
Condro Kirono, pemilik Gadog Farm dan Ketua Asosiasi Kebun Durian Indonesia (AKDI)
TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor --- Tidak banyak orang yang memilih kembali ke kebun setelah menuntaskan karier gemilang di institusi negara. Namun, itulah jalan yang dipilih Condro Kirono.
Mantan Kepala Badan Pemelihara Keamanan (Kabaharkam) Polri yang juga pernah menjabat sebagai Kapolda Jawa Tengah itu memutuskan kembali pada akar kehidupannya sebagai anak petani.
Bagi Condro, menjadi petani bukan sekadar aktivitas mengisi masa pensiun. Dunia pertanian sudah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya sejak kecil.
Karena itu, ketika memasuki masa pensiun pada 2017, ia mantap mengabdikan diri di sektor hortikultura melalui Gadog Farm, sebuah kawasan perkebunan modern yang berada di Desa Sukakarya, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor.
"Meski profesi saya di kepolisian, jiwa sebagai anak petani tidak pernah luntur. Menjelang pensiun kami mulai fokus mengembangkan hortikultura. Kami memilih komoditas yang memiliki nilai ekonomi tinggi seperti durian, jeruk, dan alpukat. Jadi ini bukan sekadar hobi, tetapi benar-benar usaha yang kami tekuni," ujar Condro.
Di atas hamparan lahan yang berada di kawasan megamendung ini, Gadog Farm dikembangkan bukan hanya sebagai kebun produksi, tetapi juga sebagai destinasi agrowisata.
Menurut Condro, letak geografis Megamendung memiliki potensi besar karena berada di jalur wisata yang setiap hari dipadati pengunjung.

Berangkat dari potensi tersebut, ia membangun konsep perkebunan yang tidak hanya menghasilkan buah berkualitas, tetapi juga menghadirkan pengalaman wisata edukatif bagi masyarakat.
Beragam varietas durian unggulan ditanam di Gadog Farm, mulai dari Musang King, Black Thorn, Montong, Kanyao, Matahari, Masmuar hingga Chanee.
"Seluruhnya dibudidayakan dengan pendekatan budidaya yang mengedepankan keseimbangan ekosistem" ujarnya.
Sebanyak 80 persen kebutuhan nutrisi tanaman dipenuhi melalui pupuk organik, sementara sisanya menggunakan pupuk anorganik sebagai pelengkap.
Menurut Condro, sistem tersebut mampu menjaga kesehatan tanah sekaligus meningkatkan kualitas buah yang dihasilkan.
Namun, bagi Condro, keberhasilan sebuah perkebunan tidak hanya diukur dari besarnya keuntungan.
"Gadog Farm saat ini menyerap sekitar 60 tenaga kerja yang seluruhnya berasal dari masyarakat sekitar, " ungkap Condro.
Kehadiran kebun tersebut diharapkan mampu memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjadi pusat edukasi pertanian bagi generasi muda maupun masyarakat yang ingin belajar budidaya hortikultura.
"Kami ingin kebun ini memberi manfaat bagi lingkungan sekitar. Agrowisata memberikan nilai tambah bagi usaha perkebunan sekaligus menjadi sarana edukasi bagi masyarakat," katanya.
Menyatukan Pekebun Durian Indonesia
Kepedulian Condro terhadap pengembangan durian nasional tidak berhenti di Gadog Farm. Ia kemudian dipercaya menjadi Ketua Asosiasi Kebun Durian Indonesia (AKDI), organisasi yang lahir dari kegelisahan para pekebun terhadap berbagai persoalan yang dihadapi industri durian nasional.
Mulai dari rendahnya produktivitas, kualitas buah yang belum seragam, persoalan pemasaran, hingga derasnya masuk buah impor menjadi alasan dibentuknya AKDI sebagai wadah bersama bagi para pekebun di seluruh Indonesia.
"AKDI hadir sebagai tempat berbagi pengetahuan, meningkatkan kualitas dan produktivitas kebun, sekaligus memperkuat jaringan pemasaran bagi pekebun yang sedang panen," ujarnya.
Saat dideklarasikan, AKDI mendapat dukungan berbagai kementerian dan lembaga, di antaranya Kementerian Pertanian, Kementerian PPN/Bappenas, Badan Karantina Nasional, serta BRIN.
Organisasi ini juga menggandeng kalangan akademisi melalui Pusat Kajian Penelitian Durian Indonesia untuk memperkuat riset dan inovasi budidaya.
Menurut Condro, Indonesia memiliki kekayaan plasma nutfah durian yang luar biasa. Namun hingga kini, daya saing ekspor masih tertinggal dibanding Thailand, Malaysia, dan Vietnam.
Karena itu, AKDI berupaya mendorong seluruh kebun durian, baik skala kecil, menengah, maupun besar, agar menerapkan standar budidaya yang sama sehingga mampu menghasilkan buah berkualitas dengan pasokan yang berkelanjutan.
Durian Butuh Perlakuan Khusus
Condro menjelaskan, budidaya durian tidak bisa disamakan dengan komoditas hortikultura lainnya. Pohon durian memerlukan keseimbangan unsur hara makro dan mikro, kombinasi pupuk organik dan anorganik, hingga tambahan nutrisi seperti asam amino agar pertumbuhan tanaman tetap optimal.
"Kalau diibaratkan manusia, durian juga membutuhkan nutrisi yang lengkap. Tidak cukup hanya pupuk biasa. Semua harus seimbang agar pohon sehat dan menghasilkan buah berkualitas," jelasnya.
Selain itu, setiap lokasi kebun memiliki karakter agroklimat yang berbeda sehingga membutuhkan standar operasional budidaya (SOP) yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing daerah.
Membangun Sentra Durian Nusantara
Sebagai Ketua AKDI, Condro memiliki mimpi besar menjadikan Indonesia sebagai salah satu kekuatan utama durian dunia.
Ia ingin setiap daerah mengembangkan varietas unggul khasnya menjadi kawasan sentra produksi sekaligus destinasi wisata berbasis durian.
Beberapa daerah telah memiliki varietas unggulan seperti Cumasi dan Super Tembaga dari Sumatera, Mantuala dari Kalimantan, serta Bawor dari Pulau Jawa.
Potensi tersebut, menurutnya, harus dikembangkan secara terintegrasi agar mampu meningkatkan nilai ekonomi daerah sekaligus menarik wisatawan domestik maupun mancanegara.
"Kalau setiap daerah memiliki kawasan sentra durian yang kuat, bukan hanya petani yang diuntungkan, tetapi juga sektor pariwisata dan ekonomi masyarakat akan ikut tumbuh," katanya.
Condro juga mengajak generasi muda untuk tidak ragu terjun ke dunia perkebunan. Menurutnya, berkebun kini bisa dipadukan dengan berbagai model bisnis kreatif seperti kafe, agrowisata, hingga konten digital.
Proses budidaya, mulai dari penanaman, pemangkasan, perawatan hingga panen, dapat menjadi konten edukatif yang menarik di media sosial sekaligus membuka peluang usaha baru.
Ia juga mengingatkan para pekebun pemula agar tidak asal menanam. Pemilihan lokasi, ketersediaan air, kualitas bibit, kebutuhan nutrisi tanaman, hingga pengendalian hama harus dipelajari dengan baik agar investasi yang dilakukan mampu menghasilkan buah unggulan setelah lima hingga enam tahun.
Melalui AKDI, seluruh informasi mengenai standar budidaya, benih unggul, hingga pendampingan teknis telah disiapkan bagi masyarakat yang ingin mengembangkan kebun durian secara profesional.
"Berkebun durian membutuhkan kesabaran, ilmu, dan standar yang benar. Kalau semua dilakukan dengan baik, durian Indonesia bukan hanya berjaya di dalam negeri, tetapi juga mampu menjadi pemain utama di pasar dunia," pungkas Condro.