Thursday, 12 March 2026


Petani Milenial Ubah Nasib Desa, Rangkul Gurandil Olah Lahan Tidur Jadi Ladang Rp246 Juta

24 Feb 2026, 09:32 WIBEditor : Gesha

Langkah berani petani milenial mengubah wajah desa jadi sorotan. Lahan tidur yang dulu terbengkalai kini disulap jadi ladang cuan. Bahkan para gurandil dirangkul, menghasilkan keuntungan hingga Rp246 juta.

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor -- Langkah berani petani milenial mengubah wajah desa jadi sorotan. Lahan tidur yang dulu terbengkalai kini disulap jadi ladang cuan. Bahkan para gurandil dirangkul, menghasilkan keuntungan hingga Rp246 juta.

Perubahan pelan tapi pasti tumbuh dari tanah yang sempat ditinggalkan. Di Desa Kalongliud, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, ancaman Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) kini mulai surut. Lahan yang dulu terbengkalai berubah menjadi sumber penghidupan baru, menghasilkan keuntungan ratusan juta rupiah bagi warga.

Perubahan itu digerakkan Wahyudin, petani muda yang memimpin Kelompok Taruna Muda sejak 2022. Ia bersama masyarakat setempat mengelola 35 hektare lahan tidur menjadi area pertanian produktif, sekaligus membuka alternatif ekonomi bagi warga yang sebelumnya terdesak kondisi pekerjaan terbatas.

Langkah tersebut berawal dari kekhawatiran meningkatnya aktivitas tambang ilegal setelah bencana banjir dan longsor pada 2020 merusak sistem irigasi desa. Saat itu, banyak lahan pertanian mengalami kekeringan dan masyarakat kehilangan sumber penghasilan.

Wahyudin melihat kondisi itu sebagai titik balik. Menurutnya, pemberantasan PETI tidak cukup hanya melalui penertiban, melainkan perlu diimbangi solusi ekonomi yang nyata bagi warga.

Dampak perubahan mulai terlihat dari sisi sosial. Sejumlah warga yang sebelumnya bekerja sebagai penambang ilegal atau gurandil kini beralih profesi menjadi petani.

Transformasi ini tidak hanya menciptakan lapangan kerja baru, tetapi juga memperkuat ekonomi komunitas desa. Sistem kerja kelompok membuat petani lebih terorganisir dan memiliki kepastian pendapatan.

Hasilnya, usaha budidaya cabai sepanjang 2024 hingga 2025 mencatat laba bersih mencapai Rp246.258.000. Pendapatan anggota kelompok pun meningkat hingga 65 persen setelah hasil panen dijual langsung ke Pasar Induk Kemang dan Pasar Induk Kramat Jati tanpa melalui perantara.

Keberhasilan tersebut didukung inovasi pertanian berbasis sumber daya lokal. Kelompok Taruna Muda mengembangkan pupuk organik cair dari fermentasi keong mas dan urin domba, serta memanfaatkan puluhan ton limbah kotoran ternak sebagai pupuk.

Metode ini mampu menekan biaya pupuk hingga setengah dari pengeluaran sebelumnya. Selain lebih hemat, penggunaan bahan organik juga membantu menjaga kesuburan tanah.

Untuk mengatasi keterbatasan air, petani menerapkan sistem irigasi tetes sederhana yang dapat menghemat konsumsi air hingga 60 persen. Pendekatan ini menjadi solusi penting bagi wilayah yang sempat mengalami krisis air akibat kerusakan saluran irigasi.

Pemulihan lingkungan turut dilakukan melalui penanaman ribuan pohon di sekitar sempadan Sungai Cinyurug. Upaya tersebut berkontribusi pada pengurangan emisi karbon sekaligus memperbaiki kualitas lingkungan sekitar.

Program pemberdayaan ini merupakan bagian dari inisiatif Garitan Kalongliud yang dikembangkan bersama PT ANTAM Tbk Unit Bisnis Pertambangan Emas Pongkor. Program dirancang sebagai model pertanian sirkular yang mengintegrasikan pengelolaan lahan, efisiensi sumber daya, dan pemberdayaan masyarakat.

Pendekatan tersebut tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga memperkuat ketahanan sosial dan ekonomi desa. Melalui sistem ini, limbah pertanian diolah kembali menjadi sumber daya, sementara hasil produksi dikelola secara kolektif untuk meningkatkan nilai jual. Sebelum program berjalan, Desa Kalongliud menghadapi tekanan berat.

Sekitar 150 hektare lahan pertanian sempat mengalami kekeringan, sementara pandemi Covid-19 memperburuk kondisi ekonomi masyarakat.

Kini kondisi perlahan berubah. Petani tergabung dalam kelompok resmi, sementara Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) berperan memperluas akses pasar dan memperkuat posisi tawar petani.

Program tersebut tercatat memberi manfaat langsung kepada ratusan warga serta menjangkau ribuan penerima manfaat tidak langsung. Tingkat kepuasan masyarakat terhadap program pun tergolong tinggi.

Evaluasi berbasis Social Return on Investment (SROI) menunjukkan nilai 4,34. Artinya, setiap satu rupiah investasi mampu menghasilkan manfaat sosial lebih dari empat rupiah.

Gerakan ini juga memicu lahirnya generasi petani baru. Rumah Belajar Garitan menjadi pusat edukasi pertanian yang telah dikunjungi ratusan peserta dari berbagai daerah. Tempat ini menjadi ruang berbagi pengetahuan sekaligus laboratorium inovasi pertanian desa.

Atas kontribusinya dalam pemberdayaan masyarakat dan pelestarian lingkungan, Wahyudin memperoleh penghargaan Environmental and Social Innovation Award (ENSIA) 2025 kategori Local Hero Inspiratif.

Perjalanan Desa Kalongliud menunjukkan bahwa perubahan bisa tumbuh dari langkah sederhana. Dari lahan yang sempat terbengkalai, desa kini menemukan arah baru—membangun ekonomi, menjaga lingkungan, dan menumbuhkan harapan bagi masa depan yang lebih berkelanjutan.

Reporter : NATTASYA
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018