
Peserta AUTP 2019 kian meningkat
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta— Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong petani untuk menjadi peserta asuransi usaha tani padi (AUTP). Dari target 1 juta ha, peserta AUTP hingga awal Desember 2019 sudah tercapai sebanyak 920 ribu ha. Jumlah peserta AUTP tahun 2019 tersebut meningkat sebanyak 12,5 persen apabila dibandingkan dengan jumlah peserta AUTP tahun 2018 yang hanya sebanyak 806 ribu ha.
“Apabila dibanding dengan tahun 2018, jumlah peserta AUTP pada tahun 2019 meningkat 12,5 persen,” kata Kepala Divisi Asuransi Agri dan Mikro PT Jasindo, Ika Dwinita Sofa, di Jakarta.
Menurut Ika, jika dilihat dari target 1 juta ha, sampai awal Desember 2019 belum terpenuhi. “Karena itu, kami berharap sampai akhir tahun ini bisa memenuhi target peserta AUTP sebanyak 1 juta ha,” ujarnya.
Ika juga mengatakan, peningkatan jumlah peserta AUTP sebenarnay sudah terlihat hingga pertengahan tahun ini. Sayangnya, dikarenakan kemarau panjang tahun ini, banyak petani yang belum tanam. “Kendati di sejumlah daerah sudah turun hujan, sampai semester II tahun ini masih banyak petani yang belum tanam padi. Sebab, frekuensi curah hujannya belum cukup untuk tanam padi,” papar Ika.
Kementan bersama PT Asuransi Jasa Indonesia (PT Jasindo), lanjut Ika, hingga saat ini terus melakukan sosialisasi AUTP ke petani. “ Mudah-mudahan target 1 juta ha peserta AUTP tahun ini tercapai. Karena, petugas PT Jasindo di lapangan sampai saat ini masih melakukan sosialisasi kepersetaan AUTP ke Poktan dan Gapoktan,” kata Ika.
Menurut Ika, dari peserta AUTP tahun ini, sebagian besar atau sekitar 80 persen didominasi petani dari Jawa. Dari jumlah tersebut (80 persen), sebanyak 40 persen adalah petani dari Jawa Timur (Jatim). Sedangkan, sisanya petani dari luar Jawa. “Petani Jawa masih mendominasi kepesertaan AUTP tahun ini. Karena petani padi umumnya terkonsentrasi di Jawa,” jelas Ika.
Ika mengatakan, untuk menjadi peserta AUTP sangat mudah. Artinya, petani bisa mendaftarkan secara online. Petani yang sudah menjadi peserta AUTP, hanya membayar premi sebesar 20 persen, atau Rp 36.000/ha/musim tanam. “Sebab, AUTP ini merupakan program pemerintah dalam rangka perlindungan petani. Petani yang mengikuti asuransi pertanian ini mendapat subsidi dari APBN,” ujarnya.
Bagi petani peserta AUTP bisa melakukan klaim apabila sawahnya sawahnya terkena bencana banjir, kekeringan, dan serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) Rp 6 juta/ha/musim tanam. “ Jadi, AUTP ini sangat menguntungkan dan sebagai program perlindungan petani. Petani yang sawahnya terkena banjir, kekeringan, atau serangan OTP bisa mengajukan klaim, dan setelah klaim tersebut kami bayar, petani bisa melanjutkan usaha taninya lagi,” jelas Ika.
Menurut Ika, diharapkan semua petani bisa menjadi peserta AUTP. Artinya, tak hanya petani yang lahannya rawan dari bencana banjir, kekeringan, dan serangan OPT saja yang menjadi peserta AUTP. Tapi, petani yang lahannya aman dari bencana tersebut diharapkan bisa menjadi peserta AUTP. .“Karena itu, kami bersama PPL terus melakukan sosialisasi. Biasanya, pada Desember terjadi lonjakan peserta AUTP. Untuk itu, kami berharap peserta AUTP pada tahun ini bisa mencapai target 1 juta ha,” paparnya.
Data PT Jasindo menyebutkan, pada tahun 2017 jumlah petani peserta AUTP mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2016. Tercatat, jumlah petani yang mengikuti AUTP pada tahun 2017 sebanyak 1.550.389 orang, atau meningkat pesat dibanding pada tahun 2016 yang jumlahnya hanya 917.309 orang .
Sedangkan luas lahan dari target 1 juta ha sawah petani yang bisa di-cover AUTP, per 30 November 2017 sudah tercapai 997 ribu ha dengan nilai premi sebesar Rp 179 miliar. Artinya, AUTP pada tahun 2017 sudah mencapai 99,7?ri target. Pada tahun 2017, peserta AUTP yang paling banyak berasal dari Jawa Timur (Jatim), Jawa Tengah (Jateng), dan Jawa Barat (Jabar). Tercatat, dari total peserta AUTP pada tahun 2017 sebanyak 60% masih berasal dari Jawa
Ika mengatakan, secara umum memang tak ada kendala dalam sosialisasi di lapangan. “Memang ada sejumlah daerah yang secara geografis aksesnya ke petani sangat sulit. Tapi, kami bersama dinas terkait tetap minta petani yang berada di daerah terpencil dan sulit terjangkau untuk mendaftar menjadi peserta AUTP,” papar Ika.
Menurut Ika, untuk petani yang lahannya relatif aman dari bencana banjir, kekeringan dan OPT perlu dilakukan edukasi secara terus-menerus. Sebab, lahan sawah yang dikelola petani yang bebas banjir dan kekeringan, belum tentu bebas dari serangan OPT. “Karena itu, sosialisasi kepada petani yang lahan sawahnya aman dari bencana banjir pun terus dilakukan,” paparnya.