Saturday, 24 October 2020


H. Danuri Ajak Korban PHK Covid-19 Bertanam Sayur

21 Sep 2020, 15:44 WIBEditor : Yulianto

Usaha tani sayuran menjadi penyangga saat pandemi Covid-19 tak kunjung reda | Sumber Foto:Dok. Humas Ditjen Horti

TABLOIDSINARTANI.COM, Bandung---Pandemi Covid-19  membuat banyak masyarakat kehilangan mata pencarian, karena menjadi korban Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Untuk membantu mereka, H. Danuri pun mengajak untuk menggarap lahan bertanam sayuran.

H. Danuri menjadi salah satu petani yang sukses bertanam sayur sekaligus pengusaha kopi. Dirinya tak pernah bosan mengajak masyarakat untuk terus berbudidaya sayur-sayuran. Bertanam dapat memenuhi kebutuhan dalam jangka pendek, karena masa panennya yang cepat,” katanya.

Karena itu, Ketua Kelompok Tani Rahayu asal Pengalengan, Kabupaten Bandung  ini kini menampung 180 petani baru. Sejumlah besar petani ini sebagian besar dari ibu kota dan merupakan korban PHK akibat pandemi Covid-19. Mereka bahkan bertekad tidak akan kembali ke kota  karena merasa kebutuhan hidupnya tercukupi dengan baik di sin,” paparnya.

Kepala Bidang Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Bandung, Jumhana mengakui,  meski ada pandemi Covid-19, usaha tani hortikultura, khususnya sayuran tidak terlalu berdampak. Permintaan sayur-sayuran terus mengalir.

“Apalagi dengan pasar tani, produk petani dibuat paket-paket murah meriah. Petani terbantu dan kebutuhan konsumenpun dapat terpenuhi. Kita bantu juga suplai produk petani ke pasar, ujar Jumhana.

Ketua Pasar Tani Kabupaten Bandung, Titi Rumsity mengatakan, dengan adanya pasar tani sangat membantu petani, terutama saat harga tidak bersahabat. Selain itu konsumen juga butuh meningkatkan imun tubuh. Dengan demikian, pasar tani inilah yang menjembataninya.

“Dengan dibuat paket-paket yang disalurkan ke masyarakat, dalam satu hari bisa ribuan paket. Walaupun Covid, permintaan masih banyak. Orang lain lockdown, namun permintaan masih saja terus mengalir. Inilah pentingnya koordinasi dan komunikasi dengan pembina pasar tani dan bahkan jemput bola untuk memenuhi permintaan ini. Intinya pasar tani sangat membantu untuk kelancaran pemasaran kami,” tutur Titi.

Menyikapi hal tersebut, Pasar Tani Sabilulungan di bawah binaan Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Bandung berinisiatif menawarkan paket sayuran ke berbagai lembaga pemerintahan dan swasta di Kabupaten Bandung. Gayung bersambut, rata-rata permintaan setiap minggu mencapai 2000 paket sayuran dibanderol Rp 15 – 20 ribu.

Para petani menyiapkan variasi paket sayuran yang kemudian dipasok ke pasar tani atau bahkan memenuhi berbagai pesanan dari kantor-kantor pemerintahan. Kondisi ini diakui, Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto, kembali menggairahkan petani untuk bertanam sayur dan mengatur pola tanam guna memenuhi permintaan pasar.

Aneka produk sayuran terus dibudidayakan oleh petani. Sekalipun pandemi, permintaan masih terus ada. Masyarakat menyadari bahwa mengkonsumsi sayur-sayuran dapat meningkatkan imun tubuh," ujarnya.

Sekretaris Ditjen Hortikultura, Retno Sri Hartati Mulyandari mengatakan, pasar tani ini harus menggurita di seluruh Indonesia. Keberadaannya menjadi solusi paling tepat di saat pandemi ini. “Kita bantu petani dalam mendistribusikan produknya. Kita bantu petani untuk sewa gudang penyimpan produk hortikultura sebelum dibawa ke pasar,” ujarnya.

Sifat produk hortikultura yang cepat rusak, menurutnya, membutuhkan mesin berpendingin sederhana di beberapa lokasi pasar tani. Bahkan petani harus dilatih untuk mengolah produknya, sehingga tidak ada lagi produk yang terbuang saat over produksi, termasuk menyiapkan alat pengolahannya.

 

Reporter : Kontributor
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018