Saturday, 08 August 2026


Di Tengah Ancaman El Nino, Petani Magelang Rasakan Manfaat Pompanisasi

17 Apr 2026, 14:54 WIBEditor : Yulianto

Mentan Amran saat kunjungan kerja di Desa Banyuurip, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang, Kamis (16/4).

TABLOIDSINARTANI.COM, Magelang---Di tengah adanya ancaman kemarau panjang El Nino, program pompanisasi terbukti memberikan manfaat besar bagi petani, khususnya yang berada di areal tadah hujan. Seperti pertani yang tergabung dalam kelompok Tani Sidodadi, Magelang, yang kini bisa menambah luas tanam karena adanya pompanisasi.

Ketua Kelompok Tani Sidodadi, Sarju mengaku, merasakan langsung manfaat program tersebut. Sebelumnya pertani hanya mengandalkan tadah hujan yang airnya tidak mencukupi sepanjang tahun. Namun kini, sekitar 18–20 hadari total 24 ha lahan petani sudah bisa terairi.

Bahkan Ia menambahkan, pompanisasi turut meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) padi di wilayahnya. “Dulu hanya bisa tanam sekali, sekarang sudah bisa sampai tiga kali dalam setahun,” katanya.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Magelang atas keberhasilannya meningkatkan produktivitas padi melalui program pompanisasi.

“Luar biasa Bupati Magelang. Pompanisasi sudah berjalan, yang sebelumnya hanya panen sekali kini bisa menjadi tiga kali dalam setahun. Ini karena pompa air sudah terpasang,” ujar Mentan Amran saat kunjungan kerja di Desa Banyuurip, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang, Kamis (16/4).

Ia menyoroti inisiatif pemerintah daerah dalam memanfaatkan sumber air sungai yang berada di bawah lahan sawah. Melalui pompanisasi, lahan pertanian kini dapat terairi sepanjang tahun tanpa bergantung pada hujan.

“Kalau tidak ada pompa, air hujan akan langsung mengalir ke sungai dan kembali ke laut. Seharusnya air itu kita manfaatkan untuk produksi pangan,” tegasnya.

Amran berharap program pompanisasi dapat diperluas ke berbagai daerah di Indonesia yang mengalami kekeringan, sehingga frekuensi tanam bisa meningkat dari satu kali menjadi dua hingga tiga kali dalam setahun.

“Kami telah menganggarkan Rp4–5 triliun untuk pompanisasi. Jika bisa menjangkau 1 juta hektare, maka potensi tambahan produksi mencapai 6 juta ton gabah,” jelasnya.

Ia optimistis strategi ini mampu meningkatkan produksi pertanian secara signifikan, sejalan dengan program cetak sawah baru dan optimalisasi lahan rawa. “Produksi bisa naik tajam hingga 13 persen melalui peningkatan luas tambah tanam,” tambahnya.

Menurutnya, konsep luas tambah tanam berarti lahan yang sama dimanfaatkan lebih intensif. Hitungannya, jika luas tanam bertambah 2 juta hadan setiap hektar menghasilkan 6 ton, maka akan ada tambahan 12 juta ton gabah atau sekitar 6 juta ton beras.

Dukungan penyuluh

Program ini juga mendapat dukungan dari Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP). Kepala BPPSDMP, Idha Widi Arsanti menegaskan, keberhasilan pompanisasi tidak lepas dari peran aktif penyuluh pertanian dalam mendampingi petani di lapangan.

“Penyuluh menjadi kunci dalam memastikan program pompanisasi berjalan optimal. Mereka tidak hanya membantu dalam aspek teknis penggunaan pompa, tetapi juga mendorong petani untuk meningkatkan indeks pertanaman dan mengelola air secara efisien,” ujarnya.

Ia menambahkan, BPPSDMP akan terus memperkuat kapasitas penyuluh agar mampu menjawab tantangan di lapangan, khususnya di wilayah tadah hujan dan daerah yang rentan terhadap perubahan iklim.

“Dengan pendampingan yang intensif dan berkelanjutan, kami optimistis program pompanisasi dapat meningkatkan produktivitas secara signifikan dan berkontribusi pada ketahanan pangan nasional,” katanya. 

Reporter : Osi W
Sumber : Polbangtan YOMA
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018