Jumat, 14 Juni 2024


Tangan Dingin Sabar, Lahirkan Sri Begaluh

26 Mei 2024, 18:34 WIBEditor : Herman

Sabar Ismanto Penemu Padi Sri Begaluh | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Wonosobo --- Siapa sangka dari seorang Sabar Ismanto bisa melahirkan padi unggul lokal yang saat ini banyak ditanam petani didaerahnya. Walaupun tidak memiliki latar belakang pendidikan pertanian, tangan dingin petani dari dusun Mungkung, Wonosobo ini bisa lahir padi Sri Begaluhm dengan berbagai keunggulannya.

Sabar Ismanto petani dari dusun yang berjarak kurang lebih 10 km dari kota Kabupaten Wonosobo ini memang dikenal sebagai petani yang sangat aktif. Disamping tekun mengelola sawah dan kebun, petani berusia 66 tahun ini juga dipercaya sebagai Ketua Kelompok Tani “Raharjo” di dusun Mungkung serta pengurus Gapoktan “ Permata” di desa Mungkung.

Bukan hanya itu Sabar juga dipilih sebagai KTNA Kecamatan Kalikajar, bahkan juga sebagai pengurus KTNA Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.

Boleh dibilang Sabar Ismanto telah mematahkan anggapan bahwa petani didesa selalu bodoh dan terbelakang. Dia berhasil menyerap ilmu dari pergaulan dengan sesama petani, sesama KTNA dan dengan para Penyuluh Pertanian juga petugas Dinas yang selalu mendampingi.

“Saya sekolah di kehidupan, lahan sawah dan kebun sebagai laboratorium saya ” ujarnya.

Sabar juga sering mengikuti pertemuan dan pelatihan yang diselenggarakan BPP maupun Dinas Pertanian Wonosobo. Namun menurutnya satu kegiatan  yang sangat berkesan  selama mengikuti pelatihan adalah ketika mengikuti Workshop Pengembangan Usahatani Padi SRI Organik.

Workshop yang membahas dan mempratikan usahatani padi organik sistem SRI (System of Rice Intensification) pada tahun 2007 di Cipanas Jawa Barat tersebut merubah kehidupanya.

Pasalnya selepas mengikuti kegiatan yang diselenggrakan  Yayasan Aliksa Organik SRI tersebut ini, Sabar Ismanto meneguhkan diri untuk mempratikan cara bertani secara organik. Termasuk didalamnya cara mengawinkan tanaman padi.

Diungkapkan Sabar, keberhasilannya melahirkan “Sri Begaluh” berangkat dari ketidaksengajaan.

“Petani disini merasa cocok menanam padi  varitas Barito dan Ciherang, baik hasil produksi maupun rasa nasi. Namun kedua varitas tersebut sangat rawan terserang hama dan penyakit tanaman. Sehingga petani berusaha menjaga tahaman padinya dengan banyak menyemprotkan pestisida kimia” paparnya.

Hal tersebut bertentangan dengan azas  pertanian organik yang diterapkan Sabar. Pada suatu ketika di akhir tahun 2007,  ia iseng-iseng menanam padi varitas Barito menggunakan ember bekas dirumah. Sedangkan disawah dia menanam varitas Ciherang. Kebetulan kedua jenis padi yang ditanam ditempat berbeda tersebut berbunga bersamaan.

Berbekal pengetahuan yang didapat di pelatihan, Sabar membawa bunga padi varitas Barito kesawah untuk disilangkan dengan bunga padi varitas Ciherang. Beberapa malai yang telah di ”kawin” kan di bungkus plastik.

Setelah tiba saat panen, bulir-bulir gabah hasil persilangan di tanam pada ember-ember dirumah. Setiap ember ditanam 1 butir gabah. “ Agar mudah mengamati dan tidak tercampur” kata Sabar.

Dari sekian ember tanaman padi ternyata ada 1 ember tanaman padi yang menunjukkan keragaan berbeda. Kemudian hasil gabah yang “berbeda” tersebut di tangkarkan dengan caranya sendiri.

Disertai perlakuan seleksi positif dari musim ke musim, akhirnya lahirlah varitas padi baru yang cukup stabil.

Banyak pihak yang menyarankan memberinama padi hasil persilangannya dengan namanya sendiri. Namun  Sabar Ismanto tidak menghendaki. Lalu ia menamakan varitas padi baru itu Sri Begaluh.

“ Nama Sri saya ambil sebagai penghargaan atas sistem padi organik SRI, lalu Begaluh adalah nama sungai darimana air irigasi sawah kami diambil ” terangnya.

Varitas padi baru tersebut sekarang sudah beredar sebagai varitas unggul lokal di daerah Wonosobo. Varitas ini dapat diterima petani karena mempunyai beberapa keunggulan.

Antara lain batang padi tegak, daun bendera lebar dan tegak, produksi per hektar 6-7 ton GKP, umur 115 HST,  rasa nasi cukup enak dan agak tahan dari serangan OPT.

Varitas ini belum disertifikasikan karena untuk proses kearah sana tentu diluar kemampuan Sabar sebagai petani biasa. Ia mengharapkan uluran tangan dari pemerintah setempat untuk membantu dalam proses sertifikasi.

Selain menemukan varitas padi baru, kiprah Sabar Ismanto dalam melakukan pertanian organik telah mendapat perhatian dan dukungan masyarakat dan  dari pemerintah setempat. Pada tahun 2022 lalu  ini ia memperoleh penghargaan Kalpataru sebagai Perintis Lingkungan Hidup.

Kesadaran mempraktikkan pertanian berkelanjutan  menjadi tututan penting pada saat ini.  Karena sistem ini menjamin pertanian yang berlanjut untuk saat ini dan saat yang akan datang dan selamanya.

Pertanian yang dilakukan petani tetap ada dan bermanfaat bagi semuanya serta tidak menimbulkan bencana bagi lingkungan.Pertanian akan menjadi warisan yang berharga bagi anak cucu kita.

 

Reporter : Djoko W
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018