Minggu, 14 April 2024


BRI Beri Kemudahan Debitur Akses KUR

17 Mar 2023, 04:07 WIBEditor : Yulianto

KUR BRI mengucur ke pelaku usaha penggilingan padi | Sumber Foto:Dok. SInta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Pertumbuhan penyaluran KUR Pertanian Bank BRI terbilang cukup besar. Pada Tahun 2022 saja sebesar Rp 252 triliun yang diberikan kepada 6,5 juta debitur. Bahkan KUR sektor pertanian membukuan angka tertinggi sebesar Rp 80,7 triliun untuk 2,2 juta debitur petani.   

Vice President Micro Sales Management Division Bank Rakyat Indonesia, Asep Nugraha Sukma mengatakan, pihaknya memberikan alokasi KUR untuk komoditas pertanian mulai dari padi, jagung, sawit, tebu, kopi, jeruk, porang dan tanaman hias menunjukkan pertumbuhan yang sangat signifikan.

“Dari 8 komoditi ini pertumbuhan Year on Year di bandingkan tahun 2021 menunjukkan angka diatas 25%,” katanya. Namun lanjut Asep, penyaluran KUR pertanian itu tidak berhenti pada delapan komoditas, ada komoditas lain yakni sapi potong, mix farming, karet, sayuran dan bawang merah.

Asep mencontohkan, di angka berjalan 2022 untuk sapi potong bisa mencapai Rp 9,2 triliun dari 260 ribu debitur, sedangkan untuk mix farming di angka Rp 9,6 triliun dengan 291 ribu debitur. “Artinya potensi yang ada saya yakini masih sangat jauh lebih besar secara akumuliasi bisa 4-5 kali lipat. Tentunya tidak hanya di tahun ini saja kami ingin capai, di tahun 2023 ini juga akan menjadi konsen kami,” ujarnya.

Untuk menggaet debitur lebih banyak lagi, Asep mengatakan, pihaknya memberikan penawaran khusus bagi pelaku usaha pertanian. Jika di sektor lain hanya boleh 2 kali pinjam, maka untuk sektor pertanian, perikanan, perkebunan dan peternakan bisa sampai 4 kali pinjam. “Ini dilakukan agar pelaku UMKM naik kelas,” ujarnya.

Terkait persyaratan, Asep mengatakan, untuk KUR Super Mikro dam KUR Kecil bagi yang baru memulai usaha akan ada relaksasi untuk persyaratan lama usaha. Jika kredit komersial persyaratan usaha minimal 2 tahun dan 1 tahun terakhir sudah menghasilkan laba, maka syarat yang berlaku saat ini hanya usaha berjalan minimal 6 bulan.

Enam bulan ini sebetulnya parameter yang memudahkan. Kenapa enam bulan? Ini agar proses pembiayaan yang dilakuan tepat sasaran. Jadi kami menghindari pelaku usaha UMKM dadakan,” katanya.

Tidak hanya itu, Asep menjelaskan, untuk usaha yang kurang dari 6 bulan tidak perlu berkecil hati. Karena usaha yang kurang 6 bulan tetap bisa mendapatkan fasilitas KUR dengan beberapa ketentuan yang dicek di awal. Misalnya, wajib mengikuti pendampingan kewirausahaa atau pendidikan UMKM dan aktifitas usahanya rutin.

Selain itu, pelaku tergabung dalam kelompok usaha. Bahkan jika memiliki anggota keluarga yang mempunyai usaha produktif bisa diketegorikan masuk dalam kategori nasabah. “Dengan ketentuan itu pelaku usaha sudah memiliki syarat sah bisa meminjam kredit super mikro,” katanya.

Dari sisi dokumen, Asep menegaskan sangat fleksibel. Dokumen yang pertama adalah kartu Tanda Penduduk (KTP) yang akan diverifikasi untuk bisa lolos di screening awal. Kedua, kartu keluarga atau akte ningkah, dan legalitas NIB/surat keterangan usaha yang cukup dibuat dari Kelurahan RT/RW. “Terkait syarat terakhir yaitu agunan, sampai pengajuan Rp 100 juta ini tidak ada. Artinya agunan diwajibkan yang di atas 100 juta,” tambahnya. 

Reporter : Herman
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018