
Nurwahidi di Aceh Farm School
TABLOIDSINARTANI.COM, Aceh Besar --- Sumberdaya alam di Aceh sangat potensial untuk dikembangkan, melalui berbagai macam terobosan dalam upaya peningkatan mutu SDM. Salah satunya dengan adanya tempat wisata bernuansa edukasi. Seperti yang dilakukan Nurwahidi, alumni Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala (USK) tahun 2009 yang membangun Aceh Farm School.
"Sejak tahun 2010 saya bekerja sebagai tenaga kontrak medik veteriner di Dinas Kesehatan Hewan dan Peternakan Aceh," kata Wahid membuka percakapan dengan tabloidsinartani.com. Karena kekurangan tenaga teknis dokter hewan, ia ditempatkan di Puskeswan (Pusat Kesehatan Hewan) Blang Mangat Kota Lhokseumawe dan selanjutnya di wilayah Lhokseumawe yaitu Puskeswan Muara Satu di Batuphat. Tahun 2014, dirinya diamanatkan sebagai Kepala Puskeswan disana. "Kami selalu memberikan pelayanan Prima dan siap turun lapangan kapan saja dibutuhkan," kenangnya.
Wahid menuturkan, ketika dirinya kembali ke Banda Aceh, saat itulah muncul ide untuk membangun Aceh Farm School sehingga bisa berbagi sedikit ilmu yang dimiliki untuk masyarakat. "Walaupun lahan tersebut saya sewa, yang penting niat memberikan edukasi untuk masyarakat dapat terlaksana," ujarnya. Lembaga Pendidikan Pelatihan Pertanian dan Perternakan Aceh (LP4A) yang lebih dikenal masyarakat dengan Aceh Farm School, lokasinya berada di bantaran Krueng Aceh, Gampong Meunasah Papeun, Kecamatan Krueng Barona, Kabupaten Aceh Besar.

Selanjutnya dia mulai menggarap lahan tersebut sambil berolahraga, menanam buah Tin dan bunga Matahari. Secara perlahan, kebun tersebut dikembangkan memenuhi setiap sudut lahan dengan berbagai jenis tanaman. Bahkan ada juga peternakan dan hasil sampingnya. "Setiap kegiatan selalu saya posting di akun Instagram @acehfarmschooll," imbuhnya.
Tanpa sadar, dari postingan tersebut teman - teman dan masyarakat pun mulai berdatangan dengan membawa keluarga. Awalnya mereka datang hanya untuk berswafoto, karena anglenya memang bagus dan nenarik. Uniknya foto mereka juga diposting di IG-nya, tak pelak lagi terjadi metamorfosis dan berkembang sehingga pengunjung semakin ramai.
Bahkan dari beberapa sekolah membuat MoU kerjasama penempatan siswa dan mahasiswa magang, Mulailah berdatangan dari anak - anak PAUD, TK, SD, SMP dan SMA serta beberapa mahasiswa melakukan kerja praktek, pengabdian dan penelitian. Di Aceh Farm School ia membuat berbagai macam racikan formulasi konsentrat pakan ternak, pupuk organik dan juga probiotik. Hasilnya dimanfaatkan kembali untuk tanaman dan ternak serta dijual.

Setiap pengunjung yang memasuki areal pertanian yang dibangun sebagai tempat edukasi, tercengang disambut bak kedatangan rombongan Presiden. Pasalnya di lahan seluas 4000 meter persegi mulai pintu masuk terbentang karpet merah menuju ke tempat pelatihan dan edukasi, yang merupakan gudang sederhana disulap menjadi pabrik pakan mini, tempat pertemuan dan workshop untuk sharing inovasi teknologi pertanian lainnya.
Pihaknya berharap agar pemerintah dapat memberikan dukungan kepada para milenial untuk membangun replikasi seperti konsep Aceh Farm School lainnya di Aceh, hari ini Aceh butuh 1000 lagi Aceh Farm School, terserah apa saja namanya. "Hal ini sangat penting untuk mengisi relung relung kosong yang tidak terbackup oleh pemerintah, sehingga mampu bersinergi dalam mewujudkan merdeka pangan di Aceh agar lebih hebat lagi," harapnya.
Sepak terjang Wahid selama enam tahun, dalam mendukung program pemerintah melalui pengenalan edukasi serta pelatihan bagi penguatan Sumber Daya Manusia (SDM) di bidang pertanian dan perternakan. "Kini hanya bisa dikenang dan menjadi kenangan manis yang tak terlupakan," lirihnya.