Sabtu, 17 Agustus 2019


H.M. Aleh, Selain Jualan Kopi, Piawai Tangkarkan Kopi Arabika

13 Jun 2019, 10:09 WIBEditor : Yulianto

H.M. Aleh di lokasi tempat penangkaran bibit kopi | Sumber Foto:Indarto

Dari hasil usaha warung kopi tersebut Aleh mampu meraup penghasilan sebesar Rp 600 juta/bulan. Meski sudah punya penghasilan lumayan besar dari warung kopinya, pria 47 tahun ini tetap tekun menangkarkan benih kopi di kebunnya

TABLOIDSINARTANI.COM, Bandung--- H.M. Aleh, adalah salah satu petani kopi yang bisa dibilang sukses mengembangkan kebun kopinya di Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Dengan lahan seluas 5 ha, ia bukan hanya menangkarkan benih kopi di kebun pesemaiannya, tapi juga menyajikan seduhan kopi di warungnya.

Dari hasil usaha warung kopi tersebut Aleh mampu meraup penghasilan sebesar Rp 600 juta/bulan. Meski sudah punya penghasilan  lumayan besar dari warung kopinya,  pria 47 tahun ini tetap tekun menangkarkan benih kopi di kebunnya. “Kebetulan kami punya lahan lumayan untuk menyemai kopi. Setiap tahun rata-rata kami bisa menangkarkan kopi jenis Arabika sebanyak 200-300 ribu pohon,” kata Aleh, di Bandung, Senin (10/6).

Aleh yang juga Ketua Koperasi Produsen Kopi Margamulya ini mengaku, menangkarkan kopi Arabika sudah puluhan tahun lalu. Kopi yang ditangkarkan diperoleh dari biji kopi Arabika yang berkualitas bagus. Biji-biji kopi tersebut ditebar di pesemaian yang sudah disiapkan. “Setelah biji kopi yang disebar di pesemaian daunnya tumbuh sepasang, benih tersebut kemudian kami pindahkan satu persatu ke polybag,” kata Aleh.

Menurut Aleh,  benih kopi yang ditangkarkan tersebut  pada umur 1,5 tahun  (setelah penanaman) sudah mulai panen kecil. Rata-rata produksinya sebanyak 0,5-1 kg/pohon. Apabila benih kopi tersebut sudah menginjak usia 3 tahun, maka produktivitasnya bisa meningkat hingga tiga kali lipat. “Rata-rata produksinya bisa meningkat sampai 3 kg/pohon,” ujarnya.

Aleh mengatakan, lahan seluas satu ha biasanya perlu benih kopi sebanyak 2.000 pohon. Sehingga, dalam satu ha produktivitas kopi yang ditanam petani kopi Pangalengan rata-rata sebanyak 2 ton. “Kalau harga  jenis kopi cherry saja sudah Rp 10 ribu/kg, petani sudah bisa mengantongi pendapatan sebesar Rp 20 juta/musim,” ujar Aleh.

Kopi yang ditanam petani Pangalengen biasanya memasuki musim panen raya pada Maret-Juli. Ketika memasuki  Agustus produksi kopi  di Pangalengen sudah mulai berkurang. Sedangkan pada bulan September tanaman kopi sudah mulau berbunga lagi.

Agar produktivitasnya tinggi, tanaman kopi harus dirawat dan diberi pupuk kandang. Tujuan perawatan ini supaya kopi yang ditanamn tiap tahun bisa menghasilkan buah yang bagus. Kami juga melakukan penyiangan secara  rutin, agar tak kena hama dan penyakit,"  papar Aleh.

Aleh mengatakan, benih kopi yang ditaruh di polybag  harus dilakukan perawanan. Agar benih kopi bisa tumbuh dengan sempurna, perlu penyiraman rutin  dan dijauhkah dari sinar matahari langsung. “Kami juga melakukan pengamatan langsung supaya benih yang kami tangkarkan terhindar dari hama,” ujarnya.

Selain menangkarkan benih kopi untuk kebutuhan petani anggota koperasi, Aleh juga bekerjasama dengan Dinas Perkebunan Jabar.  “ Kalau yang kerjasama tersebut benih kopi usia 7-12 bulan langsung diberikan secara gratis ke petani.  Apabila dijual ke petani harganya sekitar Rp 3.000/batang,” pungkas Aleh.

Reporter : Indarto
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018