dilakukan pagi sebelum matahari terbit atau sore setelah matahari terbenam, karena hama terutama ulat munculnya pada waktu tersebut.

Usaha sayuran ini bukan tanpa kendala. Persepsi masyarakat yang menganggap bahwa sayuran hidroponik berbahaya bagi kesehatan menjadi kendala dalam perluasan pemasaran. Namun, pelaku budidaya sistem hidroponik seperti Ahmad Riyadi tak menyerah. Bersama-sama dengan Petugas Penyuluh Pertanian mensosialisasikan secara masif keunggulan sistem budidaya  hidroponik dan produk panennya.

PPL wilayah binaan Desa Ging-Ging, Anna Marhasanah, SST menuturkan bahwa kehadiran usaha sayur hidroponik yang bebas pestisida kimia di masa pandemi sangatlah membantu warga. “Semakin beragam sayuran yang dikonsumsi masyarakat, semakin beragam pula asupan nutrisi. Diharapkan dengan kecukupan nutrisi, masyarakat bisa hidup sehat dan terbebas dari penularan virus Covid 19 dan penyakit lainnya. Dengan harga terjangkau, warga mendapatkan akses untuk mengenal dan mengkonsumsi aneka sayuran. Aplikasi hidroponik pun mudah, praktis dan dapat menghemat biaya tenaga kerja dan perawatan” ujarnya.

Seiring berjalan dengan pertanian konvensional, budidaya sistem hidroponik memberi nuansa baru dalam pengembangan pertanian di Kabupaten Sumenep. Saling melengkapi dengan satu tujuan bersama yaitu mendorong berkembangnya petani milenial dan meningkatkan ketahanan pangan masyarakat.

Reporter : Kiswanto dan Delly Kapila
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018