Kamis, 18 Juli 2024


Menghemat Biaya dan Lingkungan, Petani Pangandaran Beralih ke BBG

10 Jun 2024, 11:30 WIBEditor : Gesha

Converter kit Pompa dengan BBG | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Pangandaran --- Sejumlah kelompok Tani di Pangandaran mencoba inovasi baru dengan menggunakan bahan bakar gas (BBG) untuk mengurangi biaya yang terbuang akibat pemakaian BBM yang terlalu banyak.

Petani-petani dekat lahan persawahan di Desa Ciganjeng, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran, telah langsung menerapkan inovasi ini dengan mengganti bahan bakar dari BBM biasa menjadi Gas Elpiji 3 Kg pada mesin pompa air mereka.

Sejak tahun 2014, Kiswan, salah satu inovator pengguna BBG di Pangandaran, telah melakukan konversi dari BBM ke BBG.

Dia juga terlibat dalam distribusi pemakaian BBG sejak tahun 2016.

Menurut Kiswan, penggunaan BBG memberikan manfaat yang luar biasa bagi para petani.

Sebagai contoh, jika mesin beroperasi pada RPM sekitar 40, membutuhkan sekitar 9 liter BBM, tetapi dengan RPM di angka 60, kebutuhan BBM hanya sekitar 7 liter.

Kiswan juga menambahkan bahwa perbandingan tersebut setara dengan penggunaan satu tabung gas Elpiji 3 Kg.

Hal ini tentu sangat mengurangi anggaran dan memberikan keuntungan besar bagi pelaku usaha pertanian, perikanan, termasuk nelayan kecil.

Inisiatif Kiswan untuk mensosialisasikan penggunaan BBG kepada masyarakat bertani bertujuan untuk meringankan beban petani.

Dengan melimpahnya pasokan gas, ia berpendapat  orang-orang yang memiliki potensi membantu petani seharusnya memanfaatkannya.

"Tapi, jika memakai BBG dengan gas Elpiji 3 Kg dengan harga mahalnya Rp 25 ribu. Artinya, ada keuntungan bagi para petani lebih dari 300 persen," ujarnya.

Adanya BBG memangkas dan meminimalisir biaya operasional yang biasa dikeluarkan oleh pelaku usaha pertanian.

Kiswan menekankan bahwa hal ini membuat beban lebih ringan dan menguntungkan bagi para petani.

Secara teknis, untuk menggunakan BBG, perlu disiapkan gas Elpiji 3 Kg, regulator, selang gas, kontak on-off untuk pengaturan gas, dan Konverter Kit BBG.

Selanjutnya, selang dimasukkan ke dalam Manipol untuk proses penggunaan.

Kiswan menawarkan bantuan dalam penyetelan konverter kit kepada petani yang mungkin mengalami kesulitan. 

Tahmo Cahyono, Ketua kelompok Tani di Desa Ciganjeng, juga menyatakan bahwa inovasi penggunaan BBG sangat membantu para petani.

Dulu, mereka menghabiskan 5-6 liter BBM dalam sehari, tetapi sekarang hanya perlu satu tabung gas elpiji 3 Kg untuk dua hari.

Inovasi ini sangat membantu terutama saat kemarau, di mana sumber air irigasi berkurang.

Dengan BBG, mereka dapat menggunakan air dari sungai atau kolam untuk mengairi lahan persawahan.

Tahmo berharap agar Pemerintah, dari tingkat Pusat hingga Desa, dapat memberikan bantuan kepada petani untuk beralih dari BBM ke BBG.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018