
Daswar di pinggir kolam ikan koi
TABLOIDSINARTANI.COM, Sidrap -- Ikan koi atau Nishikigoi berasal dari Niigata, salah satu prefektur di Jepang. Istilah Nishikigoi sendiri sudah ada sejak 200 tahun yang lalu. Ikan koi ini diproduksi petani yang membudidayakan ikan mas hitam sebagai sumber makanan untuk bertahan hidup dalam kondisi cuaca musim dingin yang parah.
Kata koi adalah homofon dalam bahasa Jepang untuk kata lain yang memiliki arti "cinta" atau 'kasih sayang'. Saat ini, hampir di seluruh negara salah satunya Indonesia telah menjadikan memelihara ikan koi sebagai salah satu hobi. Orang-orang sangat tertarik dengan karakteristik koi yang damai dan ramah. Efek terapeutik dari mengamati dan berinteraksi dengan ikan sangat dihargai.
Budidaya ikan koi sudah banyak diminati masyarakat yang ada di kabupaten Sidrap Sulawesi Selatan sejak beberapa tahun terakhir. Seperti budidaya ikan koi yang ditekuni Daswar (23), sejak tahun 2020, kini membuahkan hasil manis.
Daswar mengaku awalnya hanya sekedar hobi. Dirinya sudah mengenal ikan koi sejak tahun 2018. Namun dia mulai konsisten memulai budidaya ikan koi pada tahun 2020. "Kenapa saya baru konsisten, karena sejak tahun 2018 hanya mengenal saja namanya ikan koi tetapi waktu itu fokus memelihara ikan nila, namun sekarang ikan koi yang saya geluti bisa budidaya dan menjual," ujar Daswar
Di awal budidaya, Daswar mengeluarkan modal awal Rp 20 juta. Dari jumlah itu, Rp 5 juta untuk belanja 200 ekor bibit koi jenis kohaku, sanke dan showa. Sedangkan Rp 15 juta untuk membangun kolam, membeli filter, erator, dan obat-obatan hingga pakan untuk tiga bulan.
Budidaya ikan koi milik Daswar awalnya hanya memiliki luas kolam 4 are dengan bibit ikan koi yang dapat ditampung 15 ribu, dengan sistem pemeliharaan dengan sistem kolam tanah. Awalnya ia hanya memiliki kolam ikan 4 are. Kemudian pada September 2021 ia membuka lahan kolam dengan luas 20 are yang terbagi menjadi 5 petak kolam dengan menampung 7.000 bibit ikan koi.
Pemuda berusia 23 tahun ini mengatakan, merawat koi memang agak susah dibandingkan ikan lain. Saat memulai bisnisnya itu, dari 200 bibit ikan yang dibelinya, tapi 100 ekor mati. "Saat itu cari obat-obatan ikan sulit dan harus mencari ke luar kota," jelasnya.
Agar usahanya semakin mantap, Daswar juga belajar secara otodidak dari internet. Dari situ, Daswar bisa tahu kunci dalam budidaya koi adalah ketersediaan air yang cukup. "Ketersediaan air harus terpenuhi dalam budidaya ikan koi dan menjaga PH air ada di poin 7-8 dan amoniak di angka nol. Ini berbeda dengan budidaya ikan lain seperti lele, gurame yang cukup menjaga asupan makanan," ungkap Daswar.
Menurutnya, pada budidaya koi, harus merawat airnya nantinya air tersebut yang akan merawat ikan. Untuk itu peran filter air dan erator sangat penting. Jika air terawat, maka warna dan corak ikan akan semakin terang sehingga membuat nilai jual ikan semakin tinggi.
Daswar menyebut jika sudah masuk masa pancaroba, pembudidaya ikan koi harus lebih hati-hati, karena koi rentan terserang penyakit. Karena suhu air yang fluktuatif. Saat masa pancaroba, ikan koi hendaknya diberi makan seminggu dua kali. Sebab saat pergantian musim tersebut, pencernaan ikan tidak bagus sehingga akan rentan sakit kalau terlalu banyak pakan yang diberikan.
Dikatakan, dalam pembenihan dibutuhkan tiga indukan ikan, dua jantan dan satu betina yang dimasukkan dalam satu kolam. Ukuran indukan juga harus sama, yaitu minimal 60 sentimeter agar mendapatkan benih yang besar. "Media yang saya gunakan untuk pembenihan di dalam kolam adalah ijuk sapu, jaring, tali rafia atau kayu apu. Media tersebut berfungsi sebagai tempat menyimpan telur," jelasnya.
Ikan koi menurutnya, bisa memproduksi 4000 telur sekali bertelur. Namun biasanya yang menetas hanya sekitar 2000 telur. Saat benih sudah mulai membesar, benih harus dipilah berdasarkan ukuran. Hal ini untuk menghindari kanibalisme antar benih. Daswar mengaku, selama pandemi covid-19 ini, dia bisa mendapatkan penghasilan sampingan Rp 2,5 juta perbulan.