Jumat, 14 Juni 2024


Fakultas Pertanian UMJ, Jawab Tantangan Rendahnya Minat Milenial ke Pertanian

10 Jun 2024, 14:48 WIBEditor : Herman

Dekan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Jakarta, Dr. Ir. Sularno, M.Si. | Sumber Foto:Sinta

TABLOIDSINARTANI, TANGSEL--Minat yang rendah dari para milenial untuk terjun ke dunia pertanian menimbulkan keprihatinan banyak pihak. Tidak terkecuali para penggiat pendidikan pertanian, salah satunya Dekan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Jakarta, Dr. Ir. Sularno, M.Si.

Jika minat generasi muda menurun terhadap dunia pertanian, menurut pria yang akrab disapa Pak De ini, terjadi kekosongan estafet petani yang dapat mempengaruhi ketahanan dan kemandirian pangan.

Ditemui di ruang kerjanya, Dr. Ir. Sularno, M.Si. menyampaikan keprihatinan terhadap rendahnya minat anak muda untuk terjun ke pertanian. Kepada Tabloid Sinartani, Pak De mengatakan,  anak muda memiliki pola pikir yang berbeda terhadap dunia pertanian.

Pak De mengatakan, seharusnya generasi muda melihat dunia pertanian sebagai penyedia pangan yang menjadi kebutuhan utama dan tidak bisa ditunda “Mereka melihat pertanian itu soalah-olah berkaitan dengan dunia cangkul, tanah dan kotor. Padahal perkembangan pertanian sekarang ini sudah luar biasa,” ungkapnya.

Karena itu, Pak De tidak bisa memungkiri rendahnya minat anak muda ke pertanian juga berdampak pada animo untuk masuk ke sekolah pertanian.  Namun hal tersebut tidak membuat sekolah pertanian seperti Fakulitas Pertanian UMJ menyerah.

Terobosan UMJ

Pak De mengaku pihaknya terus melakukan terobosan dan berkreasi agar tetap menjadi pilihan bagi anak muda untuk bisa terjun ke dunia pertanian. “Kami mengarah pada perkembangan pertanian perkotaan, sehingga kita bisa menyuguhkan pertanian yang bersih. Tapi kita tidak boleh melupakan pertanian konfensional yang berkaitan dengan pangan,” paparnya.

Di kampus yang terletak di Jl. K.H. Ahmad Dahlan, Cirendeu, Ciputat, Tangerang Selatan ini, Fakultas Pertanian UMJ membangun pertanian organik juga instalasi hidroponik sebagai cerminan dari pertanian perkotaan (urban farming). Dengan teknologi urban farming diharapkan bisa menjawab tantangan kekinian agar anak muda bisa tertarik ke pertanian.

“‘Kita tidak boleh lepas dari pertanian secara umum. Pertanian perkotaan (urban farming) tidak hanya bicara mengenai hidroponik dan lainnya, tapi kita juga tetap mempertahankan basic pertanian seperti tanaman pangan, legum, serealia dan lainnya tidak boleh ditinggalkan,” tuturnya.

Hal itu dilakukan karena nantinya mahasiswa/alumni ketika turun ke petani di desa pasti akan menemui banyak hal yang berkaitan dengan hal tersebut. “Bahkan juga termasuk kita bekali para mahasiswa di kelapa sawit. Kita tidak bisa menutup mata, kalau kita tidak bekali akan repot nantinya,” ungkap Pak De.

Dengan membuka 2 program studi yaitu Agroteknologi dan Agribisnis, Fakultas Pertanian UMJ mejadi satu-satunya fakultas pertanian swasta yang bertahan di Ibu Kota. Fakultas Pertanian UMJ juga memiliki berbagai fasilitas pendukung untuk memperkuat pembelajaran pertanian lainnya, salah satunya kebun percoabaan seluas 2 ha yang ada di Sukabumi, Jawa barat.

 

Pak De menjelaskan, selain teori di dalam kelas, mahasiswa Fakultas Pertanian UMJ juga dibekali dengan kegiatan kuliah lapangan. Kegiatan itu bekerjasama dengan dunia usaha  sebagai keharusan dalam Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM).

Pria yang menyelesaikan S1 nya di program studi Agronomi Universitas Muhammadiyah Jakarta ini mengatakan kekosongan estafet petani yang terjadi saat ini bila tidak disadari akan mengalami stagnan yang cukup panjang. Kondisi tersebut akan berpengaruh pada ketahanan dan kemandirian pangan nasional, karena pangan merupakan kebutuhan utama.

“Kalau saya ke daerah  tidak banyak saya temukan petani 35 ke bawah, rata-rata 45 ke atas. Ini ada kekosongan, dan perlu menjadi perhatian,” paparnya. Jika ke desa, menurut Pak De, petani secara praktis jauh lebih pintar dari mahasiswa yang baru lulus kuliah di pertanian. 

 

 Selain persoalan regenerasi petani, Pak De juga menyoroti persoalan penyuluh pertanian yang harus mendapatkan perhatian dari pemerintah. Penyuluh pertanian ia nilai adalah profesi yang terhormat dalam meningkatkan pendidikan para petani di lapangan.

“Penyuluh pertahian juga harus dibekali ilmu pengetahuan, kepiawaian terutama untuk berkomunikasi dengan masyarakat karena hal tersebut tidak mudah,” katanya. Bahkan lanjut pak De, generasi muda, khususnya mahasiswa pertanian harus dibekali berbagai pengetahuan pertanian, sehinga nanti bisa menjadi penyuluh pertanian yang handal.

Pak De mengaku selalu menekankan kepada para mahasiswa untuk mulai mengubah cita-cita. Dari seorang pencari kerja ketika lulus kuliah menjadi pencipta lapangan kerja, sekalipun untuk diri sendiri dengan kreatifitas yang dimiliki. “Saya selalu mengatakan, orang yang akan tertindas adalah orang yang malas dan tidak punya kreatifitas” tegasnya. 

Reporter : Tim Sinta
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018