Sunday, 05 April 2020


Pertanian sebagai Landasan Peradaban Bangsa yang Maju dan Adidaya

21 Feb 2020, 16:42 WIBEditor : Ahmad Soim

Pertanian adalah peradaban bangsa | Sumber Foto:pixabay.com

Presiden Amerika Serikat Abraham Lincoln membuat empat keputusan mendasar untuk membangun pertanian Amerika Serikat sehingga AS bisa bergerak menjadi negara maju dan adidaya.

Agus Pakpahan

Ekonom Kelembagaan dan Sumberdaya Alam

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Satu pertanyaan penting di antara banyak pertanyaan yang mendasar adalah apa pertanian dan apa peran fundamental pertanian bagi kehidupan manusia, khususnya negara bangsa?

Kelihatannya pertanyaan ini tampak sepele.  Tetapi kalau kita telaah dari satu tahap ke tahap yang lebih mendalam maka kita akan tertegun ketika menemukan kenyataan bahwa pertanian itu luar biasa kompleks atau rumit. Jadi, tak mengherankan apabila walaupun pertanian itu telah mengalami evolusi lebih dari 7000 tahun, masyarakat dunia masih harus bergelut dengan kebutuhan dasarnya, yaitu pangan.

Pemikir dunia dan juga sebagai Presiden ke-16 Amerika Serikat, Abraham Lincoln menemukan bahwa tidak ada kegiatan manusia yang lebih rumit dan kompleks daripada pertanian.  Menurut Lincoln untuk memahami pertanian ternyata kita harus memiliki pengetahuan yang mendalam akan sifat-sifat matahari, bintang, awan, hujan, udara, tanah, cacing, mikroorganisme, teknologi produksi, logistik, gastronomi, pasar, dan masih lebih banyak lagi aspek kehidupan manusia yang belum disebutkan.  Karena itu, tidak akan ada manusia yang mampu menguasai semua cabang ilmu dan teknologi yang berkaitan dengan seluruh aspek pertanian.

Dengan latar belakang pemikiran di atas, Lincoln ketika mendapatkan amanah sebagai Presiden Amerika Serikat, membuat empat keputusan mendasar untuk membangun pertanian Amerika Serikat: 1) Mendirikan Kementerian Pertanian, 2) mendirikan universitas dengan fokus pada pendidikan dan penelitian pertanian di seluruh negara bagian Amerika Serikat dengan nama Land Grant Universities di bawah naungan Morrill Act 1862, 3) menyediakan lahan untuk petani dengan luasan sekitar 65 hektar per unit usahatani di bawah naungan Homestead Act 1862, dan 4) bersamaan dengan itu perbudakan dihapus di muka bumi AS.

Kita bisa menafsirkan landasan yang dibangun Abraham Lincoln ini sebagai landasan pemerdekaan bangsa Amerika Serikat sehingga mereka bisa bergerak menjadi bukan hanya negara maju juga menjadi negara adidaya dunia.  Pemerdekaan pertanian dari keterbelakangan, eksploitasi, kemiskinan dan hal-hal yang senada itulah menempatkan pertanian dapat diartikan sebagai landasan peradaban.

Sebagaimana telah disinggung, usia pertanian diperkirakan sudah lebih dari 7000 tahun. Namun demikian dunia masih menghadapi berbagai masalah kemanusiaan yang sifatnya fundamental seperti kelaparan, kekurangan gizi, dan kemiskinan. Indonesia sendiri dewasa ini menghadapi masalah fundamental yaitu tingginya skor nilai Global Hunger Index (GHI) yang menunjukkan apabila Indonesia ingin mencapai nilai GHI sama dengan nilai GHI negara maju (GHI kurang dari 5) diperlukan periode waktu kurang lebih 80 tahun dengan asumsi apabila kecepatan penurunan nilai indeks GHI 2000-2018 tetap berlaku.

Jadi, apabila fenomena di atas dijadikan dasar dalam mengambil sudut pandang dan bertanya apa kiranya  peran pertanian bagi Indonesia, maka  kita akan menemukan bahwa peran pertanian bagi Indonesia adalah sebagai landasan peradaban bangsa dan negara Indonesia ke depan. 

Kondisi darurat di dalam ruang-lingkup peradaban dunia dewasa ini adalah menciptakan pertanian sebagai landasan peradaban dengan membangun solusi untuk kemanusiaan dan keadilan sosial seperti bencana kelaparan, kurang gizi, kemiskinan dan kerusakan lingkungan hidup.

Presiden Soekarno sendiri pada saat peletakkan batu pertama pendirian Fakultas Pertanian IPB, 1952, bahkan lebih keras lagi menyatakan bahwa pangan rakyat adalah persoalan hidup atau mati.  Di sinilah pertanian harus menjalankan perannya.

Menempatkan pertanian sebagai sumber untuk mendapatkan devisa melalui ekspor dari komoditas yang dihasilkan suatu bangsa bisa dijadikan sebagai suatu strategi.  Namun demikian, mengingat pertanian itu sumberdaya dasarnya adalah lahan di mana di dalamnya terdapat air, udara, plasma nutfah dan lain sebagainya, yang bisa digunakan untuk berbagai tujuan maka diperlukan perhitungan yang matang. 

Fungsi pertanian yang tidak bisa digantikan oleh kegiatan lain adalah menghasilkan kepastian pangan yang melimpah dengan kualitas terbaik dan terjangkau bagi/oleh seluruh rakyat.

Kasus-kasus kelaparan besar di dunia dapat dijadikan contoh. Misalnya, kasus kelaparan besar yang melanda Irlandia tahun 1845 ternyata bukan disebabkan oleh tidak ada makanan pada waktu gagal panen kentang di wilayah tersebut tetapi akibat komoditas  pangan lainnya yang dihasilkan di Irlandia diekspor ke Inggris (https://www.washingtonpost.com/archive/opinions/1997/09/27/the-irish-famine-complicity-in-murder/5a155118-3620-4145-951e-0dc46933b84a/).  Karena itu, ekspor komoditas pertanian biasanya menjadi kebijakan residual market yaitu hanya sisa kebutuhan pangan di dalam negeri yang akan diekspor. Bukan sebaliknya.

Belajar dari pengalaman kelaparan (famine) di Bangladesh pada tahun 1943 yang diperkirakan menelan korban antara  2.1–3 juta jiwa, menurut Amartya Sen, kelaparan tersebut bukan disebabkan oleh tidak tersedia pangan yang cukup ketika itu.  Penyebab utamanya adalah masyarakat pada umumnya terlalu miskin sehingga mereka tidak bisa membeli makanan yang dibutuhkan. 

Berdasarkan fakta ini Sen, pemenang Nobel dalam bidang ekonomi tahun 1998, melahirkan teori entitlement yang melandasi ketahanan pangan suatu bangsa yang menerapkan sistem ekonomi pasar. Keterbatasan daya beli sebagai penyebab kelaparan.

Kelaparan di Tiongkok yang menelan lebih sekitar 30 juta korban meninggal dunia selama periode 1959-1961 adalah akibat dari kebijakan produksi pangan yang keliru serta akibat dari berkembangnya budaya Asal Bapak Senang (ABS).  Artinya, para pejabat melaporkan produksi pangan meningkat padahal pada kenyataannya tidak (Smill, V.  https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1127087/pdf/1619.pdf).

Perkembangan peradaban dari mulai dengan peradaban berburu, meramu hingga pertanian menetap yang telah berlangsung selama lebih dari 7000 tahun itu ternyata tidak secara langsung akan memberikan tingkat kepastian bahwa kelaparan akan lenyap.  Dewasa ini lebih dari 820 juta jiwa atau sekitar 12 %  penduduk dunia yang masih menderita kelaparan (https://www.google.com/search?q=world+hunger+statistics+2019&oq=world+hungry+&aqs=chrome.4.69i57j0l7.7716j0j7&sourceid=chrome&ie=UTF-8).

Untuk kasus Indonesia, apabila kelaparan ini diukur oleh GHI di atas maka situasi kualitas sumberdaya manusia Indonesia juga masih menghadapi tantangan berat dalam mendapatkan pangan yang berkualitas serta jumlah dan komposisinya sesuai dengan standar kesehatan. 

Karena itu kita perlu memaknai bahwa pertanian adalah landasan untuk berkembangnya tingkat peradaban-peradaban selanjutnya sebagaimana dinyatakan oleh Norman Borlaug, pemenang Nobel Perdamaian tahun 1970,  “Civilization as it is known today could not have evolved, nor can it survive, without an adequate food supply”. (Norman Borlaug https://www.brainyquote.com/authors/norman-borlaug-quotes).

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018