Thursday, 30 June 2022


Rayndra Syahdan Mahmudin : Beternak Domba, Untung Seterusnya

20 Jun 2022, 14:41 WIBEditor : Gesha

Rayndra | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Berbekal ilmu kewirausahaan di bangku Sekolah Menengah Kejuruan, Rayndra Syahdan Mahmudin meretas jalan menjadi peternak milenial sukses. Di bawah bendera Cipta Visi Group, Rayndra mengelola sekitar 700 domba dan 20 sapi. Kandangnya tersebar di sejumlah desa di wilayah Magelang, Jawa Tengah.

Besar dari keluarga petani, keinginan Rayndra begitu kuat untuk bisa menjadikan pertanian sebagai bisnis yang menguntungkan. Selepas SMK, dirinya pun melanjutkan kuliah di Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Yogyakarta Magelang dengan konsentrasi bidang peternakan.

Dirinya memulai usaha agribisnis khususnya peternakan dengan memelihara ayam ketika kelas 3 SMK pada 2014 lalu. Awal usaha menjadi peternak ternyata tidak mudah. Usahanya ambruk. “Rugi karena (memelihara) ayam susah,” ucapnya singkat.

Niatnya beragribisnis kemudian dilanjutkan saat kuliah di Polbangtan Yogyakarta-Magelang. Kebetulan di awal semester kampus mengadakan program kewirausahaan. Mahasiswa yang ingin berwirausaha dipinjami modal melalui program Penumbuhan Wirausaha Muda Pertanian (PWMP).

Modal di tahun 2016 dengan nilai Rp 35 juta diperoleh Rayndra dan akhirnya dibuatkannya kandang domba. Kini, Rayndra sudah mengelola 700 ekor domba. Dengan omzet rata-rata per bulan sekitar Rp 200 juta. Khusus untuk menjelang Idul Adha, dia bisa menjual sebanyak 700 ekor domba. Bila satu dombanya dihargai Rp 2,5 juta, maka dalam sebulannya dia bisa menghasilkan sebanyak Rp 1,5 miliar. “Beternak domba itu, modal diawal dan untung seterusnya,” sebut Rayndra.

Pakan Terjangkau

Untuk menekan pakan, dirinya mengaku mengganti pakan rumput menjadi pakan kering. Biasanya berupa kulit kacang hijau dan kulit kangkung sebagai ransum. “Jadi satu orang kalau di kandang dengan ukuran 1000- an meter persegi bisa melihara 150-200 ekor mampu karena pakannya lebih mudah,” kata pemuda yang terpilih menjadi Young Ambassador 2022 ini.

Dirinya mengintegrasikan jagung dan kedelai yang limbahnya dapat digunakan sebagai pakan ternak, sementara kotoran yang dihasilkan dari ternak dombanya dapat menyuburkan tanah tanaman. “Selain saling menguntungkan antara kotoran ternak, limbah pertanian jagung dan kedelai bisa digunakan di peternakan saya. Saat ini saya sudah mendampingi sekitar 200 petani,” kata Rayndra.

Dengan memanfaatkan limbah jagung, para petani jagung yang di musim kemarau tidak punya pendapatan bisa terbantu keuangannya, karena limbah jagung yang mereka kumpulkan dibeli Rayndra untuk pakan ternaknya. “Limbah jagung sebaiknya jangan hanya dibuang, dibakar, padahal sebenarnya bisa digunakan untuk peternakan dan bisa menekan biaya pakan. Tapi kalau di tempat ini, bertani jagung harus kita bentuk karena masyarakat di sini belum terbiasa,” kata Rayndra.

Membuat kandang yang sederhana dan murah juga mengurangi biaya modal yang dikeluarkan. Selain itu, ia juga sengaja membuat kandang dengan sederhana dan murah agar bisa ditiru oleh petani atau peternak lainnya. “Jika petani di desa, apabila mau belajar peternakan tapi investasi untuk kandangnya saja sudah mahal. Model kandang yang saya gunakan bisa untuk ditiru,” ujarnya.

Walaupun kandangnya sederhana, tambah Rayndra, tapi pemeliharaan yang dilakukan tetap memperhatikan SOP. Karena pada dasarnya prinsip kandang yaitu tempat yang bisa digunakan untuk tempat berteduh dan hewan ternak merasa nyaman. 

 

Reporter : NATTASYA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018