Friday, 07 May 2021


Zero Pestisida Kimia, Yohan Hasilkan Beras Sehat  

13 Apr 2021, 16:19 WIBEditor : Yulianto

Yohan, milenial Kediri ini memproduksi beras sehat | Sumber Foto:BBPP Ketindan

TABLOIDSINARTANI.COM, Kediri—Persoalan hama penyakit yang kerap menyerang tanaman padi memang momok bagi petani. Tak terkecuali bagi petani yang tergabung di Kelurahan Tosaren, Kota Kediri.

Sekitar 27 hektar (ha) lahan sawah di wilayah Kelompok Tani (Poktan) “Tani Makmur Tosaren” Kelurahan Tosaren, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri memiliki kandungan bahan organik rendah. Sementara itu dalam penanganan hama penyakit, petani sering menggunakan pestisida kimia sintetis yang berlebihan.

Hal ini akan berdampak pada kandungan bahan organik tanah terdekomposisi dan semakin sedikit. Kondisi ini membuat penasaran salah satu calon duta petani milenial (DPM) Indonesia di Kecamatan Pesantren, Yohan Pramuda Ariefianto.

Melalui pendampingan teknis budidaya tanaman sehat dari Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL)  di BPP Kecamatan Pesantren, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Kediri yakni Agus Fatony Tohari, Yohan mulai bisa menjawab rasa penasarannya tersebut.

Budidaya tanaman sehat adalah metode budidaya yang diadopsi dari salah satu prinsip pengendalian hama terpadu (HPT). Strategi membudidayakan tanaman memadukan semua teknologi budidaya berbasis ramah lingkungan, sehingga menghasilkan tanaman yang sehat.

Yohan berbudidaya tanaman padi sehat di lahan seluas 1.260 meter persegi. Ia tak lagi aplikasi pestisida kimia sintetis dalam pengendalian hama penyakit.  Dalam penggunaan pupuk kimia sudah dipangkas, di bawah 50 persen yaitu urea 10 kg, NPK 30 kg, ZA 10 kg per musim tanam.

Selain menggunakan pupuk organik yang mencapai 240 kg dan ZPT, Yohan juga menggunakan asap cair serta bahan formulasi dari limbah rumah tangga. Bahan-bahan itu menjadi andalannya untuk meningkatkan hasil produksi dan penanganan hama penyakit.

Dalam mengolah lahan, Yohan yang dibimbing Agis Fatony memanfaatkan penggunaan mekanisasi pertanian, seperti rice transplanter di awal tanam dan combine harvester di waktu panen. Dengan demikian, sangat mempengaruhi efisiensi biaya dan efektivitas waktu serta tenaga kerja yang digunakan.

Dalam memasarkan hasil produksinya, Yohan tak lagi berupa gabah. Tapi dirinya telah menjual beras dalam kemasan. Dari lahan yang dikelola, produksi padinya mencapai 928 kg (Gabah Kering Panen). Jika dikonversikan setara 500 kg setara beras.

Yohan melabeli beras hasil produksi dengan nama ‘Beras Sehat Poktan Tani Makmur Tosaren. Harga jualnya 15.000/kg ke konsumen secara langsung. Jika nanti pasarnya sudah bagus, kami berencana akan mensertifikasi minimal PRIMA 3 melalui Otoritas Kompeten Keamanan Pangan Daerah (OKKPD),” tutur Yohan.

Kepada petani lainnya, termasuk generasi milenial, Yohan berpesan saat panen raya petani harus berani mengambil langkah berani untuk bisa meningkatkan pendapatannya. Langkah ini agar tidak selalu kalah dengan tengkulak. Dengan pertanian modern akan lebih efisien dan efektif.

Sementara itu Agus Fathony, penyuluh yang selalu mendampingi Yohan menmgatakan, makanan yang sehat berasal dari budidaya yang sehat. Selanjutnya mendukung pola hidup sehat bagi kita dan generasi selanjutya. “Untuk itu saya memberi keyakinan kepada petani bahwa membudidayakan tanaman yang ramah lingkungan tanpa bahan kimia bisa diterapkan,” ujarnya

Hasilnya menurut Agus, sangat memuaskan, seperti diterapkan Yohan. Rata-rata pH tanah mengalami kenaikan dari sebelumnya.  Jika semula pH 4 – 5, kini menjadi pH 5,5 – 6, kandungan bahan organik didalam tanah juga meningkat, penggunaan pupuk dan pestisida kimia sangat minim, serta hasil panen rata-rata menunjukkan peningkatan antara 10-20 persen.

Selain itu, petani menjadi lebih percaya diri dalam menerapkan budidaya tanaman sehat untuk mendapatkan kualitas tanaman dan lingkungan yang lebih baik,” kata Agus.

Sementara itu Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo seringkali mengingatkan penyuluh pertanian di seluruh Indonesia agar mensosialisasikan penggunaan pupuk berimbang kepada petani untuk menggunakan pupuk sesuai kebutuhan yang mengacu pada umur padi atau tanaman lainnya. Kementerian Pertanian pun berupaya melakukan pengawasan ketat alokasi dan pemanfaatan pupuk agar tepat sasaran dan efisien.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian, Dedi Nursyamsi mengatakan, insan pertanian harus bersyukur karena sektor pertanian tetap bisa survive dalam menyediakan pangan bagi masyarakat dalam masa pandemi covid-19 ini.

Salah satu yang mendukung capaian ini adalah peran kostratani, yaitu diharapkan mampu memperkuat produksi dan koordinasi stakeholder pertanian seperti penyuluh, petani dan pelaku usaha di tingkat lapangan,”ujar Dedi.

 --

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/

Reporter : Agus Fatony/ Yeniarta (BBPP Ketindan)
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018