Sabtu, 24 Februari 2024


Mengapa Kredit Pertanian Sulit Bertumbuh? OJK Bongkar Alasannya!

04 Okt 2023, 10:32 WIBEditor : Gesha

KUR (Kredit Usaha Rakyat), salah satu program pemerintah agar masyarakat mudah mendapatkan modal | Sumber Foto:Dok. Sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Meskipun pertanian merupakan salah satu sektor utama dalam perekonomian kita, mengapa kredit pertanian sulit untuk berkembang? Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akhirnya membongkar alasan-alasannya!.

Dalam sebuah laporan terbaru Surveillance Perbankan Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan bahwa penyaluran kredit ke sektor pertanian, perburuan, dan kehutanan di Indonesia telah mencapai angka mengesankan sebesar Rp473,71 triliun pada bulan Juni 2023. Namun, angka ini mewakili hanya 7,12 persen dari total kredit perbankan.

Meskipun terdengar signifikan, ternyata porsi ini masih dianggap rendah oleh OJK jika dibandingkan dengan kontribusi sektor pertanian terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) negara.

Bahkan, meskipun berada di urutan empat besar bersama dengan sektor industri pengolahan, perdagangan, dan rumah tangga, pertumbuhan penyaluran kredit kepada sektor pertanian ini melambat drastis pada paruh pertama tahun 2023, turun dari 10,14 persen dalam periode yang sama tahun sebelumnya menjadi 7,56 persen.

Dalam analisis mendalamnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyoroti beberapa faktor yang menjadi akar permasalahan rendahnya penyaluran kredit ke sektor pertanian di Indonesia.

Salah satu faktor utamanya adalah profil risiko petani yang tinggi, dipicu oleh kendala-kendala seperti skala usaha dan produksi petani yang rendah serta fluktuasi harga produk pertanian yang tak menentu.

OJK juga menyoroti tantangan struktural yang menyulitkan pengembangan sektor pertanian Indonesia. Tingkat kesejahteraan petani yang masih rendah, keterbatasan sumber daya alam, perubahan iklim ekstrem, dan ketidakpastian cuaca adalah beberapa masalah yang dihadapi.

El Nino yang diprediksi bisa menyebabkan kekeringan pada musim tanam utama dapat menghambat pasokan dan memicu inflasi akibat lonjakan biaya produksi. Infrastruktur pertanian yang belum memadai dan kekurangan tenaga kerja pertanian terampil juga menjadi hambatan serius.

Oleh karena itu, OJK menegaskan perlunya kerjasama antara pemerintah, lembaga otoritas, pelaku usaha tani, dan para pemangku kepentingan lainnya. Hanya melalui kerjasama yang terintegrasi dan solusi yang terarah, sektor pertanian Indonesia dapat melewati tantangan-tantangan ini dan berkembang secara berkelanjutan.

Dengan demikian, sektor ini dapat memberikan kontribusi lebih besar bagi perekonomian nasional, membuka pintu manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.

Reporter : NATTASYA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018