Saturday, 26 September 2020


Buah Naga Kuning, Bisnis Emas Asroful Uswatun

23 Jun 2020, 15:45 WIBEditor : Yulianto

Asroful Uswatun saat di ladang buah naganya di Jember | Sumber Foto:Asroful Uswatun

TABLODISINARTANI.COM, Jember---Umumnya buah naga memiliki kulit berwarna merah. Tapi siapa sangka, meski tidak banyak, ternyata di Indonesia sudah ada buah naga yang berkulit kuning.

Prospek bisnis buah naga kuning sendiri cukup menggiurkan. Karena keberadaannya yang masih langka, sehingga harganya masih cukup mahal  antara Rp100.000-225.000/kg.

Salah satu petani yang membudidayakannya adalah Asroful Uswatun. Perempuan asal Jember tersebut sudah lumayan lama menggeluti budidaya buah ini.  Rasa yang lebih manis dan kandungan air yang lebih tinggi dibandingkan buah naga berkulit merah pada umumnya, menjadikan buah naga kuning memiliki keunikan tersendiri," ungkapnya.

Selain itu, buah naga kuning ini juga dipercaya mempunyai kandungan antioksidan dan karoten yang tinggi. Sehingga tidak heran kalau buah naga kuning banyak diminati terlebih pada masa pandemi Covid-19 seperti saat ini.

“Permintaan buah naga, terutama buah naga kuning, tidak mengalami penurunan di masa sulit seperti saat ini,” ujar pemilik usaha Mitra Tani Unggul. Dalam usahanya, Uswatun melakukan kemitraan dengan petani di sekitar wilayahnya. Bahkan petani dari luar Kabupaten Jember seperti Bali.

 

Cocok di Dataran Tinggi

Uswatun mengungkapkan, jika buah naga kuning lebih cocok ditanam pada dataran tinggi dengan ketinggian antara 600 – 1.500 mdpl. Untuk Kabupaten Jember, buah naga kuning banyak dibudidayakan di daerah Batu. "Dari segi budidaya, buah naga kuning mempunyai masa panen yang lebih singkat dari pada buah naga jenis lain, dari masa berbunga sampai berbuah," lanjut dia.

Tetapi dari segi perawatannya, menurutnya, buah naga kuning yang memiliki batang yang kecil ini lebih sensitif, sehingga membutuhkan perawatan yang sangat intensif.

Meskii budidaya buah naga kuning perlu perhatian lebih, tetapi sebanding dengan keuntungan yang didapat. Di pasar modern, buah naga kuning dengan Grade A dihargai Rp 225.000 – 250.000/kg yang berisi kurang lebih 4 buah.

Sedangkan untuk Grade B dan C biasanya dijual secara online dengan kisaran harga jual antara Rp100.000–175.000/kg. Sementara untuk buah naga merah harganya hanya berkisar antara Rp 20.000-40.000/kg.

Selain menjual buah naga kuning, kami juga berusaha memenuhi permintaan benihnya. Cukup kewalahan memenuhi permintaan pasar karena kami hanya dapat menyediakan 5.000 benih per bulan," ujar dia. Padahal permintaan dari berbagai daerah seperti Bandung, Bogor, Medan, Batam, Pontianak, Makassar dan Jayapura mencapai sekitar 50.000 benih/bulan.

Di tengah masa pandemi ini, Uswatun berharap situasi yang tidak kondusif bisa cepat berlalu. Meskipun, situasi sekarang ini dirasakannya cukup berat, namun ia optimis usaha di bidang buah-buah bisa terus berkembang. Baik untuk memenuhi kebutuhan konsumsi di dalam negeri maupun untuk ekspor.

Masuk Pasar China

Secara terpisah, Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto mengatakan bahwa buah naga merupakan salah satu buah unggulan nasional. Pria yang akrab disapa Anton ini mengatakan, buah naga sangat diminati pasar internasional. Hal ini dibuktikan dengan nilai ekspor buah naga tahun 2019 senilai 210.463 dollar AS. Meningkat dibanding tahun sebelumnya yang hanya sebesar 143.473 dollar AS.

Dalam beberapa kesempatan, Anton mengungkapkan akan terus meningkatkan pengembangan buah unggulan sehingga dapat menembus pasar ekspor. Ini selaras dengan arahan Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo. “Semoga dengan pasar ekspor buah naga yang semakin terbuka lebar, dapat sejalan untuk peningkatan ekspor buah naga, terutama ke negeri tirai bambu yang pasarnya besar," katanya.

Saat ini dengan sudah terbukanya akses pasar ke China, sudah 4 produk hortikultura yang telah sukses masuk ke pasar China yaitu Lengkeng, Pisang, Salak dan Manggis. Kini satu lagi produk unggulan hortikultura yakni buah naga yang tengah dipersiapkan masuk pasar China dengan memenuhi persyaratan ekspor yang ditetapkan negara tersebut.

Adapun persyaratannya antara lain adalah buah naga berasal dari kebun dan packing house yang sudah teregistrasi. Berdasarkan data registrasi kebun buah naga per Januari 2020, lahan buah naga yang telah teregistrasi seluas 129.648, 68 ha. Tersebar di Jawa Timur, Jawa Tengah dan Bali.

Di Indonesia saat ini terdapat lima (packing house) yang telah diregistrasi oleh Otoritas Kompeten Keamanan Pangan baik pusat maupun daerah. "Semoga dengan terpenuhinya persyaratan ini, buah naga kita segera bisa ekspor ke negeri Cina", tambahnya

Direktur Buah dan Florikultura Ditjen Hortikultura, Liferdi Lukman memberikan apresiasi kepada petani buah naga Kabupaten Jember yang mampu menghasilkan buah naga bermutu, bahkan di tengah Pandemi Covid-19.  Di tengah kondisi yang sulit seperti ini, sangat baik jija kita tetap menghasilkan produk bermutu yang dapat dikonsumsi masyarakat, sekaligus dapat menghasilkan pundi kesejahteraan untuk petani,” katanya.

Liferdi mengatakan, pihaknya terus mendorong petani melakukan penerapan budidaya sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) yang mengacu pada Good Agricultural Practices (GAP), sehingga produk yang dihasilkan sesuai dengan tuntutan pasar baik dari segi kualitas maupun kuantitas.

Reporter : Kontributor
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018