Saturday, 29 January 2022


Gagal Bayar atau Gagal Pinjam?

25 Feb 2021, 14:16 WIBEditor : Yulianto

Persoalan permodalan menjadi masalah bagi petani saat mulai usaha | Sumber Foto:Dok.Medcom.id

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Tidak habis pikir, mengapa pelepas uang yang mendapat julukan lintah darat dan berkonotasi jelek itu bisa bertahan, bahkan tumbuh subur di pedesaan. Usaha itu berkembang seiring dengan permintaan pinjaman di pedesaan yang meningkat.

Nasabahnya tak pernah berkurang, dan mereka tak berhenti meminjam tak ubahnya orang ketagihan obat psikotropika. Mereka terus meminjam diseling nungggak sampai akhirnya teriak mengeluh dijerat hutang berbunga tinggi.

Mengapa mereka senang meminjam uang dari lintah darat, padahal tak kurang program pinjaman dari bank untuk usaha kecil sudah disosialisasikan. Bank pemerintah maupun swasta diharuskan menyediakan pinjaman untuk usaha kecil, termasuk petani. Mengapa mereka, para peminjam itu, bisa membayar lancar ke pelepas uang tetapi selalu menunggak ke bank pemerintah?

Ada hitung-hitungan menarik, lebih rumit dari hanya angka bunga bank, kalau membandingkan pinjaman dari pelepas uang di pedesaan dengan lembaga perbankan formal.  Bunga rendah belum jadi faktor penentu yang membuat bank jadi sumber pendanaan pertanian yang bisa diandalkan oleh petani.

Mengapa? Banyak faktor lain, seperti akses ke sumber pendanaan, kemudahan meminjam, persyaratan kolateral, waktu yang diperlukan dalam proses peminjaman, selain bunga. Bunga pinjaman dari pelepas uang dalam hitungan kasar adalah sekitar 4 persen per bulan atau hampir 50 persen per tahun.

Petani atau masyarakat desa bisa meminjam kapan saja, karena sumber pendanaan berada di pedesaan, malah boleh jadi tetangga rumahnya. Dengan jam kerja hampir 24 jam, bisa diketok pintunya tengah malam, prosedur yang sangat mudah, tanpa agunan dan bayar mingguan atau bahkan harian sehingga tidak terasa berat.

Selain itu, bisa meminjam untuk keperluan apa saja, bukan hanya untuk kegiatan produktif.  Bisa untuk keperluan sunatan, isteri melahirkan atau anak sakit. Nasabah bisa menunda pembayaran kapan saja, sangat fleksibel asal perhitungan bunga jalan terus. 

Bank formal, umumnya melalui program pemerintah, bunganya rendah bisa sampai 6 persen (di negara tetangga bisa sampai 3 persen bahkan lebih rendah lagi). Lokasinya berada di ibukota Kecamatan atau Kabupaten. Akses ke bank tidak selalu mudah kalau berbicara soal lokasi, apalagi kalau bicara soal prosedur, waktu dan biaya.

Perjalanan dari lokasi petani ke lokasi perbankan memerlukan biaya transportasi pulang pergi yang lumayan besar dibandingkan dengan besarnya pinjaman. Apalagi kalau urusannya memerlukan berkali-kali perjalanan. Belum lagi ada persyaratan agunan yang juga memerlukan waktu dan biaya dalam menyediakan dokumen.

Jika ada keharusan membayar pinjaman begitu panen tiba, justru pada saat harga produk ada pada posisi paling rendah, maka petani harus merelakan hasil panennya dijual dalam jumlah besar untuk membayar pinjaman. Jangan disepelekan berkurangnya uang yang dibawa pulang karena dibelanjakan untuk urusan lain yang sama sekali tidak produktif.

Nah, dengan kondisi ini, kita mungkin bisa mengapresiasi kembali konsep lama, yang mungkin namanya sekarang Bank Pertanian Unit Desa. Kalau tidak, jangan-jangan bank tidak perlu ketar ketir terjadi gagal bayar, karena petani akan mengalami gagal pinjam.  Bagaimana menurut petani?

 

Reporter : Memed Gunawan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018