Tuesday, 03 August 2021


Kendalikan Gulma dengan Ramah Lingkungan

16 Mar 2021, 15:32 WIBEditor : Yulianto

Pengendalikan gulma di lahan perkebunan | Sumber Foto:Dok. istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Selain hama dan penyakit tanaman, gulma menjadi salah satu penyebab yang dapat menurunkan produksi tanaman. Bahkan gulma bisa menjadi sarang hama dan penyakit.

Setidaknya ada empat jenis gulma yang dapat mengganggu tanaman yaitu gulma rerumputan (grasses), teki-tekian (sedges), daun lebar (broadleaves) dan pakis-pakisan (fern).

Untuk mengatasi gulma, petani biasanya menggunakan herbisida. Caranya ini dianggap paling efektif, hemat biaya dan tenaga untuk mengendalikan tanaman penggangu tersebut.

Herbisida selektif  dengan bahan aktif Ametrin, Diuron, Oksifluorfen, Klomazon dan Karfentrazon, berfungsi efektif untuk  gulma jenis tertentu. Sedangkan yang berbahan aktif Glifosat dan Paraquat efektif mengendalikan semua jenis gulma.

Namun penggunaan herbisida secara terus menerus diyakini akan menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan dan kesehatan petani, hewan peliharaan, bahkan tumbuhan itu sendiri. Beberapa jenis gulma juga akan menjadi resisten apabila disemprot dengan bahan yang sama secara terus menerus.

Reduktan Herbisida  

Guna mengatasi dampak negatif penggunaan herbisida, kini produsen mulai membuat produk yang ramah lingkungan. Misalnya, PT Pandawa Agri Indonesia salah satu perusahaan berbasis lifescience yang fokus pada pengembangan produk reduktan herbisida. Perusahaan tersebut baru-baru ini meluncurkan produk unggulan terbaru yaitu Weed Solut-ion di Jakarta Kamis (18/2).

Perusahaan yang berkantor pusat di Banyuwangi ini memproduksi produk reduktan herbisida ramah lingkungan dengan komposisi 70 persen bahan organik dan 30 persen bahan sintetik kimia relatif tidak beracun dan berbahaya.

WS adalah bahan yang dicampurkan dengan herbisida pada saat penyemprotan. WS diyakini mampu menghemat biaya perawatan pertanian atau perkebunan 10 – 40 persen. Produk  ini bukan herbisida, sehingga tidak bisa dipergunakan secara tunggal, namun harus dicampurkan dengan herbisida terlebih dahulu.

WS diyakini mampu mengurangi penggunaan herbisida hingga 50 persen dari dosis awal dan bekerja sebagai carrier yang mengikat bahan aktif herbisida dan membantu mencapai target gulma. Hasilnya akan lebih maksimal dan tidak mengakibatkan herbisida banyak terbuang percuma.

CEO dan Co Founder PT PAI, Kukuh Roxa mengatakan, sejak awal sudah menjadi komitmen perusahaan untuk terus berinovasi dalam membantu menciptakan dan mendorong industri pertanian dan perkebunan menjadi lebih sustainable, ramah lingkungan, aman untuk penggunaan dan hemat biaya.

Sekarang ini perusahaan tersebut sudah memasok produk reduktan ini ke lebih dari 20 perusahaan industri perkebunan, seperti sawit, karet, tebu hingga hutan tanaman industri dengan luasan lebih dari 1 juta hektar di seluruh Indonesia. Bahkan ada kemungkinan melakukan ekspor ke luar negeri yang sedang dijajaki potensi pasarnya.

“Kami berharap kedepan agar inovasi dan produk kami dapat terus meningkatkan keamanan dan keberlangsungan pertanian dan perkebunan Indonesia,” tegasnya.

 

Reporter : Iqbal
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018