Wednesday, 10 August 2022


Hari Sunarto, Sulap Lahan Kritis jadi Tanam 4 Kali Setahun

13 Jul 2021, 20:20 WIBEditor : Yulianto

Hari Sunarto (kanan) bersama Dirjen Tanaman Pangan, Suwandi | Sumber Foto:dok. Ditjen Tanaman Pangan

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Banyak yang menyerah ketika harus berhadapan dengan kondisi lahan marginal dan kritis. Namun  Hari Sunarto, dari Sukoharjo Jawa Tengah justru menyulap lahan tersebut menjadi pertanian subur dan bisa menanam empat kali setahun.

Dengan memanfaatkan sumber air mandiri, Hari menjadikan lahan kritis seluas 2 hektar (ha) menjadi produktif. Bahkan dengan membuat tandon air, Hari memanfaatkan lahan tersebut menjadi kolam ikan serta pengembangan akuaponik.

“Kuncinya adalah pengaturan waktu tanam dengan jeda antara hanya dalam hitungan hari,” papar Hari pada Webinar IP400 Solusi Tingkatkan Produksi Dengan Mekanisasi, Tata Kelola Irigasi, OPT Terkendali,  Selasa (13/7).

Lahan diolah secara maraton, dengan jeda waktu 5 sampai 8 hari setelah panen, alias tidak lama dibiarkan menganggur.  Hari juga menggunakan benih genjah yang lebih cepat panen, serta mekanisasi pengolahan lahan yang modern. Dengan cara ini jadwal tanam 4 kali bisa terpenuhi, bahkan produktivitas hingga 9 ton/ha.

Pupuk organik yang tersedia melimpah dari kotoran ikan dan sapi mendukung kesuburan lahan, dibantu dengan pupuk kimia sebagai pelengkap,” katanya.

Mengenai jadwal tanam ketat ini, Hari menjelaskan banyak hal positif yang bisa diperoleh, utamanya dalam pengendalian hama dan gulma. Biasanya petani setelah panen sisa tanaman dan bulir padi dibiarkan di lahan. Akibanya banyak tumbuhan yang tidak dikehendaki alias gulma menjadi berkembang.

Disamping itu menurut Hari, tumbuhan liar alias gulma pada lahan yang dibiarkan akan memakan residu pupuk organik dan kimia sisa pertanaman. Padahal seharusnya bisa dimanfaatkan secara optimal untuk tanaman produksi. “Jika langsung diolah kembali, gulma tidak sempat tumbuh, sehingga bisa menghemat biaya herbisida yang dikeluarkan,” katanya.

Lahan yang segera diolah juga tidak akan memberi kesempatan pada tanaman liar atau gulma rimbun untuk menjadi tempat yang nyaman buat gerombolan tikus untuk berkembang biak.  OPT berterbangan juga akan mengganggu tanaman pada masa tanam berikutnya.

Menurut Hari, paling penting adalah sisa tanaman pada lahan setelah panen jika langsung diolah dan dibalik dengan ditambah bio dekomposer akan menjadi nutrisi yang sangat baik untuk pertumbuhan tanaman padi berikutnya. Tentunya ditambah dengan penggunaan pupuk kimia sebagai booster secara 5 tepat akan mendukung produktivitas lahan.

Perencanaan tanam pada lahan minapadi dengan jadwal yang diatur secara ketat 4 kali setahun atau IP400 ternyata berhasil dilakukan Hari. Bahkan lokasi mina padi yang dikembangkan Hari kini banyak dikunjungi untuk studi banding berbagai daerah.

Reporter : Iqbal
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018