Senin, 22 April 2019


P3A Triguna Tirta, Bukan Sekadar Organisasi Pengelola Air

11 Peb 2019, 14:19 WIBEditor : Yul

P3A sebagai unit usaha

TABLOIDSINARTANI.COM, KULONPROGO - Sebagai salah satu bagian dari organisasi petani, harus diakui Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) memang kurang banyak terdengar. Namun siapa sangka, ternyata organisasi tersebut bukan sekadar mengelola air irigasi, tapi juga bisa menjadi bagian ladang usaha petani.

Salah satu P3A yang sukses mengembangkan diri dan patut menjadi contoh adalah P3A Triguna Tirta yang menjadi pengelola petak tersier Sri Kayangan seluas 215 ha di Daerah Irigasi Kalibawang, di Desa Sri Kayangan Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.

P3A Triguna Tirta mempunyai lima blok tersier dengan anggota sebanyak 919 orang petani maupun penggarap, seluruh anggota cukup aktif dalam aktivitas P3A. Organisasi itu melakukan pertemuan rutin lapanan tiap 35 hari yang digelar tiap Malam Sabtu Pon. Pertemuan itu sebagai media komunikasi dan koordinasi, serta sinkronisasi program kegiatan P3A. Pertemuan ini juga merupakan wahana knowledge sharing antar anggota P3A.

Kepengurusan P3A terdiri dari ketua, sekretaris, bendahara, seksi operasi (ulu-ulu), seksi pembangunan, dan seksi humas. Kepengurusan P3A mengedepankan transparansi pengurus terhadap anggota serta menerapkan pola kepemimpinan “Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani” sehingga pengurus sukses mendapatkan kepercayaan dari petani.

Peningkatan kompetensi SDM pengurus P3A diperoleh dengan berbagai pelatihan seperti pelatihan pengembanguan rencana kerja, desain partisipatif, konstruksi partisipatif, OP partisipatif, serta PSETK (Profil Sosial Ekonomi Teknik dan Kelembagaan).

Aktivitas yang dilakukan P3A Triguna Tirta sebagai satu kelompok P3A antara lain berpartisipasi mengusulkan pola tanam dalam rapat pengisian blangko 01-O yang diadakan pemerintah, mengikuti rapat rutin di tingkat GP3A Papah, serta berpartisipasi dalam penelusuran jaringan irigasi dan berbagai aktivitas pemeliharaan.

P3A Triguna Tirta juga mempertahankan budaya lokal dalam pertanian seperti budaya gotong royong membersihkan saluran dan budaya wiwit pada awal memanen padi. Secara hukum posisi P3A Triguna Tirta kuat karena telah berbadan hukum Nomor : 06 Tanggal 01 Desember 2009 Notaris ROSALIA DWI WIWIN RAHAYU, SH dan Terdaftar di Pengadilan Negeri Wates No : 53/Ak.Po/XII/2009/PN/Wt Tertanggal 11 Desember 2009. Kekuatan hukum sebagai organisasi digunakan untuk membangun jejaring kerjasama dengan lembaga lain di luar P3A.

Komoditas andalan di wilayah P3A Triguna Tirta adalah padi dan hortikultura. Padi ditanam di musim tanam pertama dan kedua. Sedangkan hortikultura terutama bawang merah ditanam pada musim tanam ketiga atau musim kemarau.

Pada budidaya padi, petani menerapkan teknologi terbaru yaitu melaksanakan PTT (Pengelolaan Tanaman Terpadu) dan SRI (System of Rice Intensification), melaksanakan PHT (Pengelolaan Hama Terpadu), penggunaan alsintan untuk mendukung tanam serentak, serta penggunaan alat pasca panen.

Ketua P3A Triguna Tirta, Supardal menuturkan pihaknya sebagai P3A berusaha untuk menjadi unit usaha di Desa Sri Kayangan meskipun usaha utamanya adalah pengelolaan air. “Karena kita sudah berbadan hukum, kita senantiasa melakukan kerjasama usaha dengan berbagai pihak. Tak terkecuali dengan BUMDES Binangun Mujur yang kini menjadi roda ekonomi di desa kami,” tuturnya.

Lebih lanjut Supardal mengatakan jika BUMDES menjadi saluran pemasaran dari produk pertanian yang ada di desanya. “Petani sudah merasakan bagaimana kerjasama ini berlangsung. Air lancar dan terkelola, tanaman berproduksi dan mendatangkan untung ditambah saluran pemasaran yang jelas. Semua senang,” tuturnya. Sehingga tidaklah sulit P3A untuk menggerakkan partisipatif masyarakat tani untuk memperbaiki jaringan atau sekedar merawat jaringan. “Karena memang rasa memilikinya sudah kuat dan merasakan sendiri manfaatnya,” pungkas Supardal.

Reporter : Gsh
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018