Sabtu, 14 Desember 2019


Usaha Tani Kacang Hijau Menggiurkan, Pasar Ekspor Terbuka Lebar

19 Nov 2019, 13:53 WIBEditor : Gesha

Kacang hijau memiliki peluang yang menggiurkan untuk bisa ditekuni | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Kacang hijau menjadi komoditas tanaman pangan yang selama ini masih kurang mendapat perhatian. Namun sebenarnya potensi pasarnya cukup besar, bahkan permintaan ekspornya sangat besar, sehingga peluang usaha tani cukup menarik untuk digeluti petani.

Kepala Puslitbang Tanaman Pangan, Badan Litbang Pertanian, Harris Syahbuddin mengakui, selama ini kacang  hijau memang bukan menjadi komoditas utama, karena pemerintah masih fokus komoditas padi, jagung dan kedelai (pajale). Apalagi upaya pengembangan kacang hijau masih bersumber dari APBN.  “Karena banyak komoditas yang harus ditangani, sehingga tidak memungkinkan pengembangan dalam skala besar,” katanya.
 
Data Angka Ramalan I BPS 2018, produksi kacang hijau sebanyak 234.718 ton dengan luas panen 197.508 ha dan produktivitas 11,8 ku/ha. Daerah penghasil kacang hijau terbesar yakni Jawa Tengah yang berkontribusi sebesar 53 persen, Jawa Timur 20 persen dan NTB sebesar 11 persen. Sementara Kementerian Pertanian untuk tahun 2019 menargetkan produksi sebanyak 309 ribu ton.
 
Sebaran produksi kacang hijau di Indonesia yakni Jawa Tengah sebanyak 123.228 ton, Jawa Timur 52.403 ton, Sulawesi Selatan 20.476 ton dan NTB sekitar 14.227 ton. Rata-rata produktivitas tanaman mencapai 1-1,1 ton/ha.
 
Harris melihat peluang pengembangan usaha tani cukup besar. Apalagi kini Kementerian Pertanian melalui Badan Litbang Pertanian sudah mulai mengarahkan semua penelitian, termasuk varietas tanaman untuk tidak lagi berpikir untuk usaha rumah tangga, tapi untuk industri juga. Jadi pemulia tanaman harus berpikir menghasilkan varietas yang diminati kalangan industri. “Dengan industri, proses hilirisasi akan lebih cepat dan kontinuitas terjamin,” ujarnya.
 
Sementara bagi petani, dengan mengembangkan atau memproduksi komoditas yang sesuai kebutuhan industri, pendapatannya akan naik. Karena hasil produksi bisa langsung diserap industri, petani juga mendapatkan harga yang lebih baik. Selama ini yang banyak mendapatkan keuntungan dalam perdagangan komoditas pertanian adalah pedagang. “Bahkan di sisi lain akan memberikan dampak balik terhadap pengembangan riset pertanian,” katanya.
 
Saat ini Balai Penelitian Kacang dan Umbi-umbian (Balit KABI), Jember, telah menghasilkan varietas kacang hijau unggul yakni  Vima 1 hingga 5. Untuk Vima bernomor ganjil (1,3 dan 5) warna biji kusam, sedangkan Vima bernomor genap (2 dan 4) bijinya licin. Dari hasil penelitian ternyata produktivitasnya cukup tinggi hingga 2 ton/ha. Sedangkan rata-rata mencapai 1,5 ton/ha.
 
Kelebihan kacang hijau varietas Vima tersebut yakni berumur pendek di bawah 56 hari dan bisa panen serempak, sehingga petani bisa menghemat biaya panen. Dengan hampir 85 persen masak serempak menjadi daya ungkit industri.

Pasar Terbuka

Permintaan pasar kacang hijau ternyata cukup menggiurkan. Permintaan pasar dalam negeri bukan dari industri saja, tapi juga konsumsi langsung, khususnya dari pasar tradisional. Bahkan peluang ekspor juga terbuka.

Guru Besar IPB University, M. Firdaus mengakui permintaan pasar kacang hijau cukup besar, bahkan permintaan ekspor sangat baik. Meski saat ini Indonesia masih banyak mengimpor kacang hijau hingga 90 ribu ton, tapi kita juga sudah mampu mengekspor sebanyak 33 ribu ton dari total perdagangan dunia mencapai 1,072 juta ton. “Posisi Indonesia nomor sembilan sebagai negara eksportir atau hanya 2,7 persen. Eksportir nomor satunya Myanmar disusul China. Pasar ekspor terbesar adalah ke AS, Brasil, India, China dan Australia,” katanya.
 
Firdaus melihat dengan pasar yang masih terbuka tersebut, peluang Indonesia untuk mengisi cukup besar. Apalagi potensi pengembangan budidaya kacang hijau juga cukup luas. Beberapa wilayah Indonesia yang mempunyai lahan marginal seperti Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur cocok untuk usaha budidaya kacang hijau.
 
Bahkan di Jawa Tengah bagian selatan banyak lahan marginal yang bisa ditanami kacang hijau hingga dua kali. Pendapatan petaninya mencapai Rp 2,5 juta/bulan. "Jarang sekali ada satu komoditas dengan empat karateristik yaitu gizi bagus, bisa ditanam di lahan marginal, berpeluang untuk diekspor dan memberikan pendapatan,” tuturnya
Reporter : TABLOID SINAR TANI
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018