Sunday, 09 May 2021


Capai Produktivitas Minimal 6 Ton/ha, Ini Rekomendasi Pupuknya

21 Apr 2021, 12:06 WIBEditor : Gesha

Aplikasi Pemupukan menjadi kunci peningkatan produksi (Insert : pengukuran pH tanah) | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Produktivitas pertanian rata-rata stuck di angka 5,2 ton per hektar sebenarnya masih bisa ditingkatkan hingga 6 ton per hektar. Kuncinya pada teknologi pemupukan dan keseimbangan hara tanah. 

"Rendahnya produktivitas padi di negara kita sebenarnya masih permasalahan klasik, yaitu terkait teknologi pemupukan dan keseimbangan hara tanah," ungkap Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP), Dr. Husnain, M.P., M.Sc, PhD dalam Focus Group Discussion (FGD) Rasionalisasi Aplikasi Pupuk dengan Teknologi Ramah Lingkungan dan 4.0, yang digelar TABLOID SINAR TANI, Rabu (21/4).

Diakui Husnain, hara tanaman memang bergantung pada kesuburan tanah, kondisi agroekosistem dan iklim. Sehingga, kebutuhan pupuk di masing-masing daerah akan berbeda-beda dari jenis tanah dan lokasi. "Bahkan kebutuhan hara dari tanaman juga berbeda dari jenisnya dan target produksi yang diinginkan," bebernya.

Contohnya untuk tanaman padi, membutuhkan unsur hara N sebanyak 17,5 kg per ton gabah, unsur P sebanyak 3 kg per ton gabah dan K sebanyak 17 kg per ton gabah.

Maka, jika ditargetkan produktivitas 6 ton per hektar maka, minimal membutuhkan 233 kg Urea, 50 kg SP 36 dan 170 kg KCL. 

"Namun perlu kita cermati, kondisi sekarang subsidi pupuk baru bisa mencakup 40 persen dari kebutuhan produksi padi nasional," tutur Husnain.

Tetapi di sisi lain juga, terjadi pemborosan pemupukan yang dilakukan petani saat menggunakan pupuk bersubsidi dan menyebabkan tanah menjadi jenuh serta kurang optimal menghasilkan.

"Penggunaan pupuk anorganik terus menerus dan tanpa pengembalian bahan organik. Pemupukan berimbang harus dilakukan. Bukan hanya pemberian NPK, SP36 dan KCL tetapi juga bahan organik, sangat diperlukan karena banyak unsur mikro yang mutlak dibutuhkan tanaman," jelasnya. 

Berbagai teknologi apliksi pemupukan yang tidak mudah diadopsi diakuinya masih menjadi kendala sehingga efisiensi pemupukan masih rendah, yaitu hanya 50 persen. "Pemupukan yang diberikan secara tidak pas, akan menyebabkan pupuknya hilang di permukaan air, tanah atau tercuci," urainya.

Namun, diungkapkan Husnain, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbang Pertanian) terus memberikan rekomendasi perbaikan dan aplikasi pemupukan yang bisa diikuti petani. 

Mulai dari peta status hara seluruh Indonesia, rekomendasi teknologi pemupukan berimbang untuk lahan sawah dengan paket teknologinya, teknologi pemupukan berimbang di lahan kering, rekomendasi pemupukan untuk lahan gambut hingga smart Soil sensor.

"Smart Soil Sensor menjadi terobosan teknologi advance menggunakan near infra red (NIR) dengan panjang gelombang 1300-2600 nm, yang digunakan untuk mengukur sifat kimia dan fisika tanah dan dilengkapi dengan rekomendasi pemupukan," ungkapnya.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018