Friday, 27 November 2020


Strategi Mengubah Pola Bisnis di Tengah Pandemi Covid-19

22 Apr 2020, 21:59 WIBEditor : Clara

Eko Suhartanto saat menayangkan materinya di FGD Vcon Peluang Bisnis di Tengah Covid-19 | Sumber Foto:Agustin

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta--- Dengan adanya perubahan tatanan kehidupan saat pandemi Covid-19, Director of Learning Experience Universitas Prasetiya Mulya, Eko Suhartanto, salah satu perubahan yang paling nyata untuk distribusi pangan adalah dengan mengembangkan startup.

“Covid-19 ini memang membuat kita harus saling menjaga jarak. Makanya membuat aplikasi (startup) di distribusi pangan saat ini memang yang paling berkembang,” ungkapnya saat FGD Vcon ‘Meraup Untung Bisnis Pangan Petani Milenial di tengah Pandemi Covid-19’, Rabu (22/4).

Melihat perkembangan aplikasi distribusi pangan saat pandemi, memang mengalami kenaikana yang cukup drastis. Hal ini dilihat banyaknya perusahan startup di bidang pangan yang ditemui. Bahkan perusahaan retail yang tadinya hanya sebatas membuka toko (salah satu contohnya mini market), sekarang sudah menyediakan layanan pemesanan via online. Lalu nanti barang diantar oleh kurir atau ojek online.

“Ini tentu mengubah kebiasaan kita. Yang tadinya kita kalua ingin sesuatu pasti ke ke luar, sekarang cukup pesan via online. Nanti kurir atau ojek online dating. Tentu interaksi antar manusia secara langsung berkurang,” ungkap Eko.

Dalam dunia agribisnis, ada 3 bagian. Bagian pertama adalah di hulunya, yakni di petaninya. Kemudian produksinya di proses dan setelah itu oleh distributor dikirimkan ke retail. Di bagian akhir ini, konsumen membeli produk pada retail. “Kalau dilihat, yang melakukan interaksi langsung yang paling sering adalah di bagian muaranya, yakni antara retail dan konsumen. Jadi yang perlu dikurangi interaksinya adalah di bagian muara ini. Caranya ya dengan pembelian secara online. Ini yang polanya diubah,” terang Eko.

Eko mengatakan sampai detik ini, kasus orang yang terkena Covid-19 kebanyakan karena adanya interaksi langsung dengan orang yang terpapar. Belum ada ceritanya mereka tertular dari pangan. Walaupun tertular dari kemasannya karena kemasan tersebut terkena droplet dari orang yang terpapar. “Nah, di sini caranya para distributor adalah menciptakan produk yang terpecaya, bersih dan packingnya aman. Packing yang aman ini yang menjadi membawa kepercayaan terhadap orang-orang untuk mengkonsumsiny produk tersebut,” jelasnaya.

Selama ini kalau melihat packing produk pertanian, terutama yang yang milik perusahaan besar, pasti kita percaya dengan kebersihannya. Ditambah packingnya juga meyakinkan. Tetapi di tengah pandemi, Ketika orang membeli sesuatu, agar tidak tertular, produk tersebut Ketika sampai di tangan langsung dilakukan Tindakan pembersihan kemasan dahulu.

Eko menceritakan sejak adanya pandemi ini, ketika dirinya membeli sesuatu, apabila sudah sampai di tangan, langsung dilap dahulu dengan tissue yang mengandung alkohol. Ini caranya untuk mensterilkan produk yang dipesannya agar lebih higiensi dan menghindari penyakit.

“Di sini saya memberi saran, sekarang kan pola kehidupan manusia berubah. Jauh lebih higienis. Jadi bagaimana perusahan pengemasan, menyertakan 2 lembar tissue alcohol yang dikemas kecil seperti kantung teh. Jadi jauh lebih praktis dan tentu ini menumbuhkan kepercayaan masyarakat saat ini,” jelasnaya.

Jadi agar agribisnis dapat terus berjalan lancer di tengah pandemi, perlu diadakannya beberapa perubahan. Untuk di petani jelas, harus diberikan pengertian dan pengetahuan menganai SOP langkah-langkah yang dilakukan agar menghindari virus. Lalu di pengolahan dan distributor, haraus menciptakan kemasan yang dapat dipercaya bahwa kemasan tersebut aman, bersih, dan higienis. 

Reporter : Agustin
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018