Kamis, 09 Februari 2023


Kukuh Roxa, Founder PAI: Kami Ingin Jadi Bagian Ekosistem Berkelanjutan  

18 Jan 2023, 07:45 WIBEditor : Yulianto

Kukuh Roxa , CEO dan Founder Pandawa Agri Indonesia | Sumber Foto:Dok. Sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---“Kami ingin menjadi bagian eksosistem berkelanjutan tidak hanya di Indonesia, tapi juga dunia.” Ungkapan tersebut meluncur dari  Kukuh Roxa, sang milenial yang kini menjadi CEO and Founder Pandawa Agri Indonesia (PAI) di Jakarta, Rabu (18/1).

Bagi alumni IPB University tersebut menjadi bagian dalam sebuah upaya menjaga keberlanjutan pertanian dibangun melalui pengembangan teknologi ramah lingkungan dalam pertanian, baik di komoditas pangan maupun perkebunan. Dengan bendera Pandawa, dirinya membangun usaha dengan dua aktivitas besar yang dijalankan perusahaan.

Pertama, menjadi sebuah perusahaan life science yang fokus fokus pada tekonolgi baru pertanian agar lebih berklanjutan dan bisa diterapkan, bukan hanya perkebunan besar, tapi juga petani kecil (small holder). Kedua, pengembangan teknolgi reduktan untuk mengurangi penggunaan pestisida, sehingga biaya usaha tani dan dapat mengurangi biaya pekerja, terutama  untuk penyemprotan hama penyakit.

“Pandawa Agri Indonesia saat ini menjadi perusahaan berbasis life-science pertama dari Indonesia dan saat ini satu-satunya yang memiliki inovasi dalam pengembangan produk pengurang pestisida (reduktan pestisida),” katanya.

Berawal dari inovasi tersebut, PAI berkomitmen membantu pelaku usaha pertanian untuk mewujudkan praktik-praktik pertanian yang berkelanjutan, ramah lingkungan, aman bagi pengguna, dan juga hemat biaya. Karena itu menurutnya, tim riset dan pengembangan produk Pandawa focus pada menciptakan inovasi teknologi yang bertujuan untuk secara signifikan mengurangi bahan kimia beracun ke lingkungan.

“Kami ingin menhadirkan inovasi terbaru dengan menciptakan produk yang bertujuan meningkatkan efisiensi penggunaan  input pertanian dan meningkatkan kesehatan tanah,” ujarnya. Karena itulah, lanjut Kukuh, pihaknya juga bekerjasama dengan perusahaan terkemuka untuk menghasilkan produk yang berbasis alam.

Dalam membangun pertanian berkelanjutan, kata Kukuh, pihaknya mengedepankan komitmen 3 PRO. Pertama, Protecting the Environment atau menjaga kelestarian lingkungan. Kedua, Prospering the People atau menyejahterakan masyarakat dan karyawan. Ketiga, Promoting Responsible Business atau menjalankan bisnis secara bertanggung jawab.

Dalam Sustainability Report perusahaan yang disampaikan Kukuh, PAI mencatat kontribusinya dalam mengurangi lebih dari 1,5 juta liter penggunaan pestisida di lebih dari 2 juta hektar lahan perkebunan di Indonesia dan Malaysia. Dari angka ini, lebih dari 16.500 pekerja semprot dan petani telah terhindar dari paparan berlebih bahan kimia berbahaya yang berasal dari pestisida.

Menurutnya, agrikultur merupakan salah satu sektor terbesar di Indonesia dan berperan penting dalam krisis iklim yang terjadi karena menghasilkan 19-29 persen emisi Gas Rumah Kaca secara global. Pengurangan penggunaan pestisida dengan reduktan yang dilakukan ini telah berkontribusi dalam mengurangi hampir 5.000 ton emisi karbon dioksida.

“Hal ini sejalan target pemerintah untuk mengurangi emisi karbon sebanyak 31,89 persen dengan usaha sendiri dan 43,2 persen dengan bantuan internasional di tahun 2030 mendatang,” kata Kukuh.

Selain menciptakan terobosan reduktan, PAI juga mengembangkan ekosistem petani swadaya (smallholders) untuk semakin mendorong terciptanya sektor pertanian yang berkelanjutan. Kukuh mengatakan, pihaknya membentuk ekosistem petani yang end-to-end.

“Di hulu kami memfasilitasi petani dengan teknologi PPAI dan di hilir kami mendampingi petani dengan manajemen pasca panen yang terintegrasi,” katanya.

Saat ini PAI telah mengembangkan ekosistem petani padi di Nagekeo, petani kopi di Pagar Alam, dan petani cabe di Banyuwangi. Sejumlah petani dampingan PAI mengalami peningkatan produktivitas hasil panen hingga 53 persen dan pendapatannya meningkat karena hasil panen dibeli dengan harga yang kompetitif.

PAI juga menggandeng Rabo Foundation guna memperkuat inklusi keuangan melalui penyaluran pendanaan produktif dengan bunga yang rendah. Lebih dari Rp 5 miliar total pembiayaan telah difasilitasi ke petani swadaya dalam bentuk kredit produktif dan product off-taking.

“Kami tidak hanya fokus produk, tapi juga bisnis model dengan pendekatan small holder. Bahkan bukan hanya pendapatan petani yang meningkat, tapi bagaimana produk yang dihasilkan petani memberikan kepuasan konsumen,” tutur Kukuh.

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018