Saturday, 05 September 2026


Tetap Produktif Tanam Saat Kekeringan Melanda, Ini Kuncinya

01 Sep 2026, 12:33 WIBEditor : Yulianto

Petani sedang tanam padi

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Kekeringan melanda sejumlah sentra produksi pangan. Dengan optimalisasi pompanisasi, petani akhirnya tetap bisa berproduksi saat musim kemarau panjang tahun ini.

Penantian panjang selama 20 tahun akhirnya terjawab. Kelompok Tani Sumber Rezeki Tani, Desa Susukan, Kecamatan Susukan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, kini mendapatkan bantuan irigasi perpipaan sepanjang 2.400 meter dari Kementerian Pertanian.

Infrastruktur tersebut menjadi solusi penting bagi petani yang selama puluhan tahun menghadapi keterbatasan akses air. Dengan saluran irigasi yang kini tersedia, pasokan air ke lahan pertanian diharapkan lebih terjamin, termasuk saat musim kemarau, sehingga petani tetap dapat mempertahankan aktivitas tanam.

Ketua Kelompok Tani Sumber Rezeki Tani, M Saeproni mengatakan, pembangunan irigasi tersebut menjadi momentum penting bagi petani. Selama ini persoalan air menjadi salah satu kendala utama dalam menjalankan usaha tani.

Sementara itu progres penanganan dampak kekeringan akibat fenomena El Nino di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, per tanggal 29 Agustus 2026, dari total 3.450 ha lahan padi yang terdampak kekeringan di tujuh kecamatan. Setidaknya seluas 3.233 ha telah berhasil teraliri air, sementara sisa 217 ha masih dalam proses penanganan.

Penanganan dilakukan melalui optimalisasi pompanisasi dan normalisasi saluran irigasi di wilayah terdampak. Di Kecamatan Dekat, lahan padi berumur 40-45 hari setelah tanam seluas 397 ha telah teraliri 380 ha, menyisakan 17 ha yang masih dalam penanganan.

Kecamatan Karang Binangun dengan luas terdampak 248 ha pada tanaman berumur 30-40 hari setelah tanam telah tuntas teraliri seluruhnya. Penanganan serupa juga tuntas di Kecamatan Glagah, dengan luas terdampak 15 ha pada tanaman berumur 46-60 hari setelah tanam yang telah teraliri seluruhnya.

Kecamatan Kalitengah mencatat capaian penanganan terluas, yakni 1.855 ha lahan berumur 0 - 40 hari setelah tanam yang telah teratasi sepenuhnya melalui kombinasi pompanisasi dan normalisasi saluran. Sementara itu, Kecamatan Turi masih menyisakan pekerjaan terbesar. Dari 791 ha lahan terdampak berumur 0 - 45 hari setelah tanam, baru 622 ha yang teraliri, sedangkan 169 ha masih memerlukan penanganan lanjutan.

Kecamatan Sukodadi mencatat penanganan tuntas untuk 50 ha lahan berumur 25-30 hari setelah tanam. Adapun Kecamatan Sugio, dari 94 ha lahan berumur 25- 45 hari setelah tanam, telah teraliri 63 ha dengan sisa 31 ha masih dalam proses.

Penguatan Infrastruktur Air

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman dalam berbagai kesempatan menegaskan, air merupakan salah satu faktor utama dalam menjaga keberlanjutan produksi pertanian. Pemerintah tidak ingin petani kehilangan kesempatan tanam hanya karena persoalan ketersediaan air.

“Kita tidak boleh membiarkan petani kehilangan musim tanam karena kekurangan air. Karena itu pemerintah memperkuat irigasi, pompanisasi, embung, hingga rehabilitasi jaringan irigasi agar air sampai ke lahan pertanian,” ujar Amran.

Pemerintah kata Amran, telah menyiapkan strategi menghadapi kekeringan lahan akibat El Nino. Penanganan cepat, menurutnya, merupakan bagian dari langkah mitigasi yang telah disiapkan jauh sebelum ancaman kekeringan meluas, dengan pompanisasi dan perbaikan jaringan irigasi sebagai instrumen utama menjaga musim tanam petani.

Penguatan infrastruktur air menjadi bagian penting dalam menjaga produksi pangan nasional di tengah tantangan perubahan iklim. “Air adalah faktor penentu produksi. Karena itu, pompanisasi menjadi solusi cepat untuk memastikan sawah tetap mendapat pasokan air sehingga petani bisa terus tanam dan meningkatkan indeks pertanaman,” tuturnya.

Amran mengatakan, optimalisasi sumber air melalui pompanisasi menjadi salah satu langkah pemerintah untuk menjaga pertanaman tetap berjalan sepanjang tahun. Lahan yang sebelumnya hanya dapat ditanami dua kali ditargetkan dapat ditingkatkan menjadi tiga kali tanam.

“Ini harus kita resonansikan ke seluruh Indonesia. Dulu tanam dua kali, bisa tiga kali. Nanti kita sisir seluruh Jawa dan luar Jawa. Kita sisir semua yang ada sumber air, kita pasangkan pompa,” kata Amran.

Program pompanisasi sebelumnya memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan produksi padi di Pulau Jawa. Sekitar 100 ribu pompa yang dipasang telah mendorong tambahan produksi sekitar 2,8 juta ton gabah di Jawa. “Dulu kita pasangkan pompa kurang lebih 100 ribu. Hasilnya adalah meningkat untuk Jawa saja 2,8 juta ton gabah. Hampir tiga juta ton,” ujarnya.

Bantuan irigasi bagi petani tersebut merupakan bagian dari langkah Kementan memperkuat ketersediaan air pertanian di berbagai daerah. Pemerintah terus mempercepat pembangunan dan penguatan infrastruktur air untuk menjaga lahan pertanian tetap produktif, terutama menghadapi musim kemarau dan ancaman kekeringan.

Pada 2026, Kementan menargetkan pembangunan 89.600 unit kegiatan yang diproyeksikan mendukung pengairan sekitar 2,1 juta ha lahan pertanian. Program tersebut mencakup Irigasi Perpompaan (Irpom) sebanyak 17.400 unit dan Irigasi Perpipaan (Irpip) sebanyak 3.500 unit. Penguatan sumber air juga dilakukan melalui program pompanisasi sebanyak 56.000 unit yang ditargetkan mampu melayani sekitar 1,1 juta ha lahan pertanian.

Karena itu, Amran menegaskan pemerintah akan terus menyisir wilayah-wilayah yang memiliki sumber air tetapi belum optimal dimanfaatkan untuk pertanian. Pompanisasi akan diperkuat baik di Jawa maupun luar Jawa untuk memastikan lahan pertanian tetap produktif menghadapi musim kemarau.

Keberhasilan penanganan kekeringan tidak lepas dari sinergi lintas instansi. Kolaborasi seluruh pihak tersebut menjadi kunci percepatan pengairan lahan terdampak kekeringan di lapangan.

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018